Site icon sasagupapua.com

Ancaman Kebakaran, Anggota DPRP Yulian Magai Minta Warga Waspada Musim Kemarau

DPR Papua Tengah, Yulianus Magai

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah –Masyarakat di wilayah Papua Tengah diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan seiring dengan panjangnya musim kemarau saat ini.

Anggota Komisi IV DPR Papua Tengah, Yulian Magai, mengingatkan warga agar tidak sembarangan membakar sampah, membuka lahan baru, maupun membiarkan anak-anak bermain korek api di sekitar permukiman.

“Musim kemarau yang berkepanjangan ini sangat membahayakan. Hati-hati, anak-anak harus dilarang memegang korek api dan harus diawasi agar tidak membakar sampah, atau apa pun bentuknya. Kalau mau membakar harus hati-hati karena saat ini musim kemarau sangat berbahaya,” ujar Yulian saat diwawancarai, Senin, (27/7/2026).

Yulian menyoroti kebiasaan warga di yang kerap membakar rumput atau membersihkan lahan tanpa pengawasan ketat. Menurutnya, hembusan angin kencang di musim kemarau dapat dengan mudah menerbangkan percikan api dan memicu kebakaran besar.

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya atas minimnya fasilitas penanggulangan bencana, khususnya armada pemadam kebakaran di Kabupaten Nabire dan sebagian besar di wilayah Papua Tengah.

“Saat angin bertiup, api menyala ke mana-mana dan tidak bisa dihindari karena fasilitas pemadam kebakaran di Kabupaten Nabire, maupun Papua Tengah keseluruhan, sangat minim. Kapasitas yang memadai hanya ada di Timika, dan itu pun bukan milik pemerintah, melainkan milik PT Freeport Indonesia,” ucapnya.

Mengingat keterbatasan fasilitas tersebut, Yulian meminta warga yang berada di perkebunan, lahan pertanian, maupun kawasan hutan untuk meningkatkan kewaspadaan guna mencegah bencana kebakaran seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

“Oleh karena itu, orang yang membakar di kebun, di lahan, atau di hutan harus waspada. Sebelum terjadi, jangan seperti tragedi tahun 1980-an di mana hutan terbakar semua, apalagi seperti kebakaran lahan di Sumatera yang membahayakan rumah penduduk, perkebunan kelapa sawit, dan lahan pertanian,” tambahnya.

Selain pembukaan lahan, ia juga mengimbau para perokok agar lebih berhati-hati dalam membuang puntung rokok demi menghindari potensi kebakaran di tempat sampah maupun lingkungan sekitar.

“Sebelum terjadi harus waspada, waspada, dan waspada. Jangan membawa korek sembarangan, dan pembuangan puntung rokok ke tempat sampah harus dipadamkan dulu baik-baik supaya tidak membakar tempat itu dan sekitarnya,” pesan Yulian.

Dampak dari kebakaran lahan ini, lanjut Yulian, tidak hanya menimbulkan kerugian material akibat rusaknya bangunan dan lahan, tetapi juga memicu polusi udara parah yang mengancam kesehatan masyarakat.

“Sekarang coba lihat, hari ini di kawasan SP ada kebakaran sehingga udara tertutup kabut seperti mendung karena asap. Asap itu polusi yang mengganggu pernapasan manusia maupun hewan. Oleh karena itu, kita harus hati-hati membakar hutan, lahan, maupun pekarangan rumah, apalagi sekarang kami dengar di pedalaman banyak rumah yang terbakar,” ujar politisi tersebut.

Ia merinci bahwa polusi udara akibat asap kebakaran dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari batuk, pilek, sesak napas, hingga risiko penyakit tuberkulosis (TBC).

“Membuat asap yang merugikan itu ada dua dampaknya: pertama, kebakaran lahan atau rumah membuat kita rugi secara material; kedua, asap yang naik ke udara menimbulkan polusi bagi manusia yang menghirup udara segar, sehingga membuat orang batuk, beringus, sesak napas, dan segala macam, termasuk TBC,” jelasnya.

Menutup keterangannya, Yulian kembali menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat, baik orang dewasa, pemuda, maupun anak-anak, untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan menahan diri dari aktivitas pembakaran lahan.

“Oleh karena itu, waspada dan waspadalah supaya tidak membakar hutan, lahan, sawah, atau tempat sampah karena itu sangat membahayakan manusia. Jadi, harus hati-hati memegang korek, terutama anak-anak di rumah, agar rumah, lahan, dan hutan kita tidak terbakar. Akibatnya kita rugi material dan fisik hancur karena sakit pernapasan, sebab asapnya naik ke udara dan dihirup oleh manusia di bumi. Jangan membuka lahan baru dengan cara ditebang lalu dibakar, karena nanti lahan di sekitarnya ikut terbakar. Hati-hati semuanya, cuaca panas di akhir-akhir ini sangat membahayakan,” tutup Yulian.

Exit mobile version