Menu

Mode Gelap

Peristiwa · 9 Mei 2026 15:39 WIT

Aparat TNI Bubarkan Nobar ‘Pesta Babi’ di Ternate


Dandim 1501 Ternate Letkol Inf Jani Setiadi (baju putih) saat berdialog dengan penyelenggara pesta babi. Aparat meminta penyelenggara hentikan pemutaran film dokumenter pesta babi. (Foto: Capture video IG Aji Ternate) Perbesar

Dandim 1501 Ternate Letkol Inf Jani Setiadi (baju putih) saat berdialog dengan penyelenggara pesta babi. Aparat meminta penyelenggara hentikan pemutaran film dokumenter pesta babi. (Foto: Capture video IG Aji Ternate)

SASAGUPAPUA.COM, Ternate– Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di kawasan Benteng Oranje dibubarkan aparat TNI pada Jumat malam, 8 Mei 2026. Pembubaran kegiatan tersebut memicu kecaman dari Aliansi Jurnalis Independen Ternate yang menilai tindakan aparat sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi sipil.

Kegiatan yang diselenggarakan AJI Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) itu awalnya dijadwalkan berlangsung dengan agenda pemutaran film dan diskusi terkait isu lingkungan serta persoalan sosial.

Upaya pembubaran disebut sudah dimulai sejak panitia melakukan persiapan sekitar pukul 19.30 WIT. Sejumlah anggota Babinsa dan intelijen TNI mendatangi lokasi kegiatan sambil mendokumentasikan seluruh aktivitas persiapan nobar.

Sekitar pukul 21.00 WIT, aparat dari Kodim 1501/Ternate kembali mendatangi lokasi dan meminta panitia menghentikan kegiatan pemutaran film. Meski demikian, panitia tetap berupaya melanjutkan agenda yang telah direncanakan.

- Advertising -
- Advertising -

Film dokumenter karya watchoc itu akhirnya diputar sekitar pukul 21.30 WIT dan dihadiri jurnalis, aktivis lingkungan, anggota AJI Ternate, serta SIEJ.

Tidak lama setelah pemutaran berlangsung, Dandim 1501 Ternate Letkol Inf Jani Setiadi bersama sejumlah personel TNI kembali mendatangi lokasi dan meminta pemutaran dihentikan. Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Rinto Taib, yang sebelumnya memberikan izin penggunaan lokasi, serta Sekretaris SIEJ, Ikram Salim, kemudian dipanggil untuk berkoordinasi dengan aparat.

Dalam dialog tersebut, panitia menjelaskan bahwa film *Pesta Babi* berkaitan dengan isu lingkungan dan memiliki relevansi dengan berbagai persoalan ekologis di Halmahera yang selama ini menjadi perhatian jurnalis lingkungan.

Namun aparat tetap meminta pemutaran dihentikan dengan alasan isi poster dan film dianggap sensitif serta berpotensi memicu konflik di tengah masyarakat. Aparat juga mengaku menerima penolakan dari sebagian warga di wilayah Gamalama terhadap pemutaran film tersebut.

Setelah negosiasi berlangsung, aparat meminta agenda nobar dihentikan dan kegiatan hanya diperbolehkan dilanjutkan dalam bentuk diskusi.

Ketua AJI Ternate, Yunita Kaunar, mengecam tindakan aparat TNI yang dinilai telah melakukan intimidasi terhadap kegiatan sipil yang sah dan terbuka untuk umum.

Menurut Yunita, pemutaran film dokumenter dan diskusi merupakan bagian dari kebebasan berekspresi serta hak warga untuk memperoleh informasi sebagaimana dijamin dalam konstitusi.

“Ini bukan sekadar pembubaran nobar film, tetapi bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga. Aparat tidak seharusnya menjadi pihak yang menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh ditonton masyarakat,” tegas Yunita.

Ia menyebut kehadiran aparat sejak awal kegiatan, termasuk tindakan mendokumentasikan panitia dan peserta, telah menciptakan rasa takut dan tekanan psikologis terhadap warga yang hadir.

“Cara-cara represif seperti ini mengingatkan publik pada praktik pembungkaman di masa lalu. TNI seharusnya fokus pada fungsi pertahanan negara, bukan masuk terlalu jauh mengintervensi kegiatan sipil, diskusi publik, maupun kerja-kerja kebudayaan,” ujarnya.

AJI Ternate juga menilai alasan potensi konflik yang disampaikan aparat tidak dapat dijadikan dasar pembubaran kegiatan, terlebih kegiatan tersebut berlangsung damai dan tidak mengandung unsur provokasi.

“Kalau setiap karya kritis dianggap ancaman lalu dibungkam, maka demokrasi sedang berada dalam situasi berbahaya. Negara tidak boleh kalah oleh ketakutan terhadap diskusi dan film dokumenter,” kata Yunita.

Ia menegaskan AJI Ternate bersama jaringan masyarakat sipil akan menyikapi peristiwa tersebut karena dinilai mencederai kebebasan berekspresi, kebebasan pers, dan hak publik untuk berdiskusi secara terbuka.

Sekitar pukul 23.00 WIT, setelah dialog panjang antara peserta dan aparat, pemutaran film akhirnya resmi dihentikan.

penulis : Tim
Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Harapan MRP Papua Tengah: Buku Tragedi Dogiyai Jadi Alat Pembuka Mata untuk Keadilan

8 Mei 2026 - 17:23 WIT

Jeritan Dari Waa Banti: Araminus Omaleng Beri Kritik Keras ke Freeport

8 Mei 2026 - 16:07 WIT

Mahasiswa Puncak Ancam Demo Nasional

7 Mei 2026 - 23:25 WIT

SMI-KP Bedah Dampak DOB Paniai

7 Mei 2026 - 22:43 WIT

Demo USWIM: Mahasiswa Tuntut Hak, Rektor Janji Benahi Kampus

7 Mei 2026 - 12:20 WIT

Komnas HAM Papua Ungkap Kendala Penyelidikan Tragedi Dogiyai: Dari Trauma Saksi hingga Hambatan Rekonstruksi

6 Mei 2026 - 08:14 WIT

Trending di Peristiwa