SASAGUPAPUA.COM, Dogiyai — Pembangunan ekonomi daerah tidak cukup hanya dimulai dari pusat pemerintahan, melainkan harus tumbuh dari kampung melalui pengelolaan potensi lokal, penguatan sumber daya manusia, serta pengembangan usaha yang mampu menciptakan pendapatan dan lapangan kerja bagi masyarakat. Semangat tersebut menjadi fokus utama dalam Pelatihan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bagi 79 kampung di wilayah Kamuu dan Mapia yang berlangsung pada 16–17 Oktober 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Dogiyai bekerja sama dengan DPK APINDO Kabupaten Dogiyai ini menghadirkan Ketua APINDO Dogiyai, Melkianus Tebai, sebagai narasumber utama untuk memberikan perspektif dunia usaha dalam pengembangan ekonomi kampung.
Pelatihan hari pertama dilaksanakan pada 16 Oktober 2026 di Aula Koteka Moge, Moanemani, yang melibatkan lima distrik di wilayah Kamuu, yaitu Distrik Kamuu, Dogiyai, Kamuu Utara, Kamuu Timur, dan Kamuu Selatan. Kegiatan dilanjutkan pada 17 Oktober 2026 dengan melibatkan tiga distrik di wilayah Mapia, yakni Distrik Mapia, Mapia Tengah, dan Mapia Barat.
Dalam pemaparannya, Ketua APINDO Dogiyai, Melkianus Tebai, menegaskan pentingnya mengubah potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi yang riil.
“Pengembangan BUMDes perlu berangkat dari potensi nyata yang dimiliki setiap kampung, bukan sekadar mengikuti pola usaha yang sama tanpa mempertimbangkan kebutuhan pasar,” ujar Melkianus Tebai.
Ia menjelaskan setiap kampung perlu mengenali tiga kekuatan utama, yaitu sumber daya alam, sumber daya manusia, dan peluang pasar. Menurutnya, Kabupaten Dogiyai memiliki berbagai potensi lokal yang melimpah seperti kopi, nanas, umbi-umbian, buah merah, hasil pertanian, hingga kerajinan masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produksi, pengolahan, perdagangan, dan pemasaran bermutu tinggi.
Namun, Melkianus mengingatkan bahwa keberadaan potensi alam saja tidak cukup tanpa didukung pengelolaan yang tepat.
“Dibutuhkan sumber daya manusia yang terampil, pengelola yang memiliki integritas, perencanaan bisnis yang realistis, pengelolaan keuangan yang tertib, serta kemampuan membaca kebutuhan konsumen. BUMDes harus dibangun berdasarkan peluang usaha yang nyata, dikelola secara profesional, dan diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tantangan BUMDes yang kerap kali terhenti pada tataran administrasi belaka.
“BUMDes tidak boleh berhenti di atas kertas. Keberhasilan BUMDes tidak hanya dinilai dari keberadaan pengurus, dokumen administrasi, atau rencana kerja, tetapi dari kemampuannya menjalankan usaha, menghasilkan pendapatan, mengelola aset secara bertanggung jawab, menciptakan kesempatan kerja, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kampung,” kata Melkianus.
Lebih lanjut, ia mengimbau agar pemerintah kampung dan pengelola usaha tidak asal meniru jenis usaha dari daerah lain.
“Setiap kampung tidak boleh sekadar meniru usaha kampung lain karena model bisnis yang berhasil di satu kampung belum tentu cocok diterapkan di kampung lainnya. Setiap keputusan usaha harus didasarkan pada pemetaan potensi, kesiapan SDM, kebutuhan masyarakat, kelayakan ekonomi, dan peluang pasar,” jelasnya.
Melkianus juga menggarisbawahi bahwa pembangunan ekonomi kampung harus melibatkan ekosistem yang lebih luas, termasuk koperasi, UMKM, dan sektor usaha jasa.
“Koperasi memiliki peran penting dalam memperkuat ekonomi bersama melalui pengelolaan yang sehat, transparan, dan profesional. Selain itu, sektor usaha jasa yang memberikan pelayanan langsung seperti transportasi, bengkel, pertukangan, percetakan, hingga penggilingan hasil pertanian sangat penting untuk dikembangkan di Kabupaten Dogiyai,” tuturnya.
Menurut Melkianus, kolaborasi antara BUMDes, koperasi, UMKM, dan sektor jasa akan menciptakan perputaran uang yang lebih besar di Dogiyai serta memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda.
“Membangun ekonomi kampung bukan hanya tentang menghasilkan barang, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat menyediakan pelayanan yang dibutuhkan, membangun usaha yang berkelanjutan, dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Dogiyai,” tambah Melkianus.
Ia berharap pelatihan ini dapat ditindaklanjuti dengan pemetaan potensi kampung, penyusunan rencana bisnis, serta pendampingan yang berkelanjutan agar 79 kampung yang terlibat mampu mandiri secara ekonomi.
“Dari kampung, potensi digerakkan. Dari usaha lokal, lapangan kerja diciptakan. Dari koperasi yang kuat dan sektor jasa yang berkembang, kebutuhan masyarakat dilayani. Dari BUMDes yang profesional, fondasi ekonomi Dogiyai diperkuat,” pungkas Melkianus Tebai.





