SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Pagi itu, udara dingin Sugapa, Intan Jaya, terasa sedikit berbeda. Di tengah hamparan pegunungan Papua Tengah, sekelompok siswa berseragam putih abu-abu berdiri dengan wajah penuh harap.
Tepat pukul 09.10 WIT, penantian mereka terjawab saat pesawat yang membawa Penjabat Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, dan Wakil Gubernur Deinas Geley mendarat membawa “buah tangan” yang bukan sekadar barang elektronik, melainkan sebuah janji yang ditepati.
Kehadiran pimpinan provinsi ini bukan tanpa alasan. Sebanyak 15 unit laptop diserahkan langsung kepada para pelajar di Intan Jaya sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam melestarikan tradisi pada Festival Budaya Pelajar tahun 2025 lalu.
Momen ini menjadi bagian dari misi besar pembagian 200 unit laptop yang menyasar siswa dan guru pendamping di seluruh wilayah Papua Tengah, mulai dari Nabire hingga Timika.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa) menyerahkan laptop kepada pelajar di Intan Jaya. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)
Sebuah Pesan Tentang Harga Diri dan Budaya
Di hadapan para siswa, Meki Nawipa menyampaikan pesan yang menyentuh sanubari tentang identitas. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mencabut akar budaya seseorang. Dengan nada penuh kebanggaan, ia mengingatkan anak-anak muda Intan Jaya untuk tetap mencintai jati diri mereka sebagai orang Papua.
“Pertama itu terima kasih banyak karena kemarin kita sudah buat Festival Budaya. Bahwa kita adalah orang Papua yang melestarikan budaya ini. Jangan ragu pakai koteka, jangan ragu bangga dengan budaya ini, karena budaya ini nilainya mahal,” ujar Meki Nawipa.
Bagi Meki, penyerahan laptop ini adalah pertaruhan kehormatannya sebagai seorang pemimpin.
“Sebagai pemimpin saya sudah janji bahwa nanti saya akan kasih laptop satu-satu di seluruh Provinsi Papua Tengah ini. Dan hari ini saya datang, barang mungkin kecil tapi janji saya itu adalah integritas dan harga diri. Pakai laptop ini baik-baik. Ini untuk kamu jadi pimpinan suatu saat di negeri ini,” tambahnya.
Harapan untuk Anak Petani dan Yatim Piatu
Suasana semakin emosional ketika Gubernur berbicara mengenai akses pendidikan. Ia menyadari bahwa banyak siswa yang merasa ragu untuk bermimpi tinggi karena keterbatasan ekonomi atau status sosial.
Meki meyakinkan mereka bahwa latar belakang sebagai anak petani atau yatim piatu bukanlah penghalang untuk duduk di bangku universitas, selama pemerintah masih berdiri di belakang mereka.
“Jangan ragu, jangan takut, jangan pikir bahwa bapak tidak ada, mama tidak ada atau saya punya orang tua petani. Tapi hari ini Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemda Intan Jaya, dan negara juga hadir untuk membiayai dengan namanya Kartu Indonesia Pintar. Jadi kita sudah siap untuk kerja full,” tegasnya.

Wagub Papua Tengah Deinas Geley saat menyerahkan laptop kepada siswa di Intan Jaya. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)
Ia pun menitipkan pesan agar semangat ini disebarkan kepada rekan-rekan mereka yang lain. Menurutnya, laptop tersebut harus dianggap sebagai “otak” dan “tulisan” yang akan menghidupkan masa depan mereka.
“Kamu tidak harus menjadi orang yang paling hebat, tapi kamu harus menjadi orang yang sukses. Jadi laptop ini pakai baik, laptop ini menjadi tulisan, menjadi otak,” pesannya.
“Kasih tahu teman-teman bahwa Gubernur bilang jangan takut untuk kuliah. Tidak usah ikut sana-sini, kuliah dulu, jadi orang sukses, pintar, baru datang kita bangun negeri ini,” tutup Meki sebelum melanjutkan perjalanannya ke Waghete, Kabupaten Deiyai.





