Site icon sasagupapua.com

BPS Catat Sektor Pendidikan Deflasi Berkat Subsidi Pemprov Papua Tengah Saat Inflasi Melonjak

Kepala BPS Kabupaten Nabire, Dio Ginting. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Badan Pusat Statistik Kabupaten Nabire mencatatkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 mengalami inflasi tahunan atau year-on-year sebesar 6,16 persen dengan tingkat IHK mencapai 119,90. Angka ini melonjak tajam dibandingkan inflasi tahunan September 2025 yang hanya sebesar 2,89 persen.

Adapun inflasi bulanan atau month-to-month tercatat sebesar 2,82 persen, sedangkan inflasi tahun kalender hingga September 2026 mencapai 2,23 persen. Namun, di tengah lonjakan harga hampir di seluruh sektor pengeluaran masyarakat, kelompok pendidikan muncul sebagai salah satu sektor yang mencatatkan penurunan indeks harga atau deflasi secara tahunan sebesar 2,68 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Nabire, Dio Benuvin Perkasa Ginting, menjelaskan faktor pendorong di balik penurunan biaya pendidikan salah satunya karena dipicu adanya program pemberian anggaran subsidi pendidikan di Provinsi Papua Tengah melalui kebjakan Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley.

“Deflasi pada sektor pendidikan ini salah satunya dipicu oleh adanya subsidi dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk sekolah-sekolah swasta, sehingga tarif biaya pendidikan yang dibayarkan oleh masyarakat menjadi berkurang,” ujarnya.

Penurunan terbesar pada kelompok ini terjadi pada subkelompok pendidikan menengah yang merosot hingga 12,88 persen, di mana komoditas sekolah menengah atas menjadi penekan utama dengan memberi andil deflasi sebesar 0,11 persen.

Sebaliknya, subkelompok pendidikan dasar dan anak usia dini mengalami kenaikan 1,36 persen serta pendidikan tinggi naik 4,09 persen, dengan kontribusi inflasi dari akademi atau perguruan tinggi sebesar 0,02 persen serta PAUD dan TK masing-masing sebesar 0,01 persen.

Secara keseluruhan, sektor pendidikan memberikan andil deflasi tahunan sebesar 0,07 persen, sementara secara bulanan kelompok ini menyumbang inflasi tipis 0,02 persen yang seluruhnya didorong oleh biaya perguruan tinggi.

Meskipun biaya pendidikan mengalami penurunan, laju inflasi secara umum di Nabire tetap merangkak naik yang dipicu oleh kebutuhan pokok dan sektor perhubungan. Dio Benuvin Perkasa Ginting menyampaikan bahwa pendorong utama inflasi di Nabire bersumber dari kebutuhan pokok dan sektor perhubungan.

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y antara lain cabai rawit, cabai merah, daging babi, bensin, kangkung, minyak goreng, tahu mentah, angkutan udara, telur ayam ras, nasi dengan lauk, pelumas/oli mesin, bakso siap santap, emas perhiasan, kacang panjang, pemeliharaan/service, ikan cakalang, bayam, Sigaret Kretek Mesin (SKM), solar, pepaya, serta biaya pengiriman barang,” ujar Dio.

Sebaliknya, pengerem laju inflasi tahunan didukung oleh bawang merah, sekolah menengah atas, beras, tomat, sabun deterjen bubuk, popok bayi sekali pakai, pembersih lantai, ikan teri, nugget, ikan bubara, mainan anak, sandal karet pria, ketela rambat, jahe, bawang putih, serta minuman ringan.

Ditinjau dari kontribusinya terhadap total inflasi tahunan Nabire, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar mencapai 4,06 persen setelah indeks harganya melonjak 8,78 persen.

Kenaikan tertinggi di kelompok ini dicatat oleh subkelompok minuman beralkohol yang melonjak 12,99 persen, sedangkan yang terendah adalah minuman tidak beralkohol sebesar 0,37 persen.

Komoditas cabai rawit menjadi pemicu utama inflasi tahunan dengan andil sebesar 1,62 persen, disusul cabai merah sebesar 0,45 persen, daging babi sebesar 0,32 persen, kangkung sebesar 0,27 persen, minyak goreng sebesar 0,20 persen, tahu mentah sebesar 0,18 persen, telur ayam ras sebesar 0,17 persen, kacang panjang sebesar 0,13 persen, ikan cakalang sebesar 0,12 persen, bayam sebesar 0,11 persen, SKM sebesar 0,10 persen, dan pepaya sebesar 0,08 persen.

Komoditas lain seperti SPM menyumbang 0,06 persen, talas dan buah naga masing-masing 0,05 persen, serta gula pasir, terong, daging sapi, jeruk nipis, roti manis, dan kentang masing-masing menyumbang 0,04 persen.

Penahan inflasi terbesar pada kelompok ini adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,31 persen, disusul beras 0,08 persen, tomat 0,05 persen, ikan teri 0,02 persen, serta nugget, ikan bubara, ketela rambat, jahe, bawang putih, dan minuman ringan masing-masing 0,01 persen.

Untuk skala bulanan, kelompok makanan menyumbang andil inflasi 2,44 persen yang didorong oleh cabai rawit sebesar 1,94 persen, cabai merah 0,24 persen, bayam 0,11 persen, serta tomat dan kacang panjang masing-masing 0,10 persen, kangkung 0,07 persen, pepaya 0,04 persen, buah naga dan daun bawang masing-masing 0,02 persen, hingga pisang, ikan kaleng, jagung manis, biskuit, minyak goreng, wafer, dan buncis masing-masing 0,01 persen.

Inflasi bulanan kelompok ini sempat diredam oleh bawang merah sebesar 0,09 persen, bawang putih 0,06 persen, tahu mentah 0,04 persen, wortel 0,03 persen, ikan mumar dan tuna masing-masing 0,02 persen, serta ikan asap, ikan bubara, ayam hidup, dan ikan cakalang masing-masing 0,01 persen.

Sektor transportasi menjadi pendorong besar kedua dengan kenaikan indeks hingga 9,78 persen dan memberikan andil inflasi tahunan sebesar 1,08 persen. Lonjakan ini dipicu oleh subkelompok jasa pengiriman barang yang melonjak 17,04 persen, jasa angkutan penumpang sebesar 11,66 persen, pengoperasian peralatan transportasi pribadi sebesar 10,39 persen, dan pembelian kendaraan sebesar 2,06 persen.

Rincian komoditas pendorongnya meliputi bensin dengan andil 0,29 persen, tarif angkutan udara 0,18 persen, pelumas atau oli mesin 0,15 persen, jasa pemeliharaan atau servis 0,12 persen, solar 0,09 persen, biaya pengiriman barang 0,08 persen, perbaikan ringan kendaraan 0,05 persen, ban luar mobil dan ojek motor masing-masing 0,03 persen, sepeda motor dan ban luar motor masing-masing 0,02 persen, serta mobil sebesar 0,01 persen.

Secara bulanan, transportasi memberi andil inflasi 0,18 persen akibat kenaikan tarif angkutan laut sebesar 0,15 persen, biaya pengiriman barang 0,05 persen, serta solar dan ban luar mobil masing-masing 0,03 persen, meski tertahan oleh penurunan tarif angkutan udara yang memberi andil deflasi bulanan 0,08 persen.

Penyedia makanan dan minuman atau restoran mencatatkan inflasi tahunan sebesar 9,62 persen pada subkelompok jasa pelayanan makanan dan minuman, serta memberikan andil inflasi sebesar 0,45 persen.

Komoditas penyumbangnya antara lain nasi dengan lauk sebesar 0,16 persen, bakso siap santap 0,14 persen, kue kering berminyak, ayam goreng, dan martabak masing-masing 0,03 persen, bubur dan gado-gado masing-masing 0,02 persen, serta mie, ayam bakar, dan sate masing-masing 0,01 persen, di mana kelompok ini cenderung stabil secara bulanan.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tahunan 5,94 persen dengan andil 0,33 persen, akibat melonjaknya subkelompok perawatan pribadi lainnya sebesar 14,40 persen dan perawatan pribadi sebesar 2,68 persen.

Emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,13 persen, disusul sirih 0,07 persen, buah pinang dan sabun mandi masing-masing 0,04 persen, sampo dan pangkas rambut pria masing-masing 0,02 persen, serta pembalut wanita, pangkas rambut anak, dan lipstik masing-masing 0,01 persen, meski tertahan oleh popok bayi dengan andil deflasi 0,02 persen.

Secara bulanan, kelompok ini memberi andil inflasi 0,16 persen yang didorong oleh kenaikan harga buah pinang sebesar 0,12 persen dan sirih sebesar 0,04 persen.

Beberapa kelompok pengeluaran lainnya juga mencatatkan inflasi tahunan yang lebih rendah namun tetap berkontribusi. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 1,07 persen dengan andil 0,14 persen, dipimpin oleh subkelompok pemeliharaan dan perbaikan rumah sebesar 5,35 persen, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,45 persen, serta sewa rumah 0,21 persen.

Sementara penyediaan air tidak berubah. Komoditas pendorongnya mencakup bahan bakar rumah tangga, cat tembok, dan tukang masing-masing 0,03 persen, seng dan semen masing-masing 0,02 persen, serta sewa rumah dan keramik masing-masing 0,01 persen, walau secara bulanan mengalami deflasi 0,01 persen akibat penurunan harga bahan bakar rumah tangga.

Kelompok pakaian dan alas kaki naik 1,63 persen dengan andil 0,06 persen, didorong subkelompok pakaian yang naik 2,56 persen lewat ongkos jahit sebesar 0,04 persen serta seragam sekolah dan kaus pria masing-masing 0,01 persen, sementara subkelompok alas kaki deflasi 0,86 persen akibat sandal karet pria yang memberi andil deflasi 0,01 persen.

Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi 0,96 persen dengan andil tahunan 0,05 persen dan andil bulanan 0,01 persen, didorong subkelompok peralatan komunikasi sebesar 6,39 persen lewat komoditas telepon seluler.

Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,49 persen dengan andil 0,02 persen, dipicu subkelompok koran dan buku sebesar 2,21 persen melalui buku tulis bergaris sebesar 0,03 persen, walaupun subkelompok barang rekreasi dan olahraga deflasi hingga 20,15 persen dengan mainan anak memberi andil deflasi 0,01 persen.

Kelompok kesehatan mencatatkan inflasi 0,96 persen dengan andil 0,02 persen, disumbang oleh jasa kesehatan lainnya sebesar 4,59 persen serta obat-obatan sebesar 1,05 persen melalui komoditas obat gosok dan tarif pemeriksaan kesehatan masing-masing 0,02 persen.

Terakhir, kelompok perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 0,58 persen dengan andil tahunan 0,02 persen, di mana subkelompok peralatan rumah tangga melonjak 7,54 persen lewat kipas angin sebesar 0,02 persen serta sabun krim, kulkas, servis AC, dan obat nyamuk masing-masing 0,01 persen, meski diredam oleh pemeliharaan rutin yang deflasi 0,85 persen melalui deterjen bubuk dan pembersih lantai masing-masing 0,02 persen. Kipas angin juga mendorong inflasi bulanan kelompok ini sebesar 0,02 persen dengan andil 0,01 persen.

Tingginya angka inflasi sebesar 6,16 persen di Kabupaten Nabire ini menempatkan Nabire sebagai daerah dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi di seluruh wilayah Provinsi Papua Tengah.Catatan inflasi Nabire tersebut berada di atas Kabupaten Timika yang menempati posisi kedua dengan inflasi tahunan sebesar 5,03 persen pada periode September 2026.

Exit mobile version