“Harganya bervariasi, ada model kaos, ada yang jersey ada juga yang berkerak harganya 250-300 ribu, oh iya ada noken juga, kalau itu murah saja,”
Begitu kata seorang pedagang yang tampak semangat mempromosikan produknya ke konsumen yang datang mengunjungi lapak ‘Kanguru’ saat Car Free Day (CFD) di jalan Pepera, Kota Nabire, Papua Tengah pada Sabtu, awal Agustus 2025.
Namanya Roberta Muyapa, seorang Perempuan Papua kelahiran 9 Agustus 1993. Roberta menjual aneka pakaian dengan goresan motif-motif budaya suku Mee.
Berawal Dari Hobby Fashion
Roberta bercerita. Usaha yang ia geluti berawal dari sebuah hobby terhadap fashion. “Sa (saya-red) suka fashion yang lebih ke baju polos,” kata Roberta menyambut pernyataan media ini.
Asik bercerita, Roberta sambil menyantap donat yang ia beli untuk sarapan sebab pukul 6.00 WIT pagi ia sudah menenteng jualannya ke lokasi CFD. Pertama menyapa terlihat jelas, Roberta adalah sosok yang ramah, suka berbagi senyum juga cerita.
“Awalnya karena hobby jadi tahun 2019 saya coba usaha jualan pakaian polos, terus tas dan topi,” katanya.
Roberta melihat peluang dimana pakaian Papua sudah banyak yang terlihat dengan motif yang umum, namun khusus motif suku Mee menurutnya belum ada.

Lapak milik Roberta ketika dikunjungi Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa di Car Free Day. (Foto: Fb Roberta Muyapa)
Sehingga ia mulai berpikir untuk mencoba menjual baju modern yang berbeda dengan menemukan ide memadukan motif budaya suku Mee didalam goresan baju yang awalnya hanya polos tanpa gambar yang hidup.
“Saya juga lihat teman-teman yang bekerja itu kan kesulitan di kemeja, kebanyakan kemeja itu yang monoton saja makanya kita coba untuk buat yang baru,” katanya.
Ingin Budaya Suku Mee Bisa Dikenal Luas
Roberta mulai mendesain baju dengan berbagai motif adat suku Mee. Didalam baju yang dijual, Roberta telah mempromosikan tampilan budaya Mee.
Ada berbagai motif yang ditonjolkan oleh Roberta seperti rumah adat untuk laki-laki yang dinamakan Emawa, dan rumah adat perempuan adalah Kewita.
“Jadi kalau kita juga ada alat musik tiup yang namanya Kaido, rok adat yang namanya Mogee, ada juga kuli bia yang dahulu biasa digunakan sebagai alat tukar, semua saya tuangkan dalam desain baju, jadi saya mau angkat sekaligus mempromosikan budaya kita,” ungkap Roberta.
Baju yang ia produksi dengan nama brand Kanguru itu tidak hanya dijual ketika Car Free Day, namun ia memiliki lapak yang terletak di Jalan Mandala, Kali Bobo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Animo Masyarakat Besar
Roberta mengaku sejak menjual produknya, animo masyarakat banyak. Ketika ia datangkan baju dengan berbagai desain sudah pasti akan laku terjual.
“Untuk masyarakat animonya, hari ini puji Tuhan yang saya lihat sangat mendukung, jadi begitu saya posting, pasti sudah banyak yang membeli, begitupun kalau setiap hari Sabtu saya bawa ke CFD ramai,” ujar Roberta.
Saat ini, Roberta tidak hanya memiliki usaha baju, ia juga menggeluti usaha lapak yang menjual aneka makanan dan minuman yang juga ia beri nama lapak Kanguru.
“Saya senang menjadi seorang pengusaha, tapi saat ini masih berjuang, kendala saya adalah manajemen keuangan, tapi saya terus berusaha semoga bisa konsisten dan terus kerja keras,” ucapnya.
Saat ini, Roberta sedang berusaha untuk mewujudkan mimpinya.
“Mimpi saya adalah memiliki tempat produksi dan sablon sendiri supaya tidak perlu kirim dari luar supaya saya tidak perlu keluarkan banyak uang untuk pengiriman,” pungkasnya.