Site icon sasagupapua.com

Bukan Dapil Tapi Peduli: Cara Nancy Raweyai Jemput Aspirasi di Pulau Mambor

Momen Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai saat berfoto bersama masyarakat di Pulau Mambor, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai, melakukan kunjungan kerja yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat pesisir di Pulau Mambor, Distrik Moora, Kabupaten Nabire, pada Selasa (12/5/2026).

Meski berasal dari daerah pemilihan (Dapil) Timika, Anggota DPRPT Komisi II ini memilih menyeberangi lautan selama satu jam menggunakan perahu fiber dari Dermaga Penyeberangan Samabusa, demi mendengar jeritan hati warga yang berada di pesisir Nabire.

Perjalanan selama satu jam menembus deburan ombak, seketika terbayar lunas saat hamparan pasir putih bersih dan gradasi laut hijau toska menyambut di Pulau Mambor.

Di balik airnya yang jernih, tersimpan kekayaan bawah laut yang memanjakan mata; aneka terumbu karang dan biota laut hidup bebas tanpa gangguan, menjadi bukti kemurnian alam di pulau yang masih terjaga.

Di daratannya, pulau ini adalah surga tersembunyi yang menyimpan potensi hasil alam melimpah, mulai dari durian, sukun, duku, hingga pinang.

Di pinggir pantai yang tenang, hamparan pasir yang putih dengan aroma laut yang memukau dan hembusan angin sepoi-sepoi, Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai, duduk bersama warga.

Suasana diskusi terasa hangat dan penuh kekeluargaan, apalagi saat suguhan khas Papeda kuah kuning dihidangkan, menambah kenyamanan di tengah momen kunjungan politisi perempuan dari Partai Nasdem tersebut.

Momen Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai saat berdiskusi dengan masyarakat di Pulau Mambor, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

Namun dibalik keindahan tersebut terdapat tumpukan persoalan klasik, mulai dari krisis infrastruktur hingga minimnya pelayanan dasar yang perlu dibenahi.

Dalam kunjungannya, Nancy juga berkesempatan berkeliling melihat langsung kondisi pulau yang dihuni oleh 133 Kepala Keluarga (KK).

Pulau Mambor memiliki satu Kampung yang membawahi empat dusun.

Daftar Panjang Harapan Masyarakat Mambor

Masyarakat Pulau Mambor memanfaatkan kehadiran Nancy untuk menumpahkan aspirasi yang selama ini tersumbat. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah akses hunian, di mana warga memohon bantuan 32 unit rumah baru. Kondisi saat ini sangat memprihatinkan karena satu rumah seringkali harus dihuni oleh tiga hingga empat KK sekaligus.

Salah satu Rumah warga di Kampung Mambor. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Masalah listrik menjadi keluhan paling krusial bagi warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

Meskipun PLN sudah masuk sejak tiga tahun lalu berkat bantuan Ribka Haluk, warga belum bisa menikmati manfaatnya secara maksimal karena keterbatasan daya. Saat ini listrik hanya menyala 12 jam, mulai pukul 18.00 hingga 06.00 WIT. Kondisi ini membuat nelayan tidak bisa memproduksi es batu atau menghidupkan mesin pendingin (freezer) untuk menyimpan hasil tangkapan.

Momen Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai saat berdiskusi dengan masyarakat di Pulau Mambor, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

Akibatnya, ikan hasil melaut harus segera habis terjual pada hari Sabtu di Samabusa; jika tidak laku, ikan akan membusuk karena tidak ada tempat penyimpanan yang memadai.

Krisis air bersih juga menjadi persoalan hidup dan mati di pulau ini. Hingga kini, masyarakat dan fasilitas kesehatan masih sangat kesulitan mendapatkan air yang layak konsumsi.

Puskesmas Mambor pun menjadi pihak yang paling terdampak; mereka terpaksa menjalankan operasional medis tanpa akses air bersih yang memadai.

Warga berharap pemerintah segera membangun sarana air bersih permanen agar kebutuhan dasar rumah tangga dan sterilisasi layanan kesehatan dapat terjamin tanpa harus terus-menerus bergantung pada stok obat-obatan atau pasokan dari luar.

Di sektor ekonomi kreatif, mama-mama perajin di Pulau Mambor meminta disediakan wadah berupa sanggar. Mereka memiliki keahlian luar biasa dalam merajut noken, menganyam piring dari tali hutan, hingga membuat berbagai buah tangan. Namun, tanpa sanggar, mereka kesulitan memasarkan hasil karya tersebut maupun mendapatkan akses untuk pameran baik ditingkat Kabupaten hingga nasional.

Hal ini diperparah dengan biaya transportasi laut yang mahal, mencapai Rp100.000 untuk perjalanan pulang-pergi ke kota, yang seringkali lebih besar daripada keuntungan hasil jualan di pasar. Di Samabusa pun, mereka terpaksa berjualan hanya beralaskan karung di atas pasir karena ketiadaan fasilitas pasar yang layak meskipun sudah ada beberapa bantuan dari kabupaten namun tidak cukup menampung para pedagang.

Sektor kesehatan dan pendidikan pun tak kalah memprihatinkan. Puskesmas Mambor hanya didukung oleh 20 tenaga kesehatan dengan fasilitas rumah dinas yang rusak dan plafon bocor, jika menambah tenaga kesehatan rumah dinas juga tidak mencukupi.

Momen Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai saat berkunjung ke Puskesmas Mambor, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Lebih jauh lagi, fasilitas medis ini kekurangan stok obat antibiotik dan sangat membutuhkan akses air bersih. Masalah paling krusial adalah ketersediaan alat penyimpanan vaksin bersuhu rendah. Akibat ketiadaan alat ini, petugas medis terpaksa mengambil vaksin dari kota dan harus menghabiskannya pada hari yang sama. Jika ada anak yang berhalangan hadir tepat waktu, maka kesempatan vaksinasi hilang karena vaksin tidak mampu bertahan hingga esok hari.

Masalah pendidikan juga menjadi beban pikiran warga. Ketiadaan SMP dan SMA di pulau memaksa anak-anak harus merantau ke kota dan menumpang di rumah kerabat, dan hanya bisa pulang saat liburan tiba.

Momen Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai saat berkeliling kampung yang ada di Pulau Mambor, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Tenaga guru pun sangat minim, bahkan warga mengaku harus menunggu sangat lama hanya untuk mendapatkan jatah kunjungan seorang kepala sekolah di sekolah swasta yang ada di sana.

Selain itu, dermaga laut yang pembangunannya terbengkalai sejak tahun 1994 kini hanya menjadi saksi bisu janji pembangunan yang belum tuntas.

Nancy Raweyai: Menjembatani Gap antara Kebijakan dan Realita

Usai mendengar rentetan persoalan tersebut, Nancy Raweyai menegaskan bahwa kunjungannya bertujuan untuk mendapatkan gambaran kondisi riil di lapangan, khususnya di wilayah pesisir.

Sebelumnya ia juga telah melakukan kunjungan kerja ke Dinas Peternakan, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten.

Momen Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai saat tiba di Pulau Mambor, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi agar masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari status provinsi baru ini sesuai dengan arahan Gubernur Papua Tengah terkait sinergitas antar jajaran.

“Kunjungan kerja kali ini saya bikin di Nabire karena saya ingin melihat kondisi langsung terutama saya fokus di tiga tempat kemarin di peternakan, di lingkungan, dan juga kali ini untuk di pesisir untuk mendapatkan gambaran kondisi riil seperti apa. Ini menjadi penting supaya kita semua yang ada di Provinsi Papua Tengah dalam rangka mendukung visi Gubernur untuk meletakkan fondasi dan sinergi itu kita paham betul situasi dan kondisinya seperti apa,” ujar Nancy.

Momen Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai saat berfoto bersama masyarakat usai kegiatan kunjungan kerja, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Terkait aspirasi warga Mambor, Nancy berupaya akan membawa masalah ini ke tingkat provinsi agar program pemerintah tepat sasaran.

“Tentu yang disampaikan tadi dari masyarakat dan Pak Kepala Kampung langsung adalah satu mungkin listrik, kedua dermaga yang terbengkalai, fasilitas air bersih, juga dengan kondisi kesehatan dan pendidikan. Ini yang penting untuk kita ketahui secara langsung agar kita bisa memberikan masukan untuk program-program pemerintah melalui dinas-dinas terkait agar betul sampai dan dirasakan manfaatnya di masyarakat pesisir,” tambahnya.

Harapan Kepala Kampung: Listrik dan Air Bersih Jadi Prioritas

Harapan besar digantungkan oleh Kepala Kampung Mambor, Festus Aritahanu, kepada kunjungan wakil rakyat ini. Ia berharap kehadiran Nancy Raweyai mampu menjadi jembatan yang menghubungkan keluhan warga langsung ke telinga para pemangku kebijakan di tingkat provinsi.

“Kami sangat mengharapkan supaya apa yang diusulkan dan disampaikan oleh warga masyarakat itu, Ibu akan menyuarakan ke DPRD Provinsi agar dilanjutkan ke instansi-instansi terkait untuk bisa langsung melihat hal itu. Mungkin itu saja yang perlu kita sampaikan,” kata Festus.

Kepala Kampung Mambor, Festus Aritahanu saat membawakan sambutan selamat datang kepada Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Bagi Festus, ada dua kebutuhan primer yang menjadi prioritas utama bagi warga Mambor saat ini, yakni penambahan daya listrik dan akses air bersih.

Saat ini, listrik di pulau tersebut menggunakan tenaga surya yang hanya mampu menyala selama 12 jam, mulai dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi.

Ketiadaan listrik di siang hari membuat nelayan tidak bisa memproduksi es batu atau menggunakan freezer untuk mengawetkan ikan, sehingga hasil tangkapan harus segera habis terjual dan tidak bisa disimpan lama.

“Yang paling sangat penting itu penambahan daya untuk listrik. Itu yang paling-paling penting sekali untuk kami. Itu yang pertama, sedangkan yang kedua air bersih. Dua sumber kebutuhan yang kami sangat membutuhkan itu. Ya, dengan pengusulan tadi Ibu kita sampaikan sudah kontrol di jalan, Ibu sudah lihat keadaan perkampungan, Ibu sudah bisa pantau sendiri baru lihat,” jelasnya.

Momen Anggota DPR Papua Tengah, Nancy Raweyai saat bercengkerama bersama anak-anak di Pulau Mambor, Selasa (12/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Ia menutup pembicaraan dengan menceritakan keterbatasan energi yang mereka alami setiap harinya.

“Kalau listrik kami di Pulau Mambor ini tenaga surya, ini hanya 12 jam saja. Tidak 24 jam karena siang tidak nyala. Kita pergunakan untuk malam hari karena kemampuannya tidak bisa untuk kita pakai di siang hari,” pungkasnya.

Exit mobile version