Site icon sasagupapua.com

Cerita Mecky Tebai: Memutar Balik Arti ‘Mabuk’ di Atas Aspal Mapiduba Lewat Buku

Pegiat Literasi, Mecky Tebai saat berbincang dengan seorang anak saat menggelar lapak baca di komplek Mapiduba. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Langit Nabire sore itu, Jumat (31/7/2026) tampak begitu bersahabat, memayungi kesederhanaan yang begitu pekat di Jalan Baru Mapiduba, Kelurahan Girimulyo. Di sudut Distrik Nabire, Papua Tengah ini, riuh  mendadak tercipta oleh keheningan yang tak biasa. Belasan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak duduk bersila langsung di atas aspal.

Kepala mereka menunduk khusyuk, larut dalam lembar demi lembar halaman buku yang mereka genggam. Di samping mereka, lembaran buku lainnya berjejer rapi, digelar seadanya di atas karpet bermotif blaster hitam-putih, menunggu tangan-tangan antusias lain untuk memilihnya.

Bukan sekadar ruang baca jalanan biasa, di sudut karpet itu sebuah termos berisi kopi hangat ikut menepis dinginnya sore. Dijual seharga lima ribu rupiah per gelas, setiap tetes kopi yang laku rupanya membawa misi besar: menyokong kegiatan Natal kompleks, mengisi pos buku tabungan anak-anak putus sekolah agar bisa kembali mengenyam pendidikan, hingga membeli amunisi buku-buku baru.

Sebuah termos merah muda tampak disiapkan untuk yang datang dan membeli dengan harga Rp5 ribu untuk menunjang kegiatan-kegiatan mereka. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Sore itu, warga Mapiduba sedang tenggelam dalam riak gerakan literasi bertajuk “Mabuk” (Mari Baca Buku) di Mapiduba sebuah pemantik api penyemangat yang diinisiasi oleh seorang pemuda bernama Mecky Tebai, yang bermimpi mengubah pola pikir generasinya ke arah yang lebih positif lewat kuasa membaca.

Memutar Balik Arti ‘Mabuk’ di Aspal Mapiduba

Mecky Tebai, seorang pemuda asli Papua yang telah menyelesaikan studinya di Jayapura. Bagi Mecky, kembali ke kampung halaman berarti siap berhadapan dengan realita paling keras di tanah kelahirannya.

“Kita sudah pasti tahu bahwa Nabire mempunyai satu akar persoalan paling penting di tingkat pertumbuhan anak-anak kecil, remaja, bahkan pemuda, terkait dengan kenakalan. Dalam arti biasa kita sebut anak-anak aibon,” ungkap Mecky membuka cerita.

Jalan Baru Mapiduba, menurutnya, selama ini menyandang stigma sebagai salah satu kompleks dengan tingkat kerawanan dan kenakalan remaja tertinggi di Nabire.

Melihat kenyataan pahit itu, Mecky tidak memilih untuk mundur atau menghakimi. Ia justru memutar otak dan melahirkan sebuah gerakan provokatif yang ia namai: Program “Mabuk” di Mapiduba.

“Dalam sudut pandang lain, mabuk bukan berarti kita putar alkohol, tidak. Mabuk artinya mari kitorang baca buku sama-sama,” ujarnya sembari tersenyum.

Suasana di jalan Mapiduba saat anak-anak hingga remaja asik membaca buku. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Bagi Mecky, jika generasi dewasa yang sudah terlanjur keras di jalanan sulit untuk dibentuk kembali, maka tunas-tunas muda di kompleks tersebut tidak boleh mengalami nasib yang sama. Mereka berhak atas pendidikan, hak atas pengetahuan, dan hak untuk memahami martabat diri mereka sendiri.

Gerakan literasi ini ia bangun dari bawah, menaruh harapan besar pada perempuan sebagai rahim literasi dan laki-laki sebagai sumber pengetahuan.

Mecky percaya, melawan stigma buruk tidak perlu menunggu gedung perpustakaan mewah yang hingga kini belum memadai di Nabire.

Cukup dengan satu-dua anak yang mau duduk membaca di atas aspal, perlawanan terhadap diskriminasi label “anak nakal” atau “anak aibon” sudah dimulai.

Melalui buku, anak-anak Mapiduba diajak menyadari bahwa mereka berharga, mereka mampu, dan mereka memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain di luar sana.

Dari Lapak Aspal Menuju Rumah Inspirasi

Lapak baca di atas aspal ini sejatinya adalah sebuah proses konsolidasi awal. Mecky telah merancang langkah yang jauh lebih terstruktur untuk masa depan anak-anak Mapiduba. Jadwal mingguan juga disusun: hari Jumat dan Sabtu dikhususkan sebagai ruang kelas bagi anak-anak kecil yang belum bisa membaca.

Sementara setiap hari Selasa, giliran anak-anak usia SMP yang akan dimentori langsung oleh Mecky untuk belajar bahasa Inggris, sastra, hingga seni menulis puisi.

Target utamanya anak-anak Mapiduba wajib sekolah. Jika pintu sekolah formal tertutup bagi mereka karena kendala biaya atau administrasi, Mecky siap menggerakkan jalur non-formal melalui sekolah Paket A, B, dan C.

Rumah Inspirasi Kebadabi yang masih dikerjakan

Perjuangan ini pun kini telah memiliki rumah fisik. Tepat di sebelah lapak baca aspal tersebut, berdiri Rumah Inspirasi Kebadabi yang pembangunannya kini telah mencapai 90 persen.

Gedung sederhana inilah yang nantinya akan menjadi laboratorium peradaban kecil di dalam kompleks, tempat anak-anak akan diajari mengoperasikan komputer hingga melatih kemampuan berbicara di depan umum (public speaking).

“Kalau orang lain tidak bisa tolong anak kompleks, maka anak kompleks harus tolong anak kompleks,” tegas Mecky, menyuarakan prinsip kemandirian yang kuat.

Meski sisa pembangunan fisik masih terus berlanjut, Mecky mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah pasokan buku bacaan yang berkualitas untuk semua kategori umur, mulai dari buku bergambar anak-anak hingga literatur untuk remaja dan orang tua yang sering ikut berkumpul. Ia juga tengah mengupayakan jaringan Wi-Fi dan pengadaan komputer agar anak-anak kompleks dapat mengakses informasi dan mengerjakan tugas sekolah tanpa harus berkeliaran keluar dari lingkungan mereka.

Dedikasi dan Jejak Langkah Sang Penggiat Literasi

Langkah berani yang diambil Mecky di Jalan Baru Mapiduba bukanlah sebuah gerakan instan tanpa akar. Dedikasi pemuda Papua ini telah tertempa lewat rekam jejak akademis dan organisasional yang panjang. Mecky merupakan lulusan tahun 2026 dari Jenjang S1 Pendidikan Bahasa dan Kesenian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih.

Mecky Tebai saat bersama anak-anak kompleks Mapiduba di lapak baca. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Sebagai seorang penulis, aktivis kemanusiaan, sekaligus pendiri KORASLIMA, Mecky telah lama aktif mengembangkan ekosistem pendidikan non-formal dan inovasi sosial di Papua.

Kapasitasnya di dunia literasi tidak main-main; pada 2025 hingga 2026, ia terlibat langsung dalam ranah advokasi kebijakan publik sebagai salah satu perumus Peta Literasi & Usulan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Papua Tengah.

Tak hanya itu, di tahun yang sama (2026), Mecky juga menjadi inisiator Papua Genius League, sebuah ajang kompetisi akademik perdana berskala besar yang menguji wawasan dan literasi siswa tingkat SMP, dengan memfasilitasi keterlibatan pelajar dari seluruh perwakilan Kota dan Kabupaten Jayapura.

Kini, seluruh pengalaman makro di tingkat provinsi itu ia bawa pulang ke Nabire, diperas menjadi gerakan mikro berbasis komunitas yang menyentuh langsung akar rumput melalui ruang baca alam terbuka, kelas pendampingan anak, seminar, hingga kolaborasi lintas sektor.

Melalui “Mabuk di Mapiduba”, Mecky Tebai sedang menenun mimpi besar. Ia ingin memutus rantai stigma negatif yang membelenggu tanah kelahirannya.

Anak kompleks Mapiduba saat asik membaca buku. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

“Harapan saya, setiap anak Mapiduba mempunyai hak yang sama. Hak mendapat akses bacaan, akses berpendidikan, hak memahami dirinya sendiri, alam, bahkan Tuhannya,” pungkas Mecky penuh harap. “Kalau misalnya dulu kita dianggap paling berbeda (karena hal negatif), maka hari ini juga kita tunjukkan yang paling berbeda (lewat prestasi). Kalau orang bicara mabuk itu tentang alkohol, maka saya mau bilang mabuk itu tentang mari kita baca buku,” pungkasnya.

Restu dan Harapan dari Depan Jalan Rumah Mama Fransiska

Gerakan “Mabuk” yang digagas oleh Mecky Tebai tidak akan bisa berjalan jauh tanpa adanya penerimaan dari masyarakat setempat.

Beruntung, denyut nadi literasi di Jalan Baru Mapiduba ini mendapat ruang di hati para orang tua. Salah satunya adalah Mama Fransiska Madai, warga lokal yang dengan tangan terbuka merelakan jalan aspal depan rumahnya disulap menjadi lapak baca setiap sore.

Bagi Mama Fransiska, kehadiran Mecky dan tumpukan bukunya adalah berkah di tengah lingkungan yang selama ini dicap kelam. Ia tidak menampik bahwa wilayah tempat tinggalnya memiliki reputasi yang mengkhawatirkan di mata publik.

Mama Fransiska Madai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

“Menurut saya, saya minta banyak terima kasih kepada anak Mecky, karena di sini ini tanda merah. Jalan baru ini tanda merah,” ungkap Mama Fransiska.

Stigma “zona merah” akibat maraknya kenakalan remaja dan anak-anak yang terjerat lem aibon maupun alkohol membuat Mama Fransiska langsung mengiyakan ketika Mecky meminta izin membuka lapak baca di depan kiosnya. Ia melihat gerakan ini sebagai oase sekaligus pelindung bagi masa depan anak-anak di kompleksnya agar tidak ikut terjerumus ke dalam lingkaran hitam yang sama.

“Begitu ade Mecky datang kasih tahu saya di sini untuk mau mengadakan bacaan, kumpul anak-anak untuk baca-baca buku cerita begitu, saya bilang tidak apa-apa anak. Karena di sini banyak anak-anak yang suka mabuk, yang tidak baik-baik saja. Makanya saya sebagai orang tua, saya setuju untuk anak Mecky dia kumpulkan anak-anak untuk membaca,” lanjutnya.

Setiap sore, menyaksikan anak-anak kecil hingga remaja duduk rapi membaca alih-alih berkeliaran di jalanan membawa kebahagiaan tersendiri bagi Mama Fransiska. Ia menaruh harapan besar agar rutinitas baru ini perlahan-lahan menyadarkan mereka yang masih sering mabuk alkohol untuk beralih “mabuk” membaca buku.

Anak-anak juga tampak antusias membaca buku. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Kesadaran kolektif dari para orang tua seperti Mama Fransiska juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin ikut mengulurkan tangan. Ia berharap gerakan di teras rumahnya ini bisa mengetuk hati pihak-pihak luar untuk ikut peduli terhadap masa depan anak-anak Nabire.

“Iya, malah bagus kalau mereka (masyarakat) lihat, lalu mereka mau datang bantu kita. Kita sebagai orang tua malah terima kasih kepada yang datang menyumbang buku bacaan begitu,” pungkas Mama Fransiska penuh harap.

Penebus Mimpi yang Sempat Putus di Bangku Sekolah

Di antara belasan kepala yang menunduk khusyuk di atas aspal sore itu, ada Sepi Kayame. Pemuda berusia 20 tahun ini menjadi bukti nyata bagaimana keterbatasan ekonomi sering kali menjadi jurang pemisah antara anak-anak Papua dan cita-citanya.

Sepi berkisah, perjalanannya di sekolah formal terpaksa terhenti secara tragis lebih dari satu dekade lalu saat ia masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar.

Sepi Kayame. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

“Gara-gara saya tidak bisa bayar, jadi sudah saya keluar,” kenang Sepi. “Ibu guru dia bilang, kalau yang belum bayar tidak bisa ikut ujian.”

Pintu sekolah formal boleh saja tertutup hari itu, namun bara api untuk belajar di dalam diri Sepi tidak pernah benar-benar padam.

Kini, di usianya yang menginjak kepala dua, ia menolak menyerah pada nasib dan memilih menyambung kembali mimpinya melalui jalur pendidikan kesetaraan atau sekolah Paket di Bukit Meriam.

Sebagai anak kompleks yang tumbuh besar di Jalan Baru Mapiduba, Sepi menyaksikan sendiri bagaimana lingkungan sekitarnya pelan-pelan digerogoti oleh pengaruh negatif. Stigma

“zona merah” bukan sekadar isapan jempol bagi dirinya yang saban hari melihat realitas sosial di depan mata.

Sepi Kayame dan rekan-rekannya saat membaca buku. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

“Biasa saya lihat itu di dalam kompleks ada anak-anak mabuk. Biasa dong (mereka) duduk-duduk di pinggir jalan dong minum. Sampai biasa palang-palang ojek, sampai ojek-ojek tidak mau masuk ke sini,” tuturnya menceritakan.

Oleh karena itu, kehadiran lapak baca yang diinisiasi oleh Mecky Tebai bak sebuah angin segar di tengah gersangnya ruang positif bagi pemuda setempat. Bagi Sepi yang memang memiliki kegemaran membaca, gerakan ini memberikan wadah yang produktif untuk mengisi waktu luang sepulang sekolah Paket.

“Sangat bagus sekali yang Kakak Mecky arahkan ini. Teman-teman yang mungkin suka mabuk-mabukan, mereka bisa ikut datang membaca,” kata Sepi.

Bagi Sepi, aspal Jalan Baru Mapiduba kini bukan lagi sekadar tempat nongkrong yang rawan, melainkan sebuah ruang kelas terbuka tempat ia bisa menenun kembali masa depannya yang sempat terhenti. Dengan penuh keyakinan, ia berjanji untuk terus hadir di lapak baca tersebut setiap sore.

“Saya sangat senang sekali, nanti akan ikut terus di sini,” pungkasnya.

Harapan dari Balik Seragam Sekolah Menengah

Suara dukungan terhadap gerakan literasi ini tidak hanya datang dari mereka yang menempuh pendidikan kesetaraan, tetapi juga dari generasi muda yang masih aktif di bangku sekolah formal.

Di sudut lapak baca yang beralaskan karpet blaster itu, tampak Vani Wabiser, seorang siswa SMP Negeri 2 Nabire yang juga merupakan warga asli kompleks Jalan Baru Mapidoba.

Vani Wabiser. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Bagi Vani, membaca adalah sebuah kegemaran yang kini menemukan wadahnya. Kehadiran lapak baca di dekat rumahnya menjadi sebuah kemewahan sederhana yang sangat ia syukuri.

“Saya suka membaca, senang sekali ada lapak baca ini,” ujarnya dengan senyum khas remaja.

Sebagai anak yang tumbuh dan besar di lingkungan tersebut, Vani memiliki pandangan yang jujur mengenai tanah kelahirannya. Ia mencintai kompleks tempat tinggalnya, namun ia juga tidak menutup mata terhadap realitas sosial yang kerap mencoreng nama baik Mapidoba.

“Memang kompleks ini bagus, tapi banyak orang mabuk,” ungkapnya polos namun sarat makna.

Melihat inisiatif yang dibawa oleh Mecky Tebai, Vani memandangnya sebagai sebuah solusi yang bersumber dari hati. Ia meyakini bahwa lembaran-lembaran buku yang dibaca setiap sore memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan pikiran-pikiran yang salah dan merusak di kalangan pemuda.

Vani Wabiser saat membaca buku bersama rekan-rekannya. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

“Jadi pendapat saya tentang gerakan membaca ini bagus sekali. Supaya mengundang kakak-kakak, teman-teman, supaya yang punya pikiran-pikiran yang membawa mereka rusak tuh bisa kembali,” tutur Vani.

Bagi siswa SMP ini, buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan dan gambar. Ia percaya bahwa literasi adalah sebuah titik awal perubahan karakter.

“Mulanya dari membaca buku akan membawa pikiran mereka yang lebih baik, bagus, begitu,” pungkas Vani, menyuarakan keyakinan polosnya bahwa masa depan Mapidoba yang lebih cerah sedang dirajut dari atas aspal tempat mereka duduk sore itu.

 

Penulis: Kristin Rejang

Exit mobile version