SASAGUPAPUA.COM, Paniai – Merespons musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang melanda wilayah Paniai Barat selama lebih dari dua bulan, Kepala Suku Paniai Barat, Vitalis L. Pigai, mengeluarkan imbauan kesiapsiagaan bagi seluruh lapisan masyarakat di Obano. Kondisi kekeringan tanpa curah hujan ini dinilai telah memicu kekhawatiran serius terkait ketersediaan air bersih dan ancaman kebakaran.
“Diimbau kepada seluruh warga Paniai Barat untuk siap siaga menghadapi kondisi kekeringan yang mungkin terjadi, dan gunakanlah air dengan bijak,” tegas Vitalis L. Pigai.
Vitalis meminta seluruh masyarakat adat, aparat, ASN, hingga tokoh masyarakat untuk merubah kebiasaan lama dan mulai bergandengan tangan menjaga kelestarian alam di wilayah Paniai Barat Obano.
“Dalam proses musim kemarau ini, kami berharap kepada semua pihak untuk mengubah tata kebiasaan. Kali ini sangat dirasakan dengan musim kemarau hingga dua setengah bulan tanpa curah hujan, maka mari bergandeng tangan merawat sungai-sungai yang ada mulai dari yang tergolong ke muara Danau Paniai maupun balik gunung,” ujar Vitalis.
Guna memastikan ketersediaan air tetap terjaga, Vitalis menegaskan bahwa pihak adat akan mengambil alih pengaturan tata guna air apabila kondisi kekeringan ini terus berlanjut.
“Bila kemarau ini terus-menerus, maka kami Dewan Hukum Adat Paniai Barat mengambil alih untuk menghadirkan tata guna demi kelancaran mengonsumsi dan menggunakan air seperlunya,” tambah Vitalis.
Dalam imbauannya, Vitalis menetapkan aturan ketat terkait pencegahan kebakaran serta pengelolaan air sungai. Warga diwajibkan untuk hemat air bersih, memantau informasi BMKG, serta memastikan api tungku rumah tangga benar-benar padam setelah digunakan.
“Kami melarang keras masyarakat membuang sampah di sungai, serta dilarang membakar dedaunan atau membuka lahan di pinggir kali, danau, maupun perbukitan. Dilarang keras pula memberikan korek api kepada anak-anak di bawah umur 17 tahun demi mencegah musibah kebakaran,” tegas Vitalis.
Vitalis juga menetapkan skema pembagian waktu penggunaan air sungai, di mana warga diwajibkan mandi dan mencuci dari pagi hingga pukul setengah satu siang, lalu dilanjutkan khusus untuk konsumsi hingga pagi hari berikutnya.
“Kami memohon kepada semua pihak tanpa kecuali untuk mematuhi ketentuan, larangan, serta kewajiban ini, dan mari bergandengan tangan melestarikan lingkungan sebagai rumah kita demi mencegah kebakaran hutan dan lahan,” tutup Vitalis.