SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Musisi kenamaan Papua, Dave Baransano, memberikan pernyataan menohok dalam sesi live podcast pada acara Launching Panitia Papua Reggae Festival ke-XI yang digelar di Nabire, Jumat (27/3/2026).
Dengan nada bicara yang santai namun penuh penekanan, Dave menyoroti nasib musisi lokal jika mengikuti standart industri musik nasional yang menurutnya masih memposisikan orang Papua sebagai warga kelas dua.
Dave mengawali penyampaiannya dengan berbagi rahasia suksesnya menembus panggung internasional. Ia menekankan bahwa orisinalitas adalah satu-satunya kunci agar musisi Papua bisa dihargai di mata dunia.
“Satu kunci saja yang bikin saya sampai diundang ke luar negeri karena saya menyanyi lagu sendiri, bukan saya menyanyi orang lain punya lagu,” kata Dave.
Ia secara terbuka meminta rekan-rekan musisi di Papua untuk berhenti berharap pada industri musik di Jakarta yang menurutnya memiliki sistem tertutup bagi talenta dari Tanah Papua.
Dave memberi contoh beberapa nama besar asal Papua yang kini jarang terlihat di layar kaca nasional sebagai bukti nyata sulitnya menembus dominasi industri di ibu kota.
“Oke, jadi kalau ditanya soal harapan saya kepada teman-teman musisi, kakak-kakak dan adik-adik saya, kamu menyanyi lagu sendiri. Kita mau terkenal di Jakarta tidak akan sampai, lebih baik kita terkenal di luar negeri karena Jakarta punya sistem sendiri. Hari ini Nowela dan Edo Kondologit masih kita lihat, tapi kita jarang nonton mereka di televisi karena mau diputar sampai bagaimanapun kita masih manusia kelas dua di bangsa ini, termasuk penyanyinya begitu,” ungkapnya dengan lugas.
Kritik pedas juga dialamatkan kepada pemerintah daerah dan sponsor yang dianggap lebih memprioritaskan mendatangkan artis dari luar Papua ketimbang memberdayakan musisi lokal. Dave berpendapat bahwa kebiasaan mengundang artis luar hanya akan menutup pintu bagi talenta lokal untuk berkembang dan mendapatkan pengakuan yang layak di tanahnya sendiri.
“Ekspektasi pemerintah dan sponsor itu akan sangat tinggi ke artis luar, akhirnya yang di lokal tidak dianggap. Kita bicara banyak panjang lebar tentang pemberdayaan masyarakat Papua, pembinaan pemuda Papua, tapi kita sendiri bikin salah karena menyumbang untuk mendatangkan mereka dari luar. Padahal, Komunitas Rastafara hari ini sudah berdiri sampai Papua Reggae Festival yang ke-11. Kita adalah komunitas paling tua di Papua, sudah sekitar 30 tahun dan kita bikin festival ini hanya dengan iman kepada Tuhan,” lanjut Dave.
Bagi Dave, martabat musik Reggae di Papua bukan soal materi, melainkan soal harga diri dan persaudaraan. Ia bahkan tak segan menggambarkan ketidakadilan yang dirasakannya terhadap sikap industri musik di Jakarta yang jarang memberikan ruang timbal balik bagi musisi Papua.
“It’s not about the money but respect to one another. Kita punya pintu terbuka di internasional bukan di Jakarta. Tidak bisa, kita mau sampai Jakarta, tidak bisa. Hari ini kita bikin event reggae di Papua, kita bisa undang artis reggae dari Jakarta. Tapi mereka bikin event reggae di Jakarta, mereka tidak pernah undang artis reggae dari Papua. Makanya setelah saya pergi ke luar negeri, Jakarta tidak ada ukuran bagi saya. Ukuran kita musisi Papua bukan Jakarta, tapi internasional!” serunya yang disambut seruan setuju dari audiens.
Dave membuktikan ucapannya dengan membeberkan jadwal panggung internasionalnya yang padat, mulai dari undangan ke Amsterdam dan Spanyol pada Agustus, hingga ke Thailand pada Januari.
Dalam momen Launching Papua Reggae Festival ke-XI, Dave juga menghibur masyarakat dengan lantunan suaranya.
Suasana yang semula panas dengan kritik berubah menjadi syahdu dan penuh haru saat Dave mengajak seluruh masyarakat yang hadir untuk merenung. Ia meminta lampu dipadamkan dan mengajak hadirin mengheningkan cipta bagi situasi di Tanah Papua saat ini.
Sambil membawakan kalimat puitis, Dave mendoakan para korban pengungsian dan masyarakat adat yang sedang berjuang mempertahankan hutan mereka. Di tengah kegelapan, ia melantunkan lagu No Woman No Cry milik Bob Marley, menyebarkan energi positif yang menyentuh hati setiap orang yang hadir dalam peluncuran festival tersebut.
