Site icon sasagupapua.com

Dinkes Papua Tengah Gelar ILP Batch III: Strategi Dekatkan Akses Layanan Kesehatan Warga Hingga Pelosok

Suasana kegiatan pembukaan Workshop ILP Batch III Tahun 2026 bagi pegawai di Dinkes Provinsi Papua Tengah, Kamis (7/8/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah resmi menggelar Workshop Integrasi Layanan Primer (ILP) Batch III Tahun 2025 bagi pegawai di lingkungan Dinas Kesehatan.

Kegiatan yang berlangsung selama 10 hari, dari tanggal 7 hingga 16 Agustus 2026 di Nabire ini, dibuka langsung oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Obet Tekege, pada Jumat (7/8/2026).

Pelatihan ini diselenggarakan untuk mendukung kebijakan transformasi sistem kesehatan nasional yang dicanangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sekaligus memperkuat peran pegawai dinas sebagai fasilitator dan support system bagi 150 Puskesmas yang tersebar di delapan kabupaten se-Papua Tengah.

Mendekatkan Akses Layanan, Perkuat Fasilitator

Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Obet Tekege, menegaskan pentingnya pelatihan ini untuk mempercepat transformasi layanan kesehatan hingga ke tingkat masyarakat dasar, baik di wilayah pegunungan maupun pesisir.

“Kegiatan ini adalah untuk transformasi yang sama-sama harus kita perjuangkan. Pertama, tujuannya untuk mendekatkan akses layanan dengan masyarakat. Di Provinsi Papua Tengah ini terdapat 150 Puskesmas. Agar 150 Puskesmas ini bisa berjalan maksimal, mesti ada tim tenaga yang harus dilatih. Penguatan-penguatan terkait bentuk ilmu ini harus kita transfer,” ujar Obet.

Sekertaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Obet Tekege saat membawakan sambutan. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Obet menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah telah merancang pelatihan bertahap mulai dari ILP Batch 1, Batch 2, hingga Batch 3 dan 4. Pelatihan khusus bagi pegawai dinas provinsi ini disiapkan agar mereka dapat bertindak sebagai fasilitator pembinaan dan pengawasan di lapangan.

“Menurut Pak Kadis, kita di Dinas Provinsi ini bertindak sebagai support system. Jadi kita tingkatkan ilmu sebanyak-banyaknya, sehingga ilmu itu yang mau kita terapkan untuk pembinaan dan pengawasan di Puskesmas yang ada di 8 kabupaten,” jelasnya.

Terkait dengan pelaksanaan yang dibagi dalam beberapa gelombang, Obet menhelaskan alasan mengapa peserta Batch III dibatasi sebanyak 30 orang dan sisanya dialokasikan pada Batch IV di bulan September mendatang.

“Saat ini 30 orang yang kita ambil, nanti 30 orang sisanya di bulan September. Kenapa bulan September? Karena saat ini ada keterbatasan. Ada teman-teman yang ikut tata kelola manajemen, ada yang sibuk dengan kegiatan hari ulang tahun sehingga harus kembali, dan ada yang sedang turun ke daerah. Sehingga nanti fokusnya di bulan September baru kami lakukan Batch IV,” ungkapnya.

Pentingnya Disiplin Pelatihan, Evaluasi Pencatatan Pelaporan, dan Strategi Puskesmas Percontohan

Dalam pengarahannya, Obet menekankan pentingnya kedisiplinan dan fokus penuh seluruh peserta selama 10 hari pelatihan, mengingat tantangan pembinaan di Papua Tengah cukup berat.

“Kami minta Bapak/Ibu mengikuti aturan jadwal yang ada agar pemateri memberikan materi dengan baik dan peserta mengikuti dengan baik. Jangan sampai narasumber memberikan materi, baru kita keluar masuk. Hal ini difokuskan karena kita benar-benar harus terlatih. Membina 8 kabupaten ini sangat susah; tingkat pendidikan ada, tetapi kalau melihat dari Integrasi Layanan Primer, sama sekali belum. Karakter budaya kerja di beberapa kabupaten sangat susah, sehingga kita hadir untuk membina mereka, terutama dari sisi pencatatan dan pelaporan,” tegas Obet.

Foto bersama dalam kegiatan pembukaan Workshop ILP. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua).

Ia memperingatkan bahwa kelalaian singkat dapat mengaburkan pemahaman materi. “Satu jam saja kita lalai, ilmu ini akan hilang. Ada dua hal yang kita lihat: nilai itu bisa kita dapatkan, tetapi ilmu itu susah didapatkan. Sampai saat ini sistem pencatatan dan pelaporan dari klaster 1 dan klaster 2 masih kurang baik. Ini yang perlu kita perkuat agar ke depan pembinaan bisa lebih terarah,” tambahnya.

Usai acara pembukaan, Obet Tekege kembali menjelaskan kondisi topografi Papua Tengah yang terdiri dari wilayah pegunungan dan pesisir. Ia mengungkapkan bahwa dari hasil pemetaan provinsi, integrasi layanan primer di kabupaten belum berjalan dan masih menggunakan pola-pola lama.

“Integrasi layanan primer ini memanfaatkan semua per klaster mulai dari manajemen, ibu dan anak, remaja, hingga lansia. Paket program ini yang nantinya dilakukan Puskesmas setiap hari. Datanya di-input dalam aplikasi sehingga dapat dipantau. Kalau Puskesmas sudah jalan, perencanaan kebutuhan obat dan manajemen keuangan akan teratur dengan baik. Ini juga untuk mendukung program Gubernur terkait penguatan Puskesmas percontohan,” jelas Obet.

Sebagai langkah nyata, Provinsi Papua Tengah telah menetapkan 8 Puskesmas lokus percontohan. Di Puskesmas percontohan tersebut, tenaganya dilatih, peralatan dilengkapi, dan sistemnya diatur oleh provinsi agar kabupaten bisa mengadopsinya.

“Nanti ada pemetaan penugasan: siapa yang bertanggung jawab di daerah gunung, dan siapa di daerah pesisir. Kami juga mendatangkan narasumber dari Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Makassar sejak Batch 1 dan 2 agar kegiatan berjalan baik. Kami berharap pimpinan di 8 kabupaten memantau dan membina alat serta tenaga yang sudah kami berikan agar ILP benar-benar diterapkan di wilayah kerjanya,” tutup Obet.

Persiapan Tenaga Kesehatan Terintegrasi dan Praktek Lapangan

Ketua Panitia Kegiatan, Sutirah Kobogau, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai konsep dasar serta penerapan praktis ILP sesuai arahan Kementerian Kesehatan RI.

“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep dasar implementasi ILP, menyamakan persepsi pelaksanaan di fasilitas pelayanan kesehatan, serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang terintegrasi, berkesinambungan, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat,” jelas Sutirah.

Ketua Panitia Kegiatan, Sutirah Kobogau. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

Sutirah merincikan bahwa pelatihan mencakup lima klaster utama: Klaster 1 (Manajemen), Klaster 2 (Kesehatan Ibu dan Anak/KIA), Klaster 3 (Usia Sekolah, Remaja, dan Kesehatan Reproduksi), Klaster 4 (Lansia), serta Klaster 5 (Cross-cutting/Lintas Klaster).

“Kegiatan tidak hanya dilakukan di dalam ruangan. Peserta mengikuti materi kelas selama sembilan hari, dan pada satu hari sisanya mereka akan turun langsung melakukan praktek lapangan di Puskesmas Seringgu dan Puskesmas Rimba Jaya. Kedua Puskesmas tersebut dipilih sebagai lokus pelatihan karena sudah siap menuju tahap Puskesmas berbasis ILP,” paparnya.

Harapan Hasil Nyata dari Tim Pengajar

Perwakilan Narasumber dari Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Makassar, Muhammad Iskandar Hafid, menyambut baik komitmen Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakatnya.

Perwakilan Narasumber dari Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Makassar, Muhammad Iskandar Hafid saat membawakan sambutan. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

“Kami sangat senang bisa kembali ke sini untuk berbagi bersama. Apa yang kita lakukan ini adalah bagian dari upaya membangun Papua Tengah ke arah yang lebih baik di bidang kesehatan. Kami berharap peserta betul-betul antusias dan serius mengikuti kegiatan ini. Pembiayaan yang dikeluarkan tidak sedikit, sehingga harus ada *output* dan hasil nyata yang didapatkan oleh para peserta,” ungkap Iskandar.

Exit mobile version