SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Senja di Nabire, Senin (22/6/2026), menjadi saksi bisu betapa besarnya tekad anak muda Papua untuk melawan ketidaktahuan. Di dalam Asrama Putri Paniai, sebuah ruangan dengan dinding semi permanen dan plafon yang sudah lapuk, puluhan peserta duduk melingkar dalam keheningan. Aliran listrik yang padam memaksa diskusi panjang sejak pukul 14.00 hingga 18.00 waktu setempat berlangsung hanya bersumber dari cahaya infokus dan beberapa handphone.

Kondisi plafon di Asrama Putri Paniai tepatnya diruangan yang digunakan untuk kegiatan. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
Namun, kegelapan itu tidak memadamkan semangat. Ditemani lapak baca, kopi lokal ‘Ko Puaz’, serta camilan pisang, jagung, dan kacang, para peserta menyerap ilmu “daging” dari dr. Daniel Wakei. Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Papua ini menjadi oase di tengah tingginya angka HIV/AIDS di Papua Tengah.
Diskusi yang berjudul Pelatihan Pendidikan Reproduksi : Mengenal Alat-Alat Reproduksi dan Fungsinya ini mengangkat tema ‘Cegah dan Tangani HIV/AIDS’.
Edukasi Anatomi sebagai Benteng Pertahanan
Dokter Daniel Wakei, narasumber yang juga bertugas di Puskesmas Samabusa dan KPAP Papua Tengah, membuka sesi dengan membedah anatomi reproduksi sebagai garda terdepan kesehatan.
“Materi ini penting agar kita mengenal kembali alat reproduksi karena ini adalah tubuh kita sendiri,” ujar dr. Daniel. Menurutnya, pemahaman mendasar ini sering terlupakan sejak masa sekolah, padahal ketidaktahuan dalam menjaga organ reproduksi adalah celah masuknya berbagai Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti sifilis, gonorrhea, hingga HIV/AIDS.
Dokter Daniel sangat mendukung inisiatif sosialisasi ini karena ketiadaan kurikulum kesehatan reproduksi yang memadai di sekolah formal. Ia menekankan bahwa edukasi harus terus dilakukan agar pengetahuan tetap segar dan bisa dibagikan kepada keluarga serta lingkungan pergaulan.
Terkait stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), ia mengajak masyarakat untuk berhenti menghakimi.
“Tujuan kita periksa itu untuk kebaikan diri sendiri. Jadi kita tidak usah berfokus pada apa yang orang lain pikirkan tentang kita, tapi fokus pada bagaimana tubuh kita tetap sehat. Kalau hasilnya negatif kita bisa terus menjaga, kalau positif kita bisa cepat minum obat agar tidak jatuh ke stadium lanjut,” ungkapnya.
dr. Daniel menekankan tes deteksi dini adalah bentuk tanggung jawab mutlak terhadap diri sendiri demi produktivitas masa depan.
Pentingnya Seleksi Pasangan dan Semangat Pantang Menyerah
Natalia Tebai, salah satu peserta, menyampaikan refleksi mendalam mengenai tanggung jawab generasi muda dalam memutus rantai penularan. Baginya, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.
“Sebelum melangkah ke jenjang serius, pastikan pasangan kita mengidap penyakit atau tidak. Kita harus lihat gejalanya, seperti daya imun yang terus menurun dan tubuh yang makin mengurus,” ungkap Natalia.
Dirinya mendorong teman-teman sebayanya untuk tidak malu melakukan pemeriksaan kesehatan bersama pasangan ke dokter spesialis untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius (menikah) hal ini dinilai sebagai sebagai langkah preventif yang bijak.
Natalia juga dengan tegas meminta sesama generasi muda untuk tidak memberikan stigma buruk kepada mereka yang sudah terjangkit.
Menurutnya, selama penderita memiliki keinginan untuk sembuh dan mencari solusi medis, mereka harus dirangkul. “Jangan pernah minder dan merasa bahwa sudah kena penyakit akhirnya tidak tertolong. Jangan berkecil hati. Kita punya dana otonomi khusus untuk kesehatan, jadi cari tahu siapa yang bisa membantu dan keluarga yang paham soal medis. Harus semangat, jangan pernah patah semangat,” pungkasnya.
Menjaga Tubuh dari Pergaulan Bebas
Ketua Asrama Putri Paniai, Meri Mote, mengungkapkan kesan mendalamnya atas pelatihan tersebut. Baginya, materi ini adalah peringatan keras bagi generasi muda untuk lebih menghargai tubuh mereka.
“Materi ini sangat mendukung generasi muda Papua untuk berkembang dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa merusak tubuh dan masa depan kita,” tutur Meri.
Meri sangat berterima kasih karena pihak penyelenggara yakni Yapkema menghadirkan pemateri yang bersedia berbagi ilmu secara gratis.
Baginya, pesan paling utama adalah bagaimana setiap perempuan di asrama dapat menjaga diri dengan baik agar terhindar dari pergaulan bebas dan penularan virus yang mengancam nyawa.
Tubuh sebagai Bait Suci yang Harus Terlindungi
Tokoh pemuda dan gembala, Apaxe Murib, memberikan perspektif spiritual yang kuat melalui ayat Alkitab 1 Korintus 6:19 tentang tubuh sebagai bait Roh Kudus. Bagi Apaxe, pelatihan ini adalah wadah pembentukan karakter yang komprehensif, mencakup pemahaman medis hingga kepedulian sosial.
Dari kegiatan ini Apaxe mengatakan dirinya bisa memahami lebih mendalam bagaimana pengertian HIV dan AIDS serta perbedaannya, mengetahui cara penularan dan cara pencegahan HIV/AIDS.
Selain itu, lewat kegiatan ini ia juga bisa lebih memahami terkait alat-alat reproduksi laki-laki dan perempuan serta fungsi masing-masing.
Yang terpenting juga adalah memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak usia muda.
“Menumbuhkan sikap saling menghormati, menjaga diri, dan tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV/AIDS serta mengetahui pentingnya pendidikan reproduksi sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kesehatan masyarakat,” ungkapnya.
Apaxe mendesak pemerintah untuk lebih serius dalam menyediakan akses kesehatan dan program penyuluhan yang berkelanjutan hingga ke pelosok daerah.
Ia juga berharap pendidikan YAPKEMA terus menjadi tempat pembentukan karakter, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan yang sehat melalui pendidikan reproduksi, pendampingan rohani, serta pembinaan generasi muda yang bertanggung jawab.

Herman Degei dari Yapkema saat membaca hasil tulisan peserta di sticky note usai kegiatan. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
“Tokoh pemuda diharapkan menjadi teladan dalam menjaga kesehatan, memberikan edukasi yang benar, dan mengajak generasi muda hidup dengan nilai, disiplin, serta masa depan yang sehat,” pesan Apaxe.
Realita Statistik dan Panggilan untuk Bergerak
Manajer Kepemudaan YAPKEMA, Mis Murib, memaparkan fakta yang sangat memprihatinkan sekaligus mendesak. Ia mengungkap bahwa jumlah kasus HIV/AIDS di Papua Tengah sudah mencapai 24 ribu, untuk di Nabire menginjak angka 10 ribu lebih. Menurutnya, angka ini harus ditangani dengan kerja kemanusiaan yang masif.
“10 ribu itu bukan angka statistik, tapi itu nyawa, kumpulan nyawa yang ada di dalam,” ujar Mis Murib.
Untuk itu ia menjelaskan bahwa sejak awal 2025, YAPKEMA telah bergerak aktif menyambangi sekolah (SMA/SMK), kampus seperti STT Walterpost, di Distrik Teluk Kimi hingga berbagai asrama dan wilayah lainnya untuk memberikan edukasi langsung.
Mis Murib secara tegas menyoroti kurangnya ruang edukasi yang diberikan oleh berbagai institusi atau lembaga terkait bagi warga. Ia berharap dengan pelatihan ini, anak muda Papua tidak hanya paham bahaya HIV, tapi juga sadar akan pentingnya pengobatan ARV.
“Tujuan kami adalah mengubah stigma. Masyarakat mungkin menganggap orang yang terjangkit itu buruk, terkutuk, bahkan akan mati. Kami ingin membangun kesadaran bahwa mereka punya harapan hidup yang sama kalau mereka disiplin minum obat ARV,” jelasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan desakan keras kepada pemerintah agar tidak lagi pasif.

Para peserta tampak antusias menuliskan poin-poin yang didapatkan dalam materi dan pesan-pesan untuk anak muda Papua. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)
“Kami berharap pemerintah dalam hal Dinas Kesehatan dan KPA, baik provinsi maupun kabupaten, segera mengadakan kegiatan semacam ini secara massal di tingkat warga, di kampung, kota, maupun di mana pun warga berada. Kita harus mengatasi pola pikir dan stigma yang selama ini ada bersama-sama,” pungkas Mis Murib.
Penulis: Kristin Rejang







