Suasana di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire, Jumat (19/6/2026), terasa begitu menyesakkan
Di ruang perawatan yang berdinding biru muda itu, Mama Aliana Pogau berbaring lemas. Dengan mata yang tertutup, tubuhnya hanya mampu menghadap ke kiri, menahan nyeri yang menghujam dari lengan tangan kanannya yang dibalut kain perban putih.
Sebuah selang infus menancap di kulitnya, menjadi saksi bisu perjuangan seorang ibu yang baru kemarin masih kuat berjuang di kebunnya.
Mama Aliana Pogau, seorang perempuan tangguh berusia sekitar 45 tahun, kini harus menanggung beban akibat konflik bersenjata yang tak pernah ia kehendaki. Kejadian memilukan itu bermula pada Kamis (18/11/2026) siang, sekitar pukul 12.00 WIT.

Kondisi lengan Mama Aliana Pogau yang dibalut dengan perban, Jumat (19/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.
Saat itu, Mama Aliana baru saja pulang dari kebun membawa ubi. Layaknya rutinitas harian yang ia cintai sebagai seorang petani, ia singgah di kali untuk mencuci hasil buminya.
Namun, sebuah ledakan yang diduga berasal dari granat milik aparat militer itu tiba-tiba merobek kesunyian di Kampung Danggoa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
“Kalau dekat dengan Mama, pasti Mama sudah hancur. Tapi karena ledakannya agak jauh, tapi tetap mengenai Mama,” ujar Jemi Nabelau, putra dari Mama Aliana, dengan suara bergetar menahan kesedihan.
Jemi mengenang bagaimana ibunya ditemukan terkapar tak berdaya di samping tumpukan petatas yang sedang dicuci, dengan darah yang terus mengucur keluar dari lengan kanannya yang terkoyak.
Hidup Mama Aliana memang sangat sederhana; ia habiskan hari-harinya di rumah dan kebun, menanam dan bertani untuk menyambung hidup sepeninggal suaminya.
Kini, perempuan yang memiliki empat orang anak itu harus berjuang melawan rasa sakit hebat, menunggu tindakan operasi yang dijanjikan akan dilakukan esok hari.
Kecemasan Ruang Bedah
Keluarga besar Mama Aliana tak henti-hentinya berjaga di ruangan perawatan khusus untuk pasien bedah itu dengan penuh kecemasan dan harapan.
Bagi mereka, luka yang dialami Mama Aliana bukanlah luka sembarangan. Jemi mengaku sangat khawatir dengan lambatnya penanganan medis sejak ibunya dirujuk dari RSUD Sugapa pada Jumat siang pukul 11.00 WIT.
Kekhawatiran keluarga ini beralasan. Mereka masih menyimpan trauma mendalam atas tragedi yang menimpa adik Mama Aliana yang juga menjadi korban ledakan bom di Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni, Kampung Mbamogo, Distrik Agisiga, pada Minggu (17/5/2026) lalu.
Kala itu, sang adik mengalami luka parah akibat ledakan bom, sempat dilarikan ke rumah sakit di Timika, namun nyawanya tidak tertolong.

Anak dari Mama Aliana Pogau, Jemi Nabelau saat menjelaskan kondisi mama Aliana kepada Ketua Pokja Adat MRP Papua Tengah, Yulius Wandagau saat berkunjung ke RSUD Nabire, Jumat (19/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.
“Kami sangat takut kondisi Mama sama seperti adiknya kemarin. Jadi, melihat luka Mama yang sekarang dibiarkan terikat saja tanpa tindakan operasi segera, kami sangat cemas infeksi akan menjalar,” ungkap Jemi.
Jemi kemudian menjelaskan ketika Mama Aliana mengalami musibah tersebut, masyarakat Kampung Danggoa langsung bertindak memikul mama dengan bantuan sehelai sarung kemudian dijadikan tandu.

Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak Jaya, Yance Yogi, Pr (Baju abu-abu kenakan topi noken) saat ikut mengevakuasi korban ke RSUD Sugapa. (Foto: Ist)
Masyarakat mengangkat dari lokasi kejadian ke mobil lalu diantar ke rumah sakit Sugapa.
Di Rumah sakit Sugapa, Mama Aliana sempat mendapatkan perawatan medis, lukanya dibalut perban kemudian pada Jumat (19/6/2026), ia dirujuk dan berangkat ke Nabire sekitar pukul 11.00 WIT. Mama Aliana juga didampingi oleh seorang petugas kesehatan dari Sugapa.
“Kami merasa dari jam 11 siang sampai jam 19.00 malam ini, tidak ada penindakan terbaik. Sejak kemarin luka itu hanya diikat (perban-red) dan dibiarkan begitu saja sampai sekarang. Kalau sudah dibawa ke rumah sakit, harusnya ada kontrol dari petugas kesehatan dari Sugapa dan pemerintah. Petugas dari Sugapa yang mendampingi seharusnya menjalin komunikasi dengan petugas di sini, menyampaikan rujukan dengan jelas supaya dokter bisa segera bertindak,” katanya.
Ia menegaskan, luka yang dialami oleh Mama Aliana ini bukanlah kecelakaan biasa.
“Ini bukan karena tabrakan, bukan jatuh. Ini karena ledakan bom atau granat! Jadi kami minta penanganan yang semaksimal mungkin. Saat ini mama masih bisa mendengar dan bernafas harusnya ditangani dengan maksimal,” ujar Jemi.

Ketua Pokja Adat MRP Papua Tengah, Yulius Wandagau saat berkunjung ke RSUD Nabire melihat kondisi mama Aliana Pogau, Jumat (19/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.
Jemi juga melayangkan tuntutan keras kepada pemerintah dan DPR agar bisa menangani situasi konflik yang terjadi di Intan Jaya.
“Kepada pemerintah Intan Jaya, dalam hal ini DPRD dan Bupati, tolong lihat kondisi kami. Sudah berapa banyak warga kampung yang menjadi korban?. Kami minta ada tindakan nyata di lapangan. Kami tidak mau isu ini hanya beredar di media sosial atau dianggap angin lalu. Sebagai keluarga dan bagian dari intelektual, saya sampaikan bahwa kami menuntut perlindungan yang nyata bagi masyarakat sipil yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang konflik ini,” tegas Jemi.
Di lokasi yang tidak berjauhan dengan tempat kejadian perkara, seorang warga lainnya bernama Mama Ottopina Wayau juga menjadi korban dalam peristiwa yang sama. Ia terluka saat sedang memanen sayur di tengah eskalasi konflik antara TNI-POLRI dan TPN OPM.
Seruan Kemanusiaan dari MRP Papua Tengah
Ketua Pokja Adat MRP Papua Tengah, Yulius Wandagau, yang datang menjenguk Mama Aliana di Nabire pada pukul 19.10 WIT, tampak sangat terpukul dengan rentetan kejadian yang terus berulang. Baginya, mama-mama, orang tua, hingga anak-anak di Papua telah menjadi korban yang paling rentan dalam konflik yang tidak kunjung usai.
“Sebagai anak Intan Jaya, saya kecewa atas tindakan satuan-satuan yang ada di lapangan. Saya selalu sampaikan, apabila terjadi kontak senjata, lakukanlah jauh dari pemukiman warga, gereja, dan sekolah. senjata lawan senjata, jangan libatkan warga sipil yang tidak berdosa,” ungkap Yulius dengan nada tegas.
Yulius memberikan penegasan keras terkait kehadiran militer di wilayah sipil.
“Saya tegaskan, penempatan pasukan non-organik di kampung-kampung ini harus segera dievaluasi total. Kami meminta negara untuk menarik semua pasukan non-organik dari titik-titik pemukiman warga, mulai dari Distrik Wandai hingga Agisiga, dan kini ada di sepanjang rute dari Kabupaten Paniai sampai Mulia. Bila perlu, tarik semua pasukan dari tanah Papua agar masyarakat bisa kembali bernapas lega,” ujarnya dengan lantang.
Ia menekankan masyarakat bukanlah musuh yang harus diawasi dengan senjata di setiap sudut kampung.
“Tidak boleh lagi ada pasukan yang menjaga di titik-titik nafkah masyarakat. Masyarakat kami bukan TPN OPM, mereka hanya ingin mencari kayu bakar, berkebun, dan mencari makan dengan bebas. Kehadiran pasukan di setiap jengkal tanah kampung justru menciptakan teror dan ketakutan yang membuat warga sipil terus menjadi korban. Ini adalah harga mati: tarik pasukan non-organik dan hentikan penggunaan bom atau granat di wilayah pemukiman,” ungkapnya.

Ketua Pokja Adat MRP Papua Tengah, Yulius Wandagau saat berkunjung ke RSUD Nabire melihat kondisi mama Aliana Pogau, Jumat (19/6/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.
Yulius juga menyoroti kegagalan perlindungan warga sipil atas rentetan peristiwa kemanusiaan yang terjadi di Papua Tengah.
“Kasus di Dogiyai, Sugapa, Soanggama, hingga Kembru dan Pogoma, sudah ratusan nyawa melayang. Disini siapa yang bertanggung jawab? Kami meminta pemerintah pusat, Presiden sebagai panglima tertinggi, hingga Kapolda dan Pangdam, untuk segera mengevaluasi penempatan pasukan ini sebelum jatuh lebih banyak lagi korban tak berdosa. Kami tidak mau lagi ada korban berjatuhan. Jangan lagi gunakan granat atau bom yang dampaknya tak bisa dikontrol. Kasihan masyarakat kecil,” serunya.
Ia menambahkan desakan terkait langkah konkret bagi pemerintah.
“Pemerintah daerah, bupati, dan DPRD harus segera duduk bersama, bangun komunikasi yang kuat dengan pemerintah pusat, kementerian terkait, hingga Komnas HAM. Kami perlu mencari solusi agar Papua ini aman, beri rekomendasi kepada Presiden sebagai panglima tertinggi, bagaimana supaya perlindungan warga sipil menjadi prioritas utama. Kita harus melibatkan semua pemangku kepentingan untuk menciptakan situasi yang aman, karena masyarakat kita bukan untuk dikorbankan, melainkan untuk dilindungi agar bisa hidup aman dan damai di negerinya sendiri. Karena masyarakat masuk ke hutan itu mereka cari nafkah, kayu bakar, berburu kemudian bisa berkebun. Jadi tidak boleh lagi pasukan non-organik itu setiap titik-titik mereka jaga. Karena masyarakat mau mencari nafkah dengan bebas jadi tidak boleh di jaga karena mereka bukan TPN OPM. Ini tidak boleh,” tegasnya.
Yulius juga berharap agar penanganan medis terhadap mama Aliana yang kini di RSUD Nabire maupun mama Ottopina Wayau harus ditangani dengan serius.
“Kami meminta kepada pihak medis agar menangani dengan baik, segera mengambil tindakan sebab luka ini bukan luka biasa. Jangan sampai ada serpihan-serpihan bom yang akan membuat infeksi dan memperparah kondisi mama Aliana juga kondisi mama Ottopina yang ada di Intan Jaya. Supaya bisa cepat sembuh dan bisa cepat pulang dan lakukan aktivitas. Sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan karena konflik bersenjata, untuk itu mari para pemangku kepentingan, kita duduk bersama-sama untuk selesaikan dan berusaha bagaimana menciptakan situasi yang aman agar masyarakat bisa nyaman di negerinya sendiri,” pungkasnya.
Penulis: Kristin Rejang
