SASAGUPAPUA.COM, Manokwari – Di tengah keriuhan euforia Piala Dunia yang menyelimuti Kota Manokwari, ratusan anak muda yang tergabung dalam komunitas fans tim nasional Senegal memilih jalan yang berbeda.
Mereka tidak hanya merayakan sepak bola, tetapi juga memanfaatkan momentum konvoi untuk menyuarakan aspirasi mendalam terkait situasi kemanusiaan di Tanah Papua.
Arnol Halitopo, Ketua Fans Senegal di Manokwari, mengisahkan bahwa kecintaannya pada Senegal telah dipupuk sejak 2013.
Bahkan, pada Piala Dunia 2018, ia rela melukis sendiri bendera negara Afrika tersebut di atas kain putih karena sulitnya menemukan atribut di Manokwari saat itu. Namun, baginya, dukungan terhadap Senegal kini bukan sekadar fanatisme olahraga, melainkan simbol solidaritas yang memiliki akar sejarah yang kuat dan relevan dengan realitas di Papua.
“Kami menyadari adanya kritik di media sosial mengenai konvoi pendukung negara luar di tengah situasi Papua yang sedang tidak baik-baik saja. Kami ingin menegaskan bahwa meskipun kami menyukai sepak bola dunia tapi kami tidak melupakan tanah ini. Lewat diskusi dan nobar yang kami gelar pada Minggu (14/6/2026) dengan tema ‘Piala Dunia Dalam Rekonsiliasi Konflik Dunia’, kami menggali banyak perspektif sejarah,” ujar Arnol.
Dalam diskusi tersebut, para fans Senegal menemukan benang merah yang menarik. Senegal, yang merupakan bekas koloni Prancis, memiliki catatan sejarah panjang dalam melawan kolonialisme. Senegal memang meraih kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1960.
Perjuangan kemerdekaan mereka yang panjang melawan kolonialisme menjadi paralel yang sangat relevan dengan semangat perjuangan masyarakat adat di banyak tempat, termasuk Papua.
Lebih dari itu, diskusi tersebut mengungkap adanya kedekatan sejarah antara Papua dan Senegal pada dekade 1960-70an.
Sejak era tersebut, narasi dekolonisasi bergema kuat di berbagai belahan dunia, dan dalam sejarah pergerakan politik Papua, Senegal kerap disebut-sebut sebagai salah satu negara yang memiliki kedekatan diplomatis serta memberikan ruang bagi perjuangan kemerdekaan Papua di level internasional, termasuk melalui pengakuan keberadaan organisasi perjuangan Papua di Dakar pada masa lalu.
Menyadari adanya ruang demokrasi yang timpang di mana aksi demonstrasi sering kali dibatasi, sementara konvoi massa justru diberi ruang luas oleh pihak keamanan Arnol dan rekan-rekannya memutuskan untuk menggunakan momen konvoi tersebut sebagai mimbar rakyat. Pada Senin (15/6/2026), ratusan massa fans Senegal turun ke jalan tidak hanya dengan bendera, tetapi juga membawa pesan-pesan kritis yang tertulis di kain putih.
Empat poin utama yang mereka suarakan di antaranya penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN), penegasan bahwa West Papua bukanlah tanah kosong, peringatan akan status darurat militer di Papua, serta seruan untuk menangani krisis kemanusiaan yang sedang terjadi.
“Kami ingin menjadi contoh bahwa fans tim negara lain pun bisa bersuara. Kalau ruang aksi dibatasi, maka konvoi ini menjadi celah untuk menyampaikan pesan. Kami mengajak kawan-kawan fans dari negara lain, seperti pendukung Argentina, Brazil, Belanda, atau Jerman yang memiliki basis fans kuat untuk ikut peka. Jangan biarkan euforia sepak bola membuat kita lupa pada situasi di tanah kita sendiri,” tegas Arnol.
Arnol mengatakan bahwa pilihan mereka kepada Senegal bukan soal diskriminasi rasial antara kulit hitam dan kulit putih, melainkan soal keberpihakan pada nilai-nilai keadilan. Ia berharap inisiatif ini dapat memantik kesadaran kolektif di kalangan komunitas olahraga di Papua agar tidak terbuai oleh euforia, namun tetap kritis terhadap situasi daerah.
Arnol mengatakan kegiatan ini bukan pertama dan terakhir namun komunitasnya untuk terus bersuara dengan mengadakan nobar, diskusi dan konvoi selanjutnya.
“Konvoi berikutnya mungkin akan kami buat dengan gaung yang jauh lebih besar lagi. Kami sudah termakan euforia Piala Dunia, tapi kami tidak akan membiarkan ruang ini tertutup, kami akan terus menggunakan setiap kesempatan untuk menyuarakan apa yang terjadi di tanah Papua, karena kami tahu ruang demokrasi di sini sedang dibatasi, dan kami tidak akan diam begitu saja,” pungkasnya.
Penulis: Kristin Rejang






