Menu

Mode Gelap

Pemerintahan · 20 Mar 2026 21:40 WIT

Evaluasi MBG Nabire: Marsel Asyerem Pastikan Sistem Baru dan Tambahan Dapur Mulai April


Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Marsel Asyerem Perbesar

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Marsel Asyerem

SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Marsel Asyerem, bersama Dandim 1705/Nabire, Letkol Inf Marudut H. Simbolon, menggelar pertemuan sekaligus buka puasa bersama seluruh jajaran Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG), mitra, dan tenaga ahli di Nabire, Jumat malam (20/3/2026).

Pertemuan ini juga difokuskan pada evaluasi menyeluruh terkait kendala pelayanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

“Malam hari ini bersama dengan Dandim 1705/Nabire, Letkol Inf Marudut H. Simbolon, kita merayakan puasa terakhir secara nasional, tapi juga kita melaksanakan evaluasi terkait pelaksanaan program makan bergizi gratis di mana kita baru saja menghadapi sedikit masalah pelayanan,” ujar Marsel.

Ia menambahkan bahwa kehadiran Dandim selaku pembina MBG di Nabire

- Advertising -
- Advertising -

“Kehadiran Bapak Dandim sebagai pembina MBG di Kabupaten Nabire ini cukup menguatkan kami dalam pelayanan supaya nanti pada tanggal 30 Maret 2026 MBG itu akan kembali beroperasi dan kita bisa meminimalisir segala macam risiko dan tidak boleh ada lagi kesalahan atau kejadian serupa,” ujar Marsel Asyerem saat memberikan keterangan resmi.

Pertemuan tersebut melibatkan seluruh elemen penting, mulai dari kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mitra, yayasan, ahli gizi, akuntan, hingga asisten lapangan (aslap).

Marsel menjelaskan selama masa transisi ini, kebersihan fasilitas menjadi prioritas utama. Sesuai petunjuk teknis BGN, seluruh karyawan tetap diarahkan untuk masuk bekerja membersihkan dapur, halaman, dan lingkungan sekitar.

“Sehingga mereka itu tetap digaji. Kalau mereka tidak bekerja, berarti nanti gaji mereka dipotong. Ini momentum evaluasi besar-besaran supaya nanti begitu beroperasi kembali sudah tidak ada masalah,” jelas Marsel.

Salah satu perubahan signifikan yang akan diterapkan adalah penyeragaman waktu konsumsi. Marsel mengatakan anak-anak harus sudah menikmati makanan tepat pada pukul 09.00 WIT. Ia mengkhawatirkan jika jadwal setiap dapur berbeda-beda, makanan bisa terlambat sampai jam 11.00 WIT dan berisiko basi.

“Jangan sampai karena tidak bisa makan di sekolah, lalu dibungkus dan dibawa pulang, bisa terjadi sakit perut karena makanan tersebut sudah basi,” katanya.

Terkait transparansi, Marsel berencana lebih masif melibatkan stakeholder, termasuk komite sekolah dan guru, untuk rutin mengunjungi dapur.

“Sebenarnya sudah ada agenda, cuma mungkin dari dapur yang belum membuka diri. Kita akan buat jadwal rutin mingguan atau bulanan agar guru dan komite melihat siapa yang mengelola dan bagaimana lokasinya.

Bahkan tanggal 30 Maret nanti, kita agendakan ada kunjungan langsung dari anak-anak TK ke dapur,” tambahnya.

Mengenai kendala logistik, Marsel mengakui adanya tantangan berat di SPPG Yaro yang melayani 2.900 siswa di 20 sekolah dengan jarak tempuh mencapai 12 kilometer. Padahal, standar SOP BGN hanya menetapkan radius 6 kilometer dengan maksimal dua armada pengantar. “Kalau kita kaku ikut SOP, sayang sekali anak-anak jadi tidak makan. Jadi kami minta kesediaan dari dapur saja, kalau memang sanggup silakan dilayani. Namun, kami akan diskusikan dengan pimpinan untuk kemungkinan menambah armada jika memang sangat dibutuhkan,” ungkapnya.

Untuk memperluas jangkauan, Marsel membawa kabar baik bahwa akan ada penambahan dua unit dapur baru di wilayah Kalibobo dan Girimulyo pada awal April mendatang.

“Dua dapur itulah yang akan menjadi tambahan dari BGN ke kita, sehingga total nanti di awal April ada 14 dapur. Ini akan memudahkan pelayanan ke sekolah-sekolah yang belum terlayani,” tuturnya.

Marsel juga mengatakan pihaknya memberikan perhatian khusus pada ketersediaan tenaga ahli. Ia menyebut profesi ahli gizi (S.Gz) saat ini sangat sulit dicari karena dibutuhkan secara serentak di seluruh Indonesia.

“Di Nabire kita masih membutuhkan tenaga ahli gizi. Maka kepada Bapak, Ibu, Saudara yang punya keluarga dengan keahlian S1 ahli gizi, bisa langsung mendaftar untuk membantu kami di dapur,” pungkas Marsel.

Berikan Komentar
penulis : Kristin Rejang
Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Waket IV DPRPT Tegaskan Saham Freeport Hasil Divestasi Harus Diserahkan ke Provinsi Papua Tengah

18 Maret 2026 - 22:15 WIT

LENSA FOTO: Suasana Penuh Keakraban Dalam Momen Sertijab Kepala Distrik Iwaka

17 Maret 2026 - 19:08 WIT

Sertijab Kepala Distrik Iwaka: Kadistrik Jhon Kemong Siap Wujudkan Visi Bangun Kampung

17 Maret 2026 - 15:08 WIT

John Gobai: Implementasi PP 106 Tahun 2021, Jabatan Strategis Wajib Diprioritaskan bagi Anak Asli Papua

14 Maret 2026 - 18:53 WIT

Dinas Peternakan Nabire Lakukan Restocking Bibit Babi Guna Pulihkan Populasi Pasca Wabah ASF

12 Maret 2026 - 12:13 WIT

Wujudkan Kampung Nelayan Hub, DPR Papua Tengah Minta Pemkab Mimika Tuntaskan Aset Pomako

11 Maret 2026 - 15:04 WIT

Trending di Pemerintahan