Site icon sasagupapua.com

FemalEast: Rapper Muslim Berdarah Papua yang Menjadikan Rima Sebagai Parlemen Suara Perempuan

FemalEast

Di tengah dominasi laki-laki dalam kancah musik hip-hop tanah air, muncul sebuah nama yang membawa identitas tajam, perpaduan antara intelektualitas dan keresahan sosial. Yunita Mansur, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung FemalEast, bukan sekadar rapper. 

Perempuan berdarah NTT-Papua (Wasior) ini adalah seorang sarjana Hubungan Internasional (HI) yang memilih mikrofon sebagai alat diplomasi untuk menyuarakan isu perempuan

Berawal dari Rasa Penasaran

Langkah Yunita di dunia hip-hop bermula pada tahun 2015. Saat itu, ia sering memperhatikan teman-temannya di tim cheerleaders berlatih dengan musik campuran hip-hop yang energik.

Rasa penasaran membawanya menggali lebih dalam ke skena hip-hop lokal.

“Saya penasaran kenapa musiknya kayak enak sekali begitu, saya cari-cari tahu akhirnya dengarkan hip-hop lokal,” kenangnya ketika diwawancarai media ini.

Kesempatan emas datang ketika ia bergabung dengan kolektif yang dibentuk oleh rapper senior Papua, Epo D’Fenomeno, yakni Rumfararur.

Kini, setelah menempuh perjalanan panjang, Yunita berdiri tegak di atas kakinya sendiri sebagai solois.

Makna di Balik Nama “FemalEast”

Nama panggungnya pun memiliki cerita unik. Disarankan oleh Epo D’Fenomeno seorang rapper Papua, nama FemalEast menggantikan nama lamanya, “Yuni Chung”.

“Femaleast itu gabungan Female dan East. FemalEast itu E-nya satu, disatukan. Kalau diartikan ‘Perempuan dari Timur’. Nama ini sesuai dengan apa yang saya bawa sekarang,” jelasnya.

Bukan Memilih Hip-Hop, Tapi Dipilih

Bagi banyak orang, musik mungkin hanyalah hobi. Namun bagi Yunita, rap adalah takdir.

“Mungkin kalau dibilang kenapa ko pilih hip-hop, saya jawabnya tidak bilang saya pilih hip-hop. Tapi hip-hop pilih saya,” katanya.

Sebagai lulusan Hubungan Internasional, Yunita merasa rap adalah medium yang paling tepat untuk menyalurkan pemikirannya.

Ia merasa sayang jika opini-opini kritisnya hanya berakhir di dalam jurnal ilmiah yang jarang dibaca publik.

“Kalau kita anak-anak HI, paling ujung dari kita punya opini pasti cuma bisa jadikan jurnal. Sekarang kan mungkin orang baca juga sedikit. Jadi materi-materi hip-hop saya itu relate sama apa yang saya bahas di kelas, saya sambung lagi di lagu,” jelasnya.

Dua karyanya, Woman Talk 1 dan Woman Talk 2, menjadi bukti nyata. Lagu-lagu tersebut merupakan gabungan isu perempuan dan isu-isu tentang perempuan yang terjadi di Papua.

Harapan bagi Perempuan: Bijak Digital di Era “Perang Dingin”

Sebagai rapper yang tumbuh di era teknologi, FemalEast menaruh perhatian besar pada cara perempuan berinteraksi di ruang digital. Baginya, memiliki smartphone saja tidak cukup; penggunanya pun harus cerdas (smart).

Ia mengingatkan media sosial saat ini bukan sekadar tempat berbagi foto, melainkan medan “perang ideologi” dan “perang dingin”.

“Sekarang itu sudah tidak lagi perang yang senjata-senjataan, sekarang lebih banyak perang dingin, perang ideologi. Makanya kita tidak boleh serap informasi mentah-mentah,” pesannya serius.

Yunita juga memberikan harapan besar agar perempuan lebih berani melindungi diri di ruang digital. Jika mengalami kekerasan atau pelecehan seksual secara daring (online gender-based violence), ia mendorong perempuan untuk memanfaatkan fitur keamanan yang ada.

“Sebenarnya di tiap platform itu ada tools-nya sendiri, kita bisa langsung report. Kalau kita alami sexual pleasure dari media sosial, kita bisa langsung kunjungi LBH terdekat lewat website. Jadi kalau gunakan smartphone, kita punya otak juga harus smart,” tambahnya.

FemalEast

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga jejak digital bagi karier masa depan. “Jangan terlalu gimana-gimana di sosmed, karena tracking itu ada. Rekam jejak digital tidak bisa bohong dan itu mempengaruhi masa depan kita nanti jadi apa.”

Mendobrak Isu Profesi dan Pernikahan Dini

FemalEast Menyoroti tantangan besar yang dihadapi perempuan di daerah, terutama di Papua, yang masih terjebak dalam stigma domestik.

Ia vokal membicarakan “isu profesi”, sebuah kondisi di mana perempuan masih dipandang sebelah mata saat menjadi pemimpin organisasi atau dianggap hanya layak berada di dapur.

Namun, ada keresahan yang lebih dalam yang ia tangkap saat kembali ke Jayapura beberapa bulan lalu: tingginya angka pernikahan dini.

“Banyak perempuan-perempuan sudah terlalu banyak sekali yang terjebak dalam pernikahan dini. Banyak yang akhirnya pisah, masa depannya nggak lanjut, berhenti kuliah karena sudah punya anak dan kehilangan harapan,” ujarnya dengan nada prihatin.

Bagi Yunita, status sebagai ibu atau orang tua tunggal tidak seharusnya mematikan mimpi.

“Harusnya itu bisa memberikan nilai lebih, supaya anak tahu kalau mamanya mampu. Banyak teman-teman yang punya mimpi berhenti begitu saja,” tambahnya.

Identitas Minoritas yang Menguatkan

Menetap di Pulau Jawa sejak 2017 memberikan tantangan tersendiri bagi Yunita. Ia merasa berada di posisi “triple minority”: seorang perempuan, berkulit hitam dan beragama Islam.

Seringkali ia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan stereotip tentang identitasnya.

“Saya sudah jadi kayak kaum minoritas. Sudah perempuan, terus di negara ada standar cantik kulit putih, sementara saya kulit hitam, terus agama Muslim. Banyak orang tidak tahu, mereka tanya ‘kok tidak ikut Natal?’, ‘kok Islam?’. Saya capek menjawab,” ungkapnya.

Namun, lewat rap, ia menjelaskan identitasnya tanpa perlu banyak bicara. Ia mencontohkan bagaimana di Maroko atau Nigeria, bahkan di Papua seperti Fak-fak maupun Kaimana misalnya, perempuan kulit hitam Muslim adalah hal yang lumrah.

“Rap ini jadi ajang alhasil dari situ orang-orang jadi segan kalau bertanya, mereka sudah tahu duluan,” katanya.

Pesan untuk Orang Tua: “Rapper Bukan Kriminal”

Yunita mengaku ada di dunia rapper juga berkat dukungan  orang tua. Baginya, dukungan keluarga adalah kunci utama bagi perempuan yang ingin terjun ke dunia hip-hop.

“Pesan saya untuk keluarga: kalau anak pengen jadi rapper, jangan ditahan. Rapper bukan kriminal. Justru orang yang terjun di dunia rap itu asli sekali. Materi kita belajar sendiri, kita mampu bertanggung jawab tentang diri sendiri,” tegasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa rap tidak bisa menghidupi. Dengan teknologi seperti Spotify dan YouTube, karya bisa menghasilkan pendapatan jika dikelola dengan strategi pemasaran yang tepat.

Kini, FemalEast mengusung ambisi besar: menjadi penggerak regenerasi rapper perempuan di Indonesia, khususnya dari Papua.

Ia terus menggandeng teman-teman perempuan lainnya untuk berkolaborasi dan membuktikan bahwa keberadaan mereka ada dan nyata.

“Visi misi saya adalah bersuara untuk perempuan. Saya tidak tau kedepannya seperti apa, mungkin saya akan bekerja di dunia lain, tapi selagi saya bisa bersuara, saya akan terus nyanyi,” tutupnya.

Berikan Komentar
Exit mobile version