Site icon sasagupapua.com

Infrastruktur hingga Pemberdayaan: Komitmen Strategis Gubernur Papua Tengah untuk Kemajuan Dogiyai

Momen kunjungan Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa di Dogiyai, Senin (7/9/2026). Foto: Humas Pemprov Papua Tengah.

Meki Nawipa Groundbreaking Asrama SMP Mapia, Resmikan Fasilitas Pendidikan, Bantuan Alat Kesehatan, Hingga Serahkan Laptop-Motor

SASAGUPAPUA.COM, Dogiyai — Keheningan pagi di Bandar Udara Moanamani, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai mendadak hangat pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 09.15 WIT. Deru mesin pesawat Caravan berregistrasi PK-SNR yang membawa Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, beserta rombongan menjadi penanda dimulainya agenda kunjungan kerja strategis di wilayah berhawa sejuk tersebut.

Kedatangan orang nomor satu di Provinsi Papua Tengah itu disambut langsung oleh Bupati Dogiyai Yudas Tebai, Wakil Bupati Yuliten Anouw, jajaran DPRK, ASN, serta tokoh masyarakat dan jajaran Forkopimda. Sebuah noken anggrek dikalungkan ke leher Gubernur sebuah prosesi kehormatan adat tertinggi yang melambangkan penerimaan yang tulus dari rakyat Dogiyai kepada sang pemimpin.

Kunjungan ini bukan sekadar seremoni kepemerintahan. Kehadiran Pemerintah Provinsi Papua Tengah di Dogiyai membawa misi konkret: memperkuat sinergi lintas pemerintah, memastikan program pembangunan tepat sasaran, menjemput aspirasi masyarakat secara langsung, dan meletakkan batu pertama pembangunan infrastruktur pendidikan serta menyerahkan berbagai bantuan sosial.

Di Dogiyai Gubernur menyelesaikan beberapa agenda utama yakni Peletakan batu pertama pembangunan Asrama SMP YPPK ST Fransiskus di Mapia,  Peresmian dua asrama: Asrama STP & STA Bomomani dan Asrama SMP YPPK ST Fransiskus Asisi Moanemani, Tatap muka dan makan bersama Masyarakat, Penyerahan bantuan sepeda motor secara simbolis kepada pemuda Dogiyai juga penyerahan Laptop kepada pelajar.

Jejak Peradaban dan Fondasi Pendidikan di Mapia

Usai pembahasan awal di ruang VIP Bandara Moanamani, perjalanan berlanjut menuju Kampung Omakapau Diyoudimi, Distrik Mapia. Di lokasi ini, Gubernur Meki Nawipa meletakkan batu pertama pembangunan Asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia, sekaligus meresmikan Asrama STP & STA Bomomani dan Asrama SMP YPPK ST Fransiskus Asisi Moanemani.

Dalam sambutannya yang penuh refleksi sejarah, Gubernur menegaskan bahwa Wilayah Mapia memiliki peran penting dalam sejarah peradaban Suku Mee. Wilayah ini bukan sekadar titik geografis, melainkan pusat peradaban dan lahirnya srikandi-srikandi Papua.

Gubernur Meki Nawipa meletakkan batu pertama pembangunan Asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

“Saya merasa ini penting sekali dan kita akan meletakkannya dari sini. Injil dari sini menuju ke timur, pendidikan dari sini menuju ke timur, dan sekarang kita bangun dari sini menuju ke timur lagi. Orang Mee ini peradaban datang dari Mapia sini. Injil datang di timur, dan pendidikan juga mulai dari timur,” ujar Gubernur Meki Nawipa di hadapan masyarakat Mapia.

Gubernur juga memaparkan komitmennya untuk membenahi sektor pendidikan secara masif pada awal tahun depan, termasuk wacana pengambilalihan pengelolaan sekolah terpadu agar terjadi pembagian beban kerja yang efektif antara pemerintah kabupaten dan provinsi.

“Saya punya komitmen, tanggal 22 Januari mendatang, sektor pendidikan Provinsi Papua Tengah akan kita benahi secara total. Kita bukan bagi-bagi uang, tapi bagaimana membangun jalan, jembatan, dan sekolah. Jadi Pak Bupati, mungkin kita harus masukkan listrik ke area ini supaya semua fasilitas berjalan baik,” kata Meki Nawipa.

Gubernur juga menyoroti pentingnya aksesibilitas jalan bagi masyarakat. Ia memuji langkah Bupati Dogiyai yang telah memulai pengaspalan jalan hingga ke pelosok. Menurutnya, jalan yang memadai akan memangkas waktu tempuh dari Mapia ke Moanemani yang sebelumnya memakan waktu hingga 30 menit menjadi hanya sekitar 5 menit.

Namun, Gubernur memberikan penekanan terkait kebiasaan sebagian oknum masyarakat yang kerap melakukan pemalangan jalan atau fasilitas publik usai pembangunan selesai dilaksanakan.

“Saya berkomitmen membangun sekolah di sini lengkap dengan fasilitasnya, tempat tidur, dan kasur. Namun, yang punya tanah jangan seperti tempat lain: setelah dibangun, lalu dipalang. Itu yang membuat kita tidak maju. Tidak boleh ada pemalangan, tidak boleh minta uang permisi, karena ini untuk pembangunan masyarakat sendiri,” tegasnya.

Selain masalah pemalangan, Meki Nawipa mengajak masyarakat untuk menjaga budaya hidup sehat dengan menghentikan konsumsi minuman keras dan mengikis kebiasaan mengunyah pinang yang bukan bagian dari budaya asli merusak tatanan sosial.

“Tidak boleh ada miras, tidak boleh ada pinang, karena itu merusak negeri kita. Kita harus konsisten menjaga daerah ini,” seru Gubernur.

Kebijakan berbasis pembangunan infrastructure and human investment ini dibayar tuntas dengan dukungan politik riil masyarakat Mapia dan Dogiyai. Mengapresiasi hal tersebut, Meki menekankan bahwa kepercayaan rakyat tidak akan dibalas dengan politik uang, melainkan dengan program kerja nyata.

“Mapia memberikan saya 30.000 suara penuh di seluruh lini, dan total dari Dogiyai mencapai 67.000 suara. Suara ini tidak saya bayar dengan uang, tetapi saya kembalikan dalam bentuk pembangunan. Kita bangun jalan, sekolah, dan pasar di Moanemani agar mama-mama bisa berdagang dengan layak,” tambah Meki Nawipa.

Apresiasi Bupati dan Menitip Harapan di Pundak Provinsi

Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, menyampaikan rasa harunya atas kunjungan kerja ini. Bagi masyarakat Dogiyai, kehadiran Pemerintah Provinsi Papua Tengah merupakan momen bersejarah yang membawa angin segar bagi pembangunan daerah yang selama ini dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks.

“Selamat datang Bapak Gubernur dan rombongan di tanah Dogiyai, sebagai tanah air rombongan Gubernur dan seluruh pejabat orang Mee. Kami merasa sangat berharga. Kunjungan kerja ini merupakan momen bersejarah demi pengembangan dan pembangunan di tanah Dogiyai. Apapun kebijakan dari provinsi, kami siap menerima dan mendukung penuh,” ungkap Bupati Yudas Tebai.

Bupati Dogiyai, Yudas Tebai saat menyambut kedatangan Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

Dalam pidatonya, Yudas Tebai menguraikan secara mendalam lima isu krusial yang menjadi tantangan utama pembangunan di Kabupaten Dogiyai:

Pertama terkait Aksesibilitas dan Infrastruktur Jalan dimana Yudas memaparkan upaya daerah dalam membuka keterisolasian wilayah meski dibayangi keterbatasan anggaran tahunan.

“Dalam rangka membuka keterisolasian wilayah di Kabupaten Dogiyai dengan keterbatasan anggaran setiap tahun, kami alokasikan anggaran untuk pembukaan ruas jalan baru maupun peningkatan ruas jalan sehingga dari 10 distrik yang ada, 7 distrik telah terakses jalan walaupun kondisi jalan seluruhnya belum maksimal 100%. Untuk itu, melalui momen kunjungan kerja Gubernur ini, kami juga berharap agar ruas jalan yang menjadi status jalan provinsi kiranya dapat menjadi perhatian sehingga mempermudah akses perekonomian masyarakat serta pelayanan pemerintahan yang lebih maksimal,” jelas Yudas.

Kedua, Layanan Kesehatan dan Fasilitas RSUD. Di bidang kesehatan, Pemkab Dogiyai telah mengoperasikan 15 Puskesmas perawatan dan satu RSUD Dogiyai yang baru saja bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Namun, keterbatasan fasilitas dan tenaga medis masih menjadi kendala utama.

“Pembenahan terhadap RSUD Dogiyai telah kami lakukan sejumlah langkah konkret, baik itu pemenuhan fasilitas kesehatan maupun pemenuhan nakes. Kami juga telah bekerja sama dengan BPJS dalam rangka pemenuhan layanan kesehatan yang prima. Namun, untuk mendukung operasional RSUD, kami sangat membutuhkan peningkatan sarana dan prasarana serta pemenuhan tenaga dokter, baik dokter umum maupun dokter spesialis,” tegas Bupati.

Kretiga, Krisis Tenaga Pendidik di 84 Sekolah. Sektor pendidikan juga tak luput dari paparan Yudas Tebai. Ia mengungkapkan bahwa Pemkab Dogiyai kekurangan guru untuk melayani puluhan sekolah yang tersebar di wilayahnya.

“Pemerintah Kabupaten Dogiyai setiap tahun telah melakukan program revitalisasi pendidikan di setiap jenjang, memperbaiki sarana prasarana termasuk pemenuhan tenaga pendidik. Kendala utama yang kami hadapi saat ini adalah kurangnya tenaga kependidikan. Kami berharap ke depan kalau ada perekrutan tenaga guru dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah dapat memperhatikan kami untuk pemenuhan tenaga guru pada 66 Sekolah Dasar, 14 SMP, dan 4 SMA/SMK yang tersebar di seluruh Kabupaten Dogiyai,” urainya.

“Pada kesempatan ini kami juga sangat berterima kasih kepada Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah atas kunjungan kerja di lokasi pembangunan SMP YPPK Santo Fransiskus Mapia di Omodawa, Dimi, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai. Kami berharap dan memohon agar ke depan dalam pemenuhan sarana dan prasarana sekolah serta pengembangan mutu dan kualitas sekolah dapat menjadi perhatian prioritas dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan,” lanjutnya.

Keempat, Pengembangan Pertanian dan Kopi Moanemani. Yudas juga menegaskan posisi strategis Dogiyai sebagai penyangga pangan dan kawasan perkebunan potensial di jalur transit Nabire-Deiyai.

“Kabupaten Dogiyai memiliki potensi pertanian hortikultura berupa sayuran dan buah-buahan, perkebunan kopi, serta tanaman anggrek. Berada pada jalur lintas ekonomi yang sangat strategis menghubungkan Nabire dan Deiyai, Dogiyai siap menjadi penyangga pangan lokal lintas daerah. Kami memohon kepada Bapak Gubernur agar dapat membantu kami berupa program dan kegiatan dalam pengembangan kawasan pertanian dan perkebunan kopi,” pinta Yudas.

Kelima, Penanganan Konflik Sosial dan Pengangguran. Bupati menyoroti dampak konflik sosial terhadap jalannya roda pemerintahan dan perekonomian, serta pentingnya pembukaan lapangan kerja.

“Selain keterbatasan anggaran, kami dihadapkan dengan kondisi daerah yang sering kali terjadi konflik sosial yang berdampak kepada terganggunya aktivitas pemerintahan dan ekonomi masyarakat. Kami berupaya melakukan pemetaan potensi masalah sosial termasuk perluasan lapangan pekerjaan bagi kelompok pengangguran. Kami memohon kepada Bapak Gubernur agar dapat membantu penyediaan lapangan pekerjaan bagi kelompok pengangguran di daerah ini,” tutup Bupati Yudas Tebai.

Pemberdayaan Ekonomi Pemuda dan Bantuan Laptop Pribadi

Setelah menyelesaikan prosesi peletakan batu pertama dan peresmian asrama di Mapia, Gubernur Meki Nawipa beserta rombongan bergerak menuju Aula Kingmi Digikotu Moanemani untuk menggelar acara tatap muka bersama para ASN, jajaran Forkopimda, serta masyarakat Dogiyai. Puncak dari tatap muka ini ditandai dengan penyerahan bantuan secara langsung yang disambut antusias oleh warga.

Gubernur menyerahkan secara simbolis bantuan sepeda motor yang ditujukan bagi pemuda Dogiyai yang berprofesi sebagai pengojek. Langkah ini diambil sebagai solusi konkret untuk memperkuat perekonomian para pemuda yang mau bekerja keras dan meminimalisir angka pengangguran di daerah.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa saat menyerahkan bantuan motor secara simbolis. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

“Kita akan perkuat teman-teman ojek. Yang sudah melambung dan dia mau bekerja, kerja keras, Pemprov Papua Tengah menyiapkan motor untuk ojek pemuda Dogiyai. Tahun depan kita bisa tambah lagi. Selain itu, kita juga akan membagi bahan bangunan seperti seng dan paku kepada masyarakat yang sudah memiliki KTP dan Kartu Keluarga, supaya masyarakat punya rumah yang layak di negerinya sendiri,” terang Meki Nawipa.

Tak hanya armada transportasi, perhatian Gubernur juga tertuju pada masa depan generasi muda di bidang pendidikan dan teknologi. Di depan para pelajar dan warga, Meki Nawipa membagikan unit laptop yang ia pesan secara khusus dari pabrik sebagai bantuan pribadi dari keluarga.

“Nanti saya kasih laptop, itu laptop pribadi bantuan dari keluarga saya. Laptop itu sudah ada fotonya karena saya memesan cetak langsung dari pabrik. Dulu kalau Pak Jokowi bagi sepeda, Presiden kali ini membagikan laptop supaya betul-betul berguna bagi anak sekolah. Yang tahun lalu sudah dapat tidak saya kasih lagi, tapi yang ikut dan setia dari tahun lalu, hari ini kita bagikan,” ungkap Meki Nawipa.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa saat menyerahkan laptop kepada pelayar Dogiyai. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

Meki Nawipa berpesan agar laptop tersebut dipergunakan untuk menimba ilmu pengetahuan dan mendukung cita-cita mereka, bukan sekadar untuk mengakses media sosial yang tidak memberikan nilai tambah ekonomi.

“Saya berharap dari laptop ini jangan dipakai untuk main Facebook atau main YouTube, tetapi biarlah laptop ini bisa membantu Anda untuk belajar, menjadi orang sukses, dan memimpin negeri ini ke depan,” pesan Gubernur penuh harap.

Meki Nawipa juga menyerahkan bantuan alat Kesehatan serta memberikan dukungan dana melalui program Ko Harus Sehat.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa sata menyerahkan bantuan Alat Kesehatan dan menyerahkan bantuan program Ko Harus Sehat untuk RSUD Dogiyai. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

Penguatan Birokrasi, Kopi Moanemani, dan Dialog Perdamaian

Dalam kesempatan yang sama, Meki Nawipa menyinggung keterwakilan birokrat asal Dogiyai di pemerintahan provinsi yang kini jauh lebih terbuka dibanding masa-masa sebelum pemekaran.

“Dulu saat masih bergabung dengan 29 kabupaten, walaupun orang Dogiyai kasih suara banyak, tidak pernah ada orang Dogiyai yang jadi kepala dinas di provinsi. Hari ini sudah ada tiga kepala dinas orang Dogiyai di provinsi, dan Januari nanti kita tambah satu lagi untuk Kepala Dinas Pendidikan. Ini bukti provinsi ada di daerah kita sendiri,” tegas Gubernur.

Mengenai sektor ekonomi kerakyatan, Gubernur bertekad mengangkat kembali nama Kopi Moanemani agar mampu bersaing dan menjadi sumber pendapatan utama masyarakat petani melalui pengelolaan koperasi yang sehat.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa saat menyapa masyarakat. (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

“Kita akan kerja keras untuk bagaimana Kopi Moanemani kita angkat. Koperasinya harus bagus dan sistemnya ditata dengan baik: petani menanam dan memetik, menjual ke koperasi, koperasi memasarkannya, sehingga petani dapat uang dan koperasi dapat uang. Teman-teman pengojek juga nanti bisa kreatif, mereka bisa membeli kopi di petani dan menjualnya ke koperasi sebagai penghasilan tambahan,” lanjutnya.

Gubernur juga mengajak Bupati dan seluruh komponen masyarakat untuk mengedepankan pendekatan dialogis dari hati ke hati dalam menyelesaikan setiap konflik atau aksi pemalangan jalan.

“Pak Bupati coba buat acara coffee morning. Anak-anak ojek atau anak-anak yang biasa palang jalan kita panggil, kita minum kopi bersama, bicara dari hati ke hati, dari mata ke mata, dan dari mulut ke mulut. Negeri ini hanya bisa kita bangun kalau kita bersatu. Manusia itu punya kekurangan dan kelebihan; kalau kita fokus melihat kelebihannya dan berpikir positif, kita pasti bisa membangun Dogiyai lebih baik ke depan,” pungkas Meki Nawipa.

Setelah merampungkan seluruh agenda kunjungan kerja di Kabupaten Dogiyai, Gubernur Meki Nawipa beserta rombongan dijadwalkan akan melanjutkan kunjungan kerja berikutnya ke Kabupaten Deiyai pada Selasa (8/9/2026).

Penulis: Kristin Rejang

Exit mobile version