Site icon sasagupapua.com

Investasi Kemandirian Anak Kebutuhan Khusus- Cara SLB Mimika Gunakan Dana Pendidikan Gratis Pemprov Papua Tengah

Siswa SLB Negeri Timika saat membuat roti. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Timika – Program Pendidikan gratis bukan sekadar membebaskan biaya SPP, melainkan investasi nyata bagi kemandirian anak-anak berkebutuhan khusus.

Di tahun 2025, Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Mimika membuktikan hal tersebut melalui pengelolaan dana strategis dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah.

Bantuan senilai Rp608.000.000 diperuntukan bagi 152 siswa melalui kebijakan program yang digagas oleh Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley ini tidak hanya menyentuh aspek administratif, tetapi juga menjadi motor penggerak kreativitas siswa agar mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Investasi Keterampilan: Menyiapkan Siswa untuk Dunia Kerja

Kepala SLB Negeri Mimika, Sunardin, menjelaskan pemanfaatan dana ini juga diarahkan pada pengembangan potensi siswa. Di tengah keterbatasan fisik atau intelektual, pihak sekolah meyakini bahwa setiap siswa memiliki bakat yang bisa diasah.

Seperti program-program pendidikan di SLB Mimika salah satunya adalah para siswa berkebutuhan khusus diajar untuk membuat roti hingga menjual dan memiliki brand sendiri.

Program-program kemandirian seperti ini yang ingin diterapkan dan dikembangkan oleh SLB Mimika.

Untuk program yang dilaksanakan melalui dana pendidikan gratis ini telah di susun di Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) dan telah disetujui oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah.

Kepala Sekolah SLB Negeri Timika, Sunardin berfoto bersama Chef dan guru pendamping serta siswa SLB saat membuat roti. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Selain untuk menjamin pendidikan gratis, dana tersebut juga dialokasikan untuk membiayai tenaga ahli atau instruktur profesional di bidang keterampilan:

“Kami ingin memastikan anak-anak kita tidak hanya bersekolah, tapi memiliki bekal hidup. Dengan dana ini, kami membiayai honor instruktur dan membeli alat sablon supaya mereka punya keahlian mandiri setelah lulus nanti,” ujar Sunardin ketika diwawancarai media ini, Selasa (3/2/2026).

Menghapus Hambatan, Membuka Akses

Kemandirian dimulai dari akses yang mudah. Dengan dana Rp4.000.000 per siswa per tahun, SLB Mimika menghapus segala beban biaya yang selama ini menghimpit orang tua.

Seluruh biaya dari Januari hingga Desember kini ditanggung penuh, termasuk pengembalian biaya pendaftaran (PPDB), seragam olahraga, batik, hingga biaya asesmen psikolog.

Bagi siswa kategori Orang Asli Papua (OAP), yatim, dan keluarga kurang mampu, bantuan juga diberikan dalam bentuk perlengkapan fisik seperti sepatu, tas, hingga bantuan sembako untuk memastikan gizi mereka terjaga selama menempuh pendidikan.

“Tahun ini kami jujur sudah betul-betul tidak ada lagi pembiayaan satu sen pun dari orang tua. Pendidikan gratis ini adalah bentuk nyata kehadiran pemerintah untuk memastikan siswa SLB ikut merasakan,” ungkap Sunardin.

Transparansi dan Harapan Masa Depan

Pihak sekolah telah melakukan sosialisasi terbuka sejak Desember 2025 untuk menjaga kepercayaan orang tua.

Bagi Sunardin, dana ini adalah amanah yang harus bermuara pada kesejahteraan siswa dan guru, termasuk pemberian insentif bagi tenaga pendidik non-ASN, sopir, dan sekuriti yang menjadi tulang punggung operasional sekolah.

“Karena ini berkaitan dengan dana pendidikan gratis, kami lakukan sosialisasi supaya tidak ada miskomunikasi antara kami dengan orang tua atau masyarakat secara umum. Saya sampaikan bahwa ini program pemerintah, SLB juga dapat, dan peruntukannya jelas untuk satu tahun,” jelas Sunardin.

Menatap masa depan, Sunardin menaruh harapan besar agar keberlanjutan program ini dapat menjawab tantangan logistik yang masih dihadapi siswa.

Suasana sosialisasi terkait bantuan pendidikan gratis di oleh pihak sekolah SLB Mimika kepada para orang tua Bulan Desember 2025 lalu. (Foto: Dok SLB Mimika)

“Dampaknya sangat besar, melihat antusias dan ucapan terima kasih dari orang tua di grup (WhatsApp sekolah) bahwa ini sangat membantu, rasanya haru. Harapan kami, pendidikan gratis ini terus berlanjut agar ke depan dananya bisa kami gunakan juga untuk operasional bus jemputan siswa setiap hari, sehingga tidak ada lagi alasan anak-anak kita tidak sampai ke sekolah,” pungkasnya.

Berikan Komentar
Exit mobile version