Oleh: Herman Degei
Kemarin, David Iyai salah satu fotografer berbakat dari Papua Tengah, mengunggah panorama alam Menou dan Dipa yang begitu menawan. Foto itu diambil dari puncak Gunung Gamei, saya duga dari sebelah Pemancar Gamei, kilometer 55 ruas Trans Nabire–Ilaga.
Kamera diarahkan ke bentangan Menou dan Dipa yang terhampar di bawah, dengan Pegunungan Weiland (Kobouge) menjulang tinggi di kejauhan. Matahari baru terbit dari balik punggung Kobouge, memancarkan cahaya keemasan yang hangat.
Lembah di bawah tertutup lautan awan, seperti samudra putih yang tenang. Puncak-puncak gunung dan perbukitan menyembul seperti pulau-pulau kecil di tengah kabut. Alam tampak utuh. Damai. Sempurna. Terlalu indah. Link postingan foto tersebut: https://www.facebook.com/share/1Dze67UebL/
Saya salut kepada fotografer ini. Selain kemampuan teknis, dia memiliki kepekaan dan kesabaran untuk mengejar waktu (timing) yang tepat demi mengabadikan momen seperti itu. Tidak semua orang bisa dan mau melakukan hal tersebut.
Ketika foto itu diposting di media sosial, banyak orang memuji keindahan panorama tersebut. Dan memang, tidak ada yang salah dengan berbagai kekaguman itu.
Saya pun ikut terpukau. Tetapi sebagai orang yang hampir selalu melintasi jalur Nabire–Dogiyai dan menyaksikan sendiri praktik-praktik penambangan emas ilegal dari Topo ke atas, kilometer 38 sampai kilometer seratus, saya justru teringat pada kenyataan lain yang tersembunyi di balik lautan awan yang indah dalam foto itu.
Dalam seminggu terakhir, ketika melintas, saya sempat memotret dengan telepon genggam di beberapa lokasi di kilometer 60-an. Di sana terdapat aktivitas penambangan dengan alat berat.
Pinggiran sungai yang dulu jernih, yang pasti memiliki cerita dan keterikatan dengan masyarakat pemilik hak ulayat di situ, kini dikeruk habis-habisan. Yang biasa naik turun Nabire–Dogiyai, Deiyai, dan Paniai, sudah pasti tahu itu.
Ekskavator dan mesin-mesin alkon bekerja seperti tanpa henti. Tanah yang mengandung emas diambil, lalu ditinggalkan dalam bentuk lubang-lubang yang menganga. Tanah terluka. Perdu dan pohon-pohon di situ habis.
Sungai yang mengalir di sebelahnya berubah keruh, membawa sedimen bekas tambang. Zat-zat berbahaya seperti merkuri mengancam habitat ikan serta kehidupan lain di dalamnya.
Semua itu hanya berjarak sekitar seratus meter dari jalan raya. Masyarakat adat di sekitar lokasi terlihat tak berdaya.
Mungkin saja pada awalnya ada sejumlah uang yang diterima melalui kepala dusun, tetapi pada akhirnya mereka hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Di sepanjang jalan itu, beberapa kios milik “pendatang” menjual sembako dengan harga agak mahal. Sesekali mobil dari Nabire naik dan berhenti di situ, menurunkan logistik berupa makanan, minuman, dan bahan bakar. Para pendulang keluar masuk menuju kamp-kamp tambang dengan membawa jeriken bensin tiga puluh liter.
Dan sekarang juga, ketika banyak dari kita terbuai oleh Piala Dunia, Turnamen Sepak Bola Bupati Cup III Nabire 2026, dan berbagai hal lainnya, wilayah tambang ilegal di sepanjang jalan trans itu terus meluas.
Mereka merambah areal-areal baru yang semakin besar. Sebab, dorongan untuk terus berekspansi telah menjadi semacam siklus alami dalam bisnis semacam ini. Apalagi di Nabire, praktik-praktik seperti itu sering kali dibiarkan, atau bahkan diduga mendapat perlindungan dari oknum aparat penegak hukum dan oknum pemerintah daerah.
Intinya, kita boleh takjub pada keindahan alam yang ditampilkan dalam foto itu. Tetapi kita juga harus jujur mengakui bahwa di bawah kabut yang indah tersebut, sungai-sungai sedang tercemar, hutan sedang digerus, kandungan sumber daya alam dalam tanah sedang dirampok, dan tanah adat sedang kehilangan martabatnya.
Alam tidak sedang baik-baik saja sebagai dampak dari perkawinan antara keserakahan manusia dan pembiaran yang terus berlangsung.
Alam yang indah dalam foto itu, dan alam yang sedang dirusak dalam foto lainnya, sesungguhnya adalah satu kesatuan yang berada di tanah adat wilayah Totaa Mapihaa. Kita harus mengakui kenyataan itu tetapi juga tidak boleh menutup mata.