Stadion Wania Imipi, Kabupaten Mimika pada Jumat (13/3/2026) tercipta sebuah drama sepak bola yang tak terlupakan. Saat jam digital di pinggir lapangan menunjukkan masa injury time, sebuah sepakan jarak jauh meluncur deras, melengkung, dan menghujam jala gawang Persemi Mimika.
Sang aktor utama, Nando Marcel Tebai, berlari merayakan gol spektakuler yang tidak hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga meruntuhkan dominasi tuan rumah di laga pamungkas Grup A Liga 4 Papua Tengah.
Kemenangan dramatis ini mengukuhkan Persido Dogiyai sebagai juara grup A. Di balik performa impresif “Laskar Ukaa Mapegaa”, Nando Tebai berdiri sebagai konduktor serangan yang mengatur irama permainan.
Duel Sengit yang Tertunda
Pertandingan yang mempertemukan dua raksasa ini sempat tertunda akibat Hujan lebat yang mengguyur Stadion Wania Imipi memaksa wasit menghentikan laga di babak pertama dan melanjutkannya pada hari berikutnya. Kondisi lapangan yang menantang justru menambah tensi persaingan memperebutkan puncak klasemen Grup A yang dijuluki “Grup Neraka”.
Persido, yang merupakan juara tiga musim lalu, harus bersaing ketat dengan finalis tahun lalu, Persintan Intan Jaya, serta tim kuat Persipuja Puncak Jaya yang juga merupakan semifinalis pada tahun lalu dan tuan rumah Persemi Mimika.
Sejak peluit pertama dibunyikan, trio lini tengah Persido yang dikomandoi oleh Nando Tebai, Yohan Woppi, dan Zepon Tebai tampil solid menjaga kedalaman tim. Memimpin Tim Persido Bersama Fransiskus Goo, Nando berhasil menjaga keseimbangan permainan dari awal hingga akhir laga selama penyisihan grup.
Kebuntuan pecah pada menit ke-81 saat Tony Rumateray berhasil membawa Persido unggul lebih dulu. Namun, drama dimulai ketika Persemi Mimika berhasil menyamakan kedudukan tepat di menit ke-90 waktu normal. Skor 1-1 membuat publik tuan rumah bersorak, mengira pertandingan akan berakhir imbang.
Memasuki tambahan waktu tiga menit yang diberikan wasit, intensitas emosi di lapangan semakin memuncak. Di menit ke-91, Nando Tebai yang mengenakan nomor punggung 31 menunjukkan kualitasnya sebagai playmaker berkelas.
Memanfaatkan umpan panjang dari sisi kanan pertahanan, Nando yang bergerak di area tengah permainan persemi mimika menyambut umpan dan melepaskan tembakan jarak jauh yang keras dari tengah lapangan.
Bola yang melengkung tajam menghujam gawang Persemi tanpa mampu dihalau kiper. Seketika, Stadion Wania Imipi bergemuruh oleh sorakan histeris suporter, staf, dan ofisial tim Persido yang melompat kegirangan merayakan gol tersebut.
Gol spektakuler Nando ini sekaligus meruntuhkan superioritas Persemi Mimika yang tampil dominan sejak awal fase grup, Persido Dogiyai menunjukkan statistik yang mengerikan dengan mencetak 8 gol dan hanya kebobolan 1 gol.
Dengan hasil ini, Persido Dogiyai melangkah ke babak berikutnya dengan kepercayaan diri tinggi sekaligus membuktikan bahwa mentalitas mereka sebagai calon juara.
Darah Sepak Bola dan Warisan Keluarga
Bagi Nando, sepak bola bukan sekadar hobi, melainkan warisan yang mengalir deras di nadinya. Ketertarikannya pada si kulit bundar tumbuh sejak usia sembilan tahun di kampung halamannya, Dogiyai, berkat didikan sang ayah, Almarhum Markus Tebai.
“Saya menyukai sepak bola dari bapak juga. Bapak dulu suka main sepak bola, cuman itu di tingkat antar-kampung,” kenang Nando ketika diwawancarai media ini.
Dukungan keluarga menjadi pilar utama Nando. Ia tumbuh melihat kakak-kakaknya berjuang di lapangan hijau. Kakak pertamanya, Mecky Tebai, adalah pesepak bola yang telah malang melintang membela Persinab hingga Persipani. Ia juga memiliki kakak kedua, Almarhum Melkianus Tebai, yang turut mewarnai perjalanan masa kecilnya.
“Saya punya kakak laki-laki, kakak pertama (Mecky) dia main di Persinab, Persipani sampai divisi dua. Saya terbawa ikut mereka, mau tidak mau saya harus ikutin kakak-kakak saya supaya bisa bermain sepak bola. Begitu awalnya,” ungkap pemuda kelahiran 31 Oktober 2001 ini. Di tengah perjuangannya, sang ibu, Albertina Iyai, yang bekerja sebagai petani, tetap menjadi sosok pendukung setia di balik layar.
Petualangan Hingga ke Timor Leste
Perjalanan karier Nando dimulai saat ia turun ke Nabire untuk masuk ke SSB SMP 3. Dari pemain magang di Persido pada 2017 hingga membela Yahukimo FC di Piala Presiden, Nando terus menempa mentalnya. Puncaknya, ia sempat mencicipi atmosfer sepak bola internasional di Timor Leste bersama TIM FC Vila Atouro.
“Mereka cari pemain dan mereka tanya saya bisa tidak? Saya sambut karena ini untuk pengalaman. Di sana kami main dari awal sampai 14 laga akhir tidak pernah kalah, sampai promosi ke Liga 2 kemarin. Paling bulan april, kalau memang mereka panggil, saya balik lagi ke sana,” ungkap gelandang bernomor punggung 31 ini.
Visi Besar untuk Generasi Papua Tengah
Sebagai anak muda yang kini menjadi tumpuan tim, Nando memiliki pandangan kritis mengenai masa depan sepak bola di provinsinya. Ia menggaungkan fasilitas dan pembinaan usia dini adalah harga mati.
“Paling utama itu SSB, itu yang paling penting bagi saya. Tapi harus dibarengi dengan pelatih yang berkualitas. Mengatur pola makan, pola pikir, dan pola latihan yang baik untuk anak-anak muda,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam mendukung putra daerah. “Pemerintah harus melihat, apakah putra daerah main atau tidak? Kalau dana itu hanya digunakan untuk orang luar, ibaratnya kita hanya mengaderkan orang lain. Harus banyak turnamen diselenggarakan supaya jam terbang dan regenerasi itu terbentuk,” katanya.
Bagi Nando, sepak bola adalah tentang pengaderan. “Bukan hanya sekadar mencari juara. Penting juga pengaderan dan jam terbang. Karena pemain kalau tampil hari ini, pasti berikutnya dia akan lebih baik lagi dengan pengalaman yang dia punya,” tambah Nando.
Menuju Semifinal: Ujian Mental di Wania Imipi
Kini, fokus Nando sepenuhnya tertuju pada laga semifinal melawan Persipuncak Cartenzs yang akan digelar Senin, 16 Maret 2026, pukul 07.30 WIT. Bagi Nando, setiap pertandingan adalah kesempatan untuk belajar dan menikmati perjalanan.
“Setiap orang punya nasib yang berbeda. Apapun yang kita lakukan, kita nikmati saja. Hal yang paling menyenangkan jadi pesepak bola itu kita bisa tahu daerah yang kita tidak tahu secara gratis, itu saja,” tutupnya.









