SASAGUPAPUA.COM, Nabire — Grup musik asal Nabire, Kangguru Akustik, dipastikan turut memeriahkan panggung Papua Reggae Festival (PRF) XI Nabire yang berlangsung pada 16–17 Oktober 2026.
Kehadiran grup lokal ini diprediksi menjadi salah satu penampilan yang menonjol karena mengusung konsep musik tradisional.
Personel Kangguru Akustik, Fransiskus X. Yogi, mengungkapkan bahwa kesiapan timnya saat ini sudah mencapai 80 persen. Ia mengakui latihan belum dapat berjalan secara optimal karena beberapa personel, termasuk dirinya dan dan beberapa personel, juga terlibat aktif sebagai panitia inti dalam gelaran festival tersebut. Meski demikian, mereka bertekad memberikan penampilan terbaik dan maksimal saat berada di atas panggung nanti.
“Persiapan kami memang terbagi karena beberapa personel masuk dalam kepanitiaan. Namun, kami bersyukur lagu-lagu yang akan kami bawakan adalah karya ciptaan sendiri yang murni menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa dari wilayah pesisir dan bahasa Mee. Rencananya kami membawakan dua lagu,” ujar Fransiskus saat diwawancarai pada Kamis (15/10/2026).
Penampilan kali ini menjadi momen perdana bagi grup asal Nabire tersebut untuk tampil di ajang Papua Reggae Festival.
Untuk mendukung nuansa etnik tersebut, Kangguru Akustik akan memadukan instrumen musik tradisional. Mereka bakal menggunakan gitar, ukulele, tifa, hingga stand bass tradisional buatan lokal. Selain itu, penampilan mereka juga diperkaya dengan sentuhan nyanyian tradisional Wiani.
Menanggapi konsep gelaran PRF XI yang mengedepankan tema seni dan budaya, Fransiskus menyambutnya dengan sangat positif.
Menurutnya, di tengah maraknya tren musik pop modern, R&B, dan musik digital hasil olahan komputer saat ini, hadirnya festival yang mengangkat akar kebudayaan lokal menjadi langkah yang sangat tepat.
“Reggae punya basis penggemar yang sangat besar dan tidak kalah bersaing. Ketika tema kebudayaan diusung dan puluhan band diwajibkan membawakan lagu ciptaan sendiri yang mengangkat kebudayaan daerah masing-masing, ini menjadi peluang yang sangat bagus. Momen seperti ini memaksa setiap musisi untuk lebih kreatif melahirkan karya bernuansa budaya sendiri, sehingga kita bisa menampilkan warna musik reggae khas Papua,” terangnya.
Fransiskus pun mengajak seluruh masyarakat dan penikmat musik untuk hadir meramaikan festival tersebut. Ia menegaskan bahwa nilai utama dari PRF XI tidak diukur dari nama besar grup band yang tampil, melainkan pada keunikan konsep serta sajian seni yang dihadirkan.
“Semua masyarakat wajib hadir karena ini momen langka yang sayang untuk dilewatkan. Daya tarik utama festival kali ini adalah bagaimana musik reggae dan kebudayaan ‘baku kawin’ atau menyatu di atas panggung melalui penggunaan bahasa daerah, nyanyian tradisional, serta kolaborasi alat musik etnik dengan aransemen yang sangat menarik,” pungkasnya.