Menu

Mode Gelap

Peristiwa · 2 Apr 2026 12:47 WIT

Kapolda Bertemu Koalisi Masyarakat Dogiyai: Komitmen Bentuk Tim Investigasi Independen dan Evaluasi Kapolres


Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini, S.I.K., M.Si saat bertemu dengan Koalisi Masyarakat Dogiyai di Nabire, Kamis (2/4/2026). Foto: Kristin Rejang/sasagupapua.com Perbesar

Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini, S.I.K., M.Si saat bertemu dengan Koalisi Masyarakat Dogiyai di Nabire, Kamis (2/4/2026). Foto: Kristin Rejang/sasagupapua.com

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Langkah besar menuju perdamaian di Kabupaten Dogiyai mulai dirintis melalui pertemuan penting antara perwakilan Koalisi Masyarakat Dogiyai di Nabire dengan Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini, S.I.K., M.Si.

Pertemuan yang berlangsung di Nabire pada Kamis (2/4/2026) ini bertujuan untuk mendengarkan aspirasi warga sekaligus mencari solusi konkret atas rentetan konflik berdarah yang kembali memanas di wilayah tersebut.

Komitmen Kapolda Papua Tengah: Transparansi dan Evaluasi Internal

Brigjen Pol Jermias Rontini menyatakan apresiasinya atas inisiatif para tokoh masyarakat yang datang menemuinya. Ia menegaskan poin utama dari pertemuan ini adalah kesepakatan bersama untuk menjaga Dogiyai agar tetap aman dan kondusif.

Kapolda berkomitmen untuk membentuk tim investigasi independen yang melibatkan Komnas HAM, LBH, dan pihak Gereja dan lainnya guna menjamin objektivitas.

- Advertising -
- Advertising -

“Hari ini saya bertemu dengan beberapa tokoh cendekiawan, Tokoh-tokoh dari Kabupaten Dogiyai yang ada di Nabire. Saya pribadi, saya sangat senang karena mendapat dukungan untuk satu hal yang saya simpulkan bahwa dukungan ini kita sama-sama ingin agar Dogiyai aman dan kondusif. Itu saja poinnya yang kita catat,” ujar Kapolda.

Terkait langkah selanjutnya, Kapolda berencana berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

“Masalah langkah-langkah dan lain-lain, nanti kami akan susun langkah-langkah tersebut, pembentukan tim dan lain-lain. Saya akan laporkan kepada Pak Gubernur sehingga kita dengan Pak Gubernur, Forkopimda diskusi, kemudian kita kira-kira solusi apa yang harus kita wujudkan segera. Itu langkah pertama yang kita ambil.” katanya.

Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini, S.I.K., M.Si saat diwawancarai awak media, Kamis (2/4/2026). Foto: Kristin Rejang/sasagupapua.com

Ia juga mengakui adanya kendala dalam pengungkapan kasus-kasus sebelumnya, namun optimis dengan dukungan masyarakat kali ini.

“Tapi saya setuju tadi dengan masukan, mungkin yang pertama kita ungkap pelan-pelan siapa pelaku. Karena beberapa kasus yang sebelumnya terjadi, memang jujur kita terkendala, khususnya polisi terkendala. Tapi saya optimis dengan dukungan dari saudara-saudara dari Dogiyai ini, mudah-mudahan saya pribadi bisa menggerakkan anggota saya untuk mengungkap, walaupun memang butuh proses,” ujarnya.

Secara terbuka, Kapolda menyampaikan permohonan maaf atas tindakan aparat yang mungkin telah mencederai warga. “Kepada masyarakat yang di Dogiyai khususnya, pertama saya mohon maaf apabila ada tindakan kami aparat keamanan yang mencederai yang kemudian menimbulkan korban. Itu bagian dari dinamika, tapi saya sebagai Kapolda Papua Tengah, pengemban fungsi kamtibmas, akan memilah dan akan mengungkap secara transparan,” ucapnya.

Ia pun berjanji akan melakukan evaluasi struktural di tingkat Polres Dogiyai.

“Tadi ada beberapa item surat pernyataan, salah satu kaitannya dengan kinerja  Kapolres akan saya evaluasi. Dan evaluasi itu saya harus, kita punya mekanisme. Mengevaluasi seorang pimpinan di tingkat Polres itu ada mekanismenya,. Tetapi berikan waktu saya, saya putuskan akan saya evaluasi untuk Kapolres di Dogiyai,” ujarnya.

Koordinator Koalisi Masyarakat Dogiyai: Desakan Penghentian Kekerasan di Masa Paskah

Andrias Gobai, selaku koordinator koalisi, menekankan pentingnya pengusutan tuntas terhadap peristiwa yang terjadi pada akhir Maret hingga awal April ini. Ia mencatat telah jatuh korban jiwa baik dari pihak sipil maupun aparat, sehingga kehadiran tim netral sangat mendesak.

“Kami masyarakat Kabupaten Dogiyai, koalisi masyarakat Dogiyai yang tinggal di Nabire datang ke Bapak Kapolda Papua Tengah untuk menyampaikan sejumlah aspirasi kami kepada Bapak Kapolda Papua. Pada intinya, kita tadi menyampaikan ungkap pelaku pembunuhan dan usut tuntas sejumlah rangkaian konflik yang terjadi di Kabupaten Dogiyai yang terjadi bukan yang baik, yang terjadi di tanggal 31, tanggal 1, sampai tanggal 2,” ungkap Andrias.

Menjelang hari raya keagamaan, Andrias meminta agar aparat menahan diri.

Koordinator koalisi, Andrias Gobai saat diwawancarai awak media, Kamis (2/4/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua

“Tadi kita bicara karena ini sudah masuk masa Paskah, sehingga kita meminta Pak Kapolda untu menarik dan menahan anggotanya untuk tidak melakukan penembakan secara yang terjadi selama ini. Karena jujur saja sampai hari ini tanggal 2 ini, Dogiyai masih ada penembakan seperti kasus tadi malam, ada pembunuhan terhadap salah satu pemuda dan ini sudah 6 orang yang korban untuk di Kabupaten Dogiyai,” ujarnya.

Ia berharap investigasi menyeluruh dapat dilakukan segera agar masyarakat bisa merayakan Paskah dengan damai. “Sehingga kita sama-sama mendorong ungkap para pelaku pembunuhan, baik itu  anggota Polisi maupun ada 6 warga sipil yang dibunuh selama 3 hari ini. Itu yang tadi kami sampaikan ke Kapolda Papua dan besar harapan kami Kapolda Papua bersama Pemerintah Provinsi Papua berkenan untuk turun melihat secara langsung sehingga Dogiyai bisa aman dan masyarakat secara sukacita bisa aman di negerinya sendiri,” pungkasnya.

Perwakilan Pemuda: Pentingnya Investigasi Berbasis Bukti

Simon Petrus Pekei, yang mewakili suara pemuda Dogiyai, menyoroti perlunya keterlibatan organisasi daerah dan tokoh adat dalam tim independen agar penyebab utama konflik dapat terungkap secara objektif dan tidak ada pihak yang dikambinghitamkan tanpa bukti.

“Jadi, untuk mengungkapkan membahas akar persoalan itu kita mesti mengungkapkan yang paling pertama adalah mengungkapkan pelakunya. Dengan cara melibatkan pihak-pihak independen dari misalnya LBH, Komnas HAM. Yang kemudian ada pihak-pihak independen yang kemudian dilibatkan dari misalnya organisasi daerah, misalnya dari tokoh adat, kemudian dari tokoh agama dan seterusnya supaya benar-benar pelaku kita ungkapkan,” jelas Simon.

Perwakilan Pemuda, Simon Petrus Pekei saat diwawancarai awak media, Kamis (2/4/2026). Foto: Kristin Rejang/sasagupapua.com

Ia juga menuntut konsekuensi hukum bagi aparat jika terbukti melakukan tindakan yang melampaui batas.

“Apakah itu memang salahnya masyarakat, siapa saksinya, apa buktinya, dan selanjutnya apakah tindakan agresif dari pihak kepolisian yang kemudian menewaskan 6 orang ini berdasarkan buktinya? Jika memang dalangnya atau pelaku awalnya adalah masyarakat sipil sehingga semua harus ditembak membabi buta begitu ?,” katanya.

Ia juga berharap agar pelaku penembakan jika dari pihak keamanan harus diusut tuntas dan mendapatkan konsekuensi.

Legislator Papua Tengah: Harapan pada Kepemimpinan Baru

Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Elias Anou, memberikan dukungan penuh kepada Kapolda baru untuk memutus siklus konflik yang telah berlangsung selama belasan tahun di Dogiyai tanpa pernah menemui titik terang hukum.

“Kami dari DPR Provinsi Papua mewakili Dogiyai, mengharapkan rentetan kasus konflik yang terjadi di Dogiyai ini sudah berjalan belasan tahun tapi konflik ini belum pernah berhenti sampai hari ini. Semoga pertemuan ini dengan semangatnya Kapolda baru, tugas baru yang menginisiasi untuk bertemu dengan kami yang kami sampaikan, ada satu hal yang saya tekankan di sini bahwa Pak Kapolda berinisiasi untuk mengungkap pelaku,” tutur Elias.

Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Elias Anou saat diwawancarai awak media, Kamis (2/4/2026). Foto: Kristin Rejang/sasagupapua

Ia mengapresiasi keberanian Kapolda untuk membuka ruang investigasi.

“Saya sebagai anggota dewan sangat mendukung karena selama ini tidak pernah Polres Dogiyai mengungkap pelakunya, sehingga kejadian-kejadian yang terjadi walaupun ada korban, berlalu seperti angin berlalu begitu. Jadi saya sebagai anggota dewan sangat mendukung Pak Polda Papua untuk mengungkap kasus ini untuk pelakunya,” ungkapnya.

Suara Perempuan: Trauma dan Stigma “Kota Mati”

Yusni Iyowau, yang mewakili kaum perempuan, mengungkapkan duka mendalam atas jatuhnya korban dari kalangan ibu-ibu, seperti Mama Ester Pigai, yang tidak mengerti apa-apa namun turut menjadi korban penembakan.

“Harapan saya sebagai perwakilan perempuan, dengan melihat situasi kejadian yang terjadi di Dogiyai ini, harapan saya adalah melalui kasus ini benar-benar tim yang dibentuk entah itu dari pihak keamanan bahkan dari tim koalisi hukum benar-benar menangani kasus ini dengan baik. Apalagi posisinya seorang ibu paruh baya, Ibu Ester Pigai (Mama Ester Pigai) yang usianya 60 tahun, dia tidak tahu apa-apa menganai persoalan ini tetapi dia juga menjadi bagian dari korban penembakan liar membabi buta yang terjadi pada saat itu,” kata Yusni.

Perwakilan Perempuan, Yusni Iyowau saat diwawancarai awak media, Kamis (2/4/2026). Foto: Kristin Rejang/sasagupapua

Ia juga menyoroti kondisi psikologis masyarakat Dogiyai yang kini hidup dalam bayang-bayang trauma dan stigma negatif.

“Melihat dari setiap kasus ini yang terjadi di Dogiyai ini, terlihat bahwa satu hal bahwa Dogiyai itu dia menjadi ‘kota mati’. Dalam arti bahwa aktivitas itu dia tidak seperti biasa yang terlihat. Bahkan yang mendapatkan perlakuan-perlakuan seperti kekerasan, dibacok, dan lain-lain itu menjadi trauma. Bahkan kita yang orang Dogiyai sendiri itu trauma dengan situasi. Sehingga situasi itu membuat kita ini sering distigma yang buruk, apalagi khusus orang Dogiyai,” ujarnya.

Yusni mendesak agar Komnas Perempuan dilibatkan untuk memastikan aspek perlindungan terhadap perempuan dalam investigasi ini dapat terpenuhi secara adil dan transparan.

Dalam pertemuan tersebut Koalisi Masyarakat Dogiyai di Nabire juga menyerahkan beberapa tuntutan:

Mereka menyoroti Penanganan Konflik yang tidak Dilakukan secara Persuasif Ini Telah Berulang Kali Terjadi dan Mengakibatkan Jatuhnya Korban Jiwa dari Masyarakat Sipil, dengan Jumlah Korban Sebanyak 6 orang masing-masing :

1. SIPRIANUS TIBAKOTO (25 TAHUN)

2. MARTINUS YOBEE (17 TAHUN)

3. ANGKIAN EDOWAI (20 TAHUN)

4. SEORANG NENEK BERNAMA ESTER PIGAI (60 TAHUN) TERJADI PENEMBAKAN DALAM RUMAHNYA;

BEBERAPA LAINNYA LUKA PARAH BERNAMA

1. MAIKEL WAINE.

2. FERI AUWE (2 April 2026).

Atas Kondisi Tersebut, Kami Meminta dan Mendesak Kapolda Papua Tengah untuk :

1. Mendesak KAPOLDA Papua Tengah untuk Mencopot Kapolres Dogiyai, Kompol Yocbeth Mince Mayor, karena dinilai tidak mampu menjaga keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), serta tidak berhasil mengungkap pelaku berbagai tindak Kriminal, seperti Pencurian dan Pembacokan, yang terus berulang di Wilayah Hukum Kabupaten Dogiyai.

2. Meminta Polda Papua Tengah bersama Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk Turun Langsung Ke Kabupaten Dogiyai guna Memastikan Kondisi Keamanan tetap terjaga, sehingga Masyarakat dapat Hidup dengan Aman, Nyaman, dan Damai.

3. “Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengungkap pelaku pembunuhan terhadap anggota Polri, Jevensius Edoawai, serta pelaku penembakan terhadap masyarakat sipil yang menjadi korban. Proses penanganan kasus ini harus dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.”

4. Mengingat Tanggal 3-7 April 2026 Merupakan Masa Perayaan Paskah, Maka kami Memohon kepada POLDA PAPUA untuk tidak Menambah Pasukan Ke Kabupaten Dogiyai. Kami Juga Mengajak Semua Pihak Untuk Bersama-sama Menjaga Keamanan dan Kenyamanan selama Persiapan hingga Pelaksanaan Perayaan Paskah agar berlangsung dengan Aman, Damai, dan Penuh Kekhusyukan.

Berikan Komentar
penulis : Kristin Rejang
Artikel ini telah dibaca 39 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Solidaritas Merauke: Pemprov, MRP, dan DPR Harus Cegah Konflik Sosial akibat PSN di Kamuyen

19 Februari 2026 - 21:59 WIT

Ikut Rapat Soal Kapiraya: DPR Papua Tengah Desak Penarikan Alat Berat dan Penegakan Hukum

13 Februari 2026 - 23:01 WIT

Ketua KNPI Papua Tengah Soroti Situasi Konflik di Kapiraya

13 Februari 2026 - 07:00 WIT

Yulian Magai Kecam Video Provokatif Bentrok Kapiraya, Minta Polisi Redam Narasi Konflik

12 Februari 2026 - 14:39 WIT

Kapiraya: Antara Emas, Tapal Batas, dan Dugaan Adu Domba – John Gobai Minta Polisi Bertindak

11 Februari 2026 - 21:00 WIT

DPR Papua Tengah Desak Pemerintah Segera Tuntaskan Masalah Tapal Batas di Kapiraya

11 Februari 2026 - 19:04 WIT

Trending di Peristiwa