SASAGUPAPUA.COM, MERAUKE – Pihak keluarga Mama Sinta Moiwend secara resmi angkat bicara dan memberikan klarifikasi mengejutkan terkait dugaan intimidasi serta penyelundupan terhadap Mama Sinta pasca-viralnya video terkait perjuangan tanah adat di Papua.
Dalam keterangan video eksklusif yang disampaikan kepada Jubi Media pada Minggu (31/5/2026), anak kandung Mama Sinta mengungkapkan bahwa pihak keluarga telah kehilangan kontak dengan sang ibu sejak sepekan lalu, tepatnya sehari setelah sebuah rekaman video yang melibatkan ibunya mulai beredar luas di media sosial.
“Kami dari keluarga Mama Sinta mau klarifikasi tentang dugaan Mama. Mulai dari hari Minggu tanggal 24 Mei 2026, kami kehilangan kontak dengan beliau, setelah tanggal 23 hari Sabtu ketika video Mama Sinta Moiwend berkembang di media. Saat itu kami coba membangun komunikasi dengan Mama, tetapi Mama sudah tidak komunikasi dengan kita keluarga mulai dari hari Minggu, dan diduga saat itu Mama ditekan dan sudah membangun perencanaan yang cukup panjang untuk bagaimana Mama ini diduga untuk mengambil data dari Mama Sinta Moiwend,” ujar perwakilan keluarga saat membuka klarifikasinya.
Pihak keluarga membeberkan kronologi kepergian Mama Sinta yang dinilai janggal dan penuh teka-teki mengenai keberadaan fisiknya.
“Hari Minggu saat itu beliau tidak bermalam di rumahnya, tetapi beliau bermalam di pos TNI di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab. Hari Senin tanggal 25 beliau bersama dengan orang-orang yang diduga bertugas untuk mengamankan PSN di Kampung Wanam tanpa sepengetahuan keluarga. Dugaan pertama itu bahwa hari Minggu beliau diberangkatkan pakai kapal laut menuju ke Merauke, tetapi hari Senin itu dibangun komunikasi bahwa beliau akan menggunakan pesawat jet menuju ke Timika, dan yang kedua itu ke Kabupaten Boven Digoel. Dan juga mereka entah berangkat ke Merauke dan saat itu kami sudah tidak tahu keberadaan beliau sampai dengan hari Jumat tanggal 29 kami baru tahu setelah mereka kembali menggunakan pesawat helikopter dari Merauke menuju ke Wanam,” tuturnya secara rinci.
Lebih lanjut, sang anak menjelaskan adanya upaya komunikasi jarak jauh yang mengisyaratkan bahwa ibunya kini berada di Jakarta untuk urusan hukum yang diduga diatur oleh pihak tertentu setelah mencuatnya isu film dokumenter lokal.
“Komunikasi itu dibangun untuk kontak menggunakan ponselnya untuk komunikasi dengan Mama Sinta di Jakarta. Dan juga Mama Sinta sampaikan bahwa tolong kirimkan identitas diri yaitu KTP, kartu keluarga, dan juga dengan saudara. Dan Mama sampaikan bahwa kami akan ketemu dengan Presiden, dan juga komunikasi itu dilakukan setelah Mama sudah melaporkan LBH di Polda Metro Jaya di Jakarta. Dan komunikasi video yang kedua beredar itu saat mereka sudah melaporkan itu di Metro Jaya. Dan kami minta kepada semua pihak yang berada di Kampung Wogekel, di Kabupaten Merauke, dan di Provinsi Papua, dan tanah Papua untuk sama-sama mengawal dugaan penyelundupan Mama ini untuk membawa atau sepihak untuk melaporkan LBH Merauke setelah film Pesta Babi itu berkembang. Dan kami merasa ini sistem yang dibangun oleh oknum-oknum sehingga membenturkan perjuangan kami di dalam memperjuangkan tanah-tanah adat kami di tanah Papua,” katanya menegaskan.
Merasa hak-hak dan keselamatan orang tuanya terancam, keluarga secara terbuka meminta intervensi serta perlindungan dari berbagai lembaga tinggi negara yang membidangi hak asasi manusia dan perlindungan saksi.
“Dan juga yang berikutnya yaitu kita minta kepada LPSK supaya bisa membangun komunikasi, dan juga kepada HAM Republik Indonesia untuk bisa mengawal, dan juga kepada Komnas Perempuan Republik Indonesia untuk bisa mengawal keberadaan Mama ini. Dan juga kita minta juga kepada pihak-pihak yang membawa Mama supaya itu dipulangkan kepada kami. Kami keluarga merasa kehilangan Mama, karena Mama dibawa tanpa izin dari kami keluarga. Sampai saat sekarang ini kondisi Mama kami belum tahu, apakah itu beliau baik-baik di Jakarta atau diintimidasi segala macam,” ucapnya.
Sebagai anak yang mengenal dekat keseharian ibunya, ia meyakini bahwa segala tindakan hukum ataupun pernyataan sepihak yang keluar dari mulut Mama Sinta belakangan ini merupakan hasil dari tekanan psikologis yang berat demi memuluskan proyek strategis nasional (PSN) yang sedang berlangsung di tanah ulayat mereka.
“Dan secara pribadi saya sebagai anaknya, saya kenal dekat dengan beliau. Beliau ini diduga diintimidasi, ditekan sehingga bisa mengikuti atau meng-cover kegiatan dia selama 3 tahun mulai dari 2024 sampai 2026. Itu sama dengan membenturkan keinginan Mama. Jadi, Mama membenturkan diri dengan mengikuti oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membenturkan atau memuluskan program PSN di atas tanah Papua ini untuk merusak hutan-hutan kami, untuk menggerogoti hidup-hidup kami di tanah Papua ini. Kami minta kepada semua pihak untuk bisa mengawal keberadaan Mama Sinta ini dan juga minta kepada semua pihak dari Merauke, tanah Papua, dan seluruh Indonesia, dan kepada seluruh dunia, bahkan sampai internasional untuk bisa mengawal atau membela hal-hal ketidakadilan yang terjadi di tanah Papua ini,” pungkasnya.