Site icon sasagupapua.com

Kenang Jasa Guru Perintis dan Pemikiran Pendidikan Papua, Tiga Buku Siap Diluncurkan di Nabire

Pastor Dekan Dekenat Teluk Cenderawasih Keuskupan Timika, Yohanes Sudrijanta, SJ. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

SASAGUPAPUA.COM, NABIRE – Tiga buah buku monumental yang merangkum sejarah perjuangan serta pemikiran pendidikan di tanah Papua siap diluncurkan (launching).

Kegiatan yang mengusung tema besar tentang sejarah perjuangan dan pemikiran pendidikan di Papua ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 14 Juli 2026, bertempat di lingkungan SMA Adhi Luhur Nabire, mulai pukul 09.00 WIT.

Pastor Dekan Dekenat Teluk Cenderawasih Keuskupan Timika, Johanes Sudrijanta, SJ, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini akan menghadirkan tiga buku dengan dua judul utama yang mengangkat perjalanan panjang dunia pendidikan di tanah Papua. Dimana tiga buku yang diluncurkan terdiri dari dua kategori.

“Pertama adalah buku berjudul Kisah-Kisah Guru Perintis dari Pedalaman Papua, yang mengisahkan pengabdian tenaga pendidik pada gelombang kedua, yaitu rentang tahun 1962 hingga 1980. Gelombang ini bertepatan dengan masa integrasi wilayah Papua ke dalam Negara,” kata Pastor Johanes saat ditemui di Nabire.

Lebih lanjut, Pastor Johanes  memaparkan  sebelum periode tersebut, sebenarnya telah ada gelombang pertama guru perintis yang bertugas pada tahun 1927–1939, yang kemudian diikuti oleh generasi berikutnya sekitar tahun 1940-an. Tokoh-tokoh dari gelombang awal tersebut melahirkan nama-nama besar, antara lain kakek dari Bupati Timika John Rettob, ayah dari mendiang Bapak Uskup John Saklil, serta kakek dari Bapak Yohanes Renyaan.

“Buku ini khusus mengangkat kisah gelombang kedua. Proses pengumpulan datanya tidak mudah, karena sebagian besar guru masa itu telah tiada, dan yang masih hidup banyak yang sudah lupa atau dalam kondisi kesehatan terbatas,” tutur Pastor Johanes.

Demi mengumpulkan kepingan sejarah yang berharga ini, tim penulis harus menelusuri narasumber tidak hanya di wilayah Nabire dan Timika, tetapi hingga ke luar Papua seperti Makassar, Ambarawa, sampai Yogyakarta.

Salah satu sumber penting yang berhasil diwawancarai adalah orang tua dari Sekretaris Daerah Provinsi Papua Tengah, Silvanus Sumule yang dahulu pernah mengabdi sebagai guru perintis di pedalaman Paniai.

Pastor Johanes menjelaskan buku ini ditulis oleh Bernarda Rurit, mantan wartawan majalah Tempo yang kini menjadi penulis penuh waktu. Beberapa karyanya yang telah diterbitkan antara lain Indonesia Tahun 2045 dan Jawa Timur 2045.

Sementara itu, kategori kedua terdiri dari dua jilid buku dengan satu judul yang sama, yaitu Hati yang Menyala di Ufuk Timur: Sekolah Kesadaran ala Jesuit. Buku ini merupakan kumpulan refleksi dan pemikiran yang dihimpun dari para misionaris serta pendidik Jesuit yang telah maupun sedang berkarya di Papua sejak tahun 1990-an hingga saat ini.

Acara bedah buku ini nantinya tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga akan mengupas tuntas isi buku dengan menghadirkan tiga penanggap utama yang berkompeten di bidangnya.

Penanggap pertama adalah Felix Degei, seorang alumni SMA Adhi Luhur lulusan Magister dari Universitas Adelaide Australia yang kini bertugas di KPG Nabire. Penanggap kedua adalah Yermias Degei, yang juga alumni SMA Adhi Luhur lulusan Magister Komunikasi dan saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire. Sedangkan penanggap ketiga adalah Ignatius Adii, tokoh pendidikan yang telah berkiprah luas di Jayapura dan Timika, yang kini aktif di Nabire serta menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Tengah.

Selain dinamika diskusi dari para pakar, momen emosional dan berharga akan tersaji karena acara ini bakal dihadiri langsung oleh sejumlah guru perintis yang masih sehat untuk berbagi kisah mereka secara langsung. Di antara para tokoh sepuh yang dijadwalkan hadir adalah Anastasia Saminem Asmuni, Suyatmin, Mike Renyaan, Paijan Sukamto, Tutatumi, serta mantan Kepala Sekolah dari Paniai, Yosef Paijo.

Pastor Johanes Sudrijanta mengatakan bahwa dokumentasi sejarah ini sangat penting bagi masa depan generasi muda Papua agar mereka tidak melupakan akar perjuangan pendidikan di tanah mereka sendiri.

Exit mobile version