SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Coba kita bayangkan, lima hingga sepuluh tahun dari sekarang, seorang anak asli Papua dari pelosok Paniai atau wilayah pesisir Nabire berdiri percaya diri di podium universitas ternama di Amerika Serikat atau Eropa. Tanpa rasa canggung, ia menyampaikan gagasan besarnya dalam bahasa Inggris yang fasih, lalu melangkah mantap memimpin industri global.
Bayangkan pula ruang-ruang kelas di Papua Tengah tak lagi sunyi, melainkan riuh oleh gelak tawa siswa yang asyik dengan suasana yang baru, berdiskusi bahasa asing bersama guru-guru lokal yang tangguh dan penuh percaya diri.
Pemandangan ini bukan hanya bisa ada dalam bayangan semata, namun menjadi komitmen untuk dijadikan bukti nyata dari doktrin kesetaraan akses pendidikan yang kini sedang diusung oleh Pemerintah Provinsi Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley.
Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemprov Papua Tengah menggelontorkan program pelatihan bahasa Inggris berbasis metode kontekstual secara menyeluruh, menjangkau ribuan siswa dan ratusan guru hingga ke kawasan Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Membongkar Pola Lama: Dari Program Eksklusif Menjadi Gerakan Inklusif
Transformasi ini dipicu oleh keberanian Gubernur Meki Nawipa dalam membongkar paradigma lama pengelolaan anggaran pendidikan. Sebelum kebijakan ini hadir, pola pelatihan bahasa asing kerap dilakukan secara terbatas dan memakan biaya yang sangat besar tanpa memberi dampak yang merata.
Kepala Bidang Data dan Informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yulianus Kuayo, mengungkapkan bahwa fondasi dasar perubahan ini memang sengaja diletakkan oleh Gubernur Meki Nawipa demi menjamin keadilan akses bagi seluruh anak Papua.

Kepala Bidang Data dan Informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yulianus Kuayo
“Untuk bahasa Inggris, jadi salah satu transformasi pendidikan yang Pak Gubernur sudah mulai meletakkan dasar itu adalah bagaimana kita menyiapkan anak-anak Papua dari Papua Tengah sendiri, mulai dari Papua Tengah. Jadi, transformasi pendidikan yang salah satunya dilakukan adalah bagaimana Pak Gubernur mengubah, menyiapkan anak-anak Papua untuk berdaya saing,” kata Yulianus Kuayo.
Ia menjelaskan betapa besarnya kontras antara pendekatan lama dengan konsep inklusif yang dijalankan saat ini.
“Dulu sebelum Pak Gubernur, atau bahkan program dari Gubernur lain yang nanti, itu kan mereka seleksi beberapa anak, lalu dibiayai untuk ikut kursus ke luar dari Papua atau dari Nabire. Misalnya ada 100 anak, 30 anak, 50 anak dengan menghabiskan miliaran uang lah. Jadi, sekarang Pak Gubernur dia merubah konsep itu. Salah satunya adalah kursus bahasa Inggris,” tegas Yulianus.
Dibandingkan dengan menghamburkan anggaran untuk mengirim segelintir anak ke luar daerah, Pemprov Papua Tengah memilih untuk memboyong program kursus, kurikulum tepercaya, dan para pelatih profesional langsung ke Nabire dan kabupaten-kabupaten lainnya. Dengan cara ini, biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah dan manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh semua anak tanpa ada prioritas tertentu.
Sasar Siswa dan Guru Melalui Program Berkelanjutan
Strategi yang dirancang oleh Pemprov Papua Tengah bertumpu pada dua sasaran utama: peserta didik dan tenaga pendidik. Pelatihan bahasa Inggris bagi siswa dimulai dari jenjang sejak dini, yakni kelas 4, 5, dan 6 SD; kelas 1 sampai 3 SMP; hingga kelas 1 sampai 3 SMA/SMK.
Program untuk siswa didesain secara berkesinambungan di sekolah yang sama, sehingga anak yang menerima pelatihan di kelas 4 akan terus mendapatkan pendampingan saat naik ke kelas 5 dan seterusnya.
“Mulai dari tahun 2025 kemarin, kursus bahasa Inggris ini sudah kami lakukan. Di tahun 2025 itu dilakukan kursus bagi 4.400 siswa, mulai dari SD kelas 4 sampai SMA/SMK yang tersebar di Timika, Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Lalu tahun ini, tahun 2026, itu ada 2.294 siswa. Yang dikasih kursus juga mulai dari SD, SMP. Jadi mereka ini adalah lanjutan dari tahun sebelum dan yang sebelumnya. Dan juga ada siswa baru, kalau siswanya sudah pindah di sekolah itu, maka yang baru kami layani. Jadi dia adalah program lanjutan,” jelas Yulianus.
Sementara itu, untuk kelompok sasaran kedua, Pemprov Papua Tengah memfokuskan pelatihan pada penguatan kapasitas para guru. Berbeda dengan siswa yang dikunci pada sekolah-sekolah tertentu, pelatihan bagi guru menyebar secara luas ke berbagai sekolah di wilayah target. Siapa pun guru bahasa Inggris yang bertugas di sekolah tersebut, merekalah yang diberi pembekalan.
“Yang kedua adalah kita siapkan kursus bahasa Inggris untuk gurunya. Kalau gurunya baru dia tersebar ke semua sekolah. Jadi tahun ini kami ada latih 150 guru. Tahun ini 150 guru dan tersebar di Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, tersebar. Mulai dari SD, SMP, SMA, tersebar juga gurunya,” tutur Yulianus.
Jembatan Menuju SMA Meepago dan Beasiswa Internasional
Penyiapan kemampuan bahasa asing dari jenjang dasar ini bukan tanpa arah. Pemprov Papua Tengah secara terencana menyiapkan anak-anak ini untuk mengisi sekolah-sekolah unggulan yang kini diambil alih pengelolaannya oleh provinsi, seperti SMK Pusat Keunggulan (PK) dan SMA Meepago. Untuk SMA Meepago sendiri, intervensi telah dimulai tahun ini dan salah satu syarat utama untuk dapat diterima di sekolah tersebut adalah fasih berbahasa Inggris.
“SMA Meepago itu mulai tahun ini kami sudah mulai intervensi sekalipun kewenangan masih di kabupaten, nanti tahun depan baru full di provinsi. Itu salah satu syarat masuk di SMA Meepago adalah fasih bahasa Inggris. Nanti kan ada pertanyaan, dari mana anak-anak yang bisa bahasa Inggris kamu ambil? Kan kami sudah latih ini sekarang. Kami sudah latih dari bawah, dari SD, SMP, SMA, SMK, yang lain juga. Tapi yang nanti masuk ke sini adalah mereka-mereka yang sudah tahu bahasa Inggris di jenjang SD yang sudah kami latih,” urai Yulianus.
Lebih jauh, Yulianus membeberkan visi besar di balik pendirian SMA Meepago. Lulusan sekolah ini tidak ditargetkan untuk sekadar mengandalkan jalur afirmasi dalam negeri seperti Program ADEM, ADIK, atau sekolah kedinasan, melainkan ditempa untuk menembus pasar pendidikan global.

Kepala Bidang Data dan Layanan Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Yulianus Kuayo saat membawakan sosialisasi kepada siswa SMA Unggulan Negeri Meepago Nabire, Jumat (13/3/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.
“Karena SMA Meepago itu targetnya adalah mereka itu kita siapkan untuk merebut semua sumber beasiswa dari negara lain, bukan dari Pemda. Jadi dia bukan untuk ikut ADEM, dia bukan ikut ADIK, dia bukan ikut afirmasi-afirmasi sekolah kedinasan, tidak. Jadi SMA Meepago ini memang kami siapkan untuk beasiswa dari negara-negara lain, itu yang pertama beasiswa untuk kuliah. Lalu yang kedua adalah beasiswa kuliah sambil bekerja, ada vokasi. Jadi anak yang masuk ke SMA Meepago itu adalah syarat pertama adalah fasih bahasa Inggris karena kami menyiapkan mereka untuk lanjut ke luar negeri,” tegasnya.
Untuk menjamin mutu pengajaran, Pemprov Papua Tengah menggandeng dua lembaga tepercaya yang berbasis di Papua, yaitu Yayasan Sapa Foundation dan Yayasan Mutiara Hitam Papua.
Pada tahun mendatang, tak hanya beberapa kabupaten namun Pemprov berencana menambah satu lembaga mitra lagi sehingga menjadi tiga lembaga kursus yang akan mendampingi jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK di tujuh kabupaten secara keseluruhan (minus Mimika, karena Mimika memiliki kapasitas anggaran mandiri untuk mengadopsi program ini).
Fokus Pelatihan Guru: Membangun Kepercayaan Diri dan Classroom Management
Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yuly Yasmin Tecuari, menguatkan penjelasan mengenai teknis pelaksanaan program. Ia mengungkapkan bahwa jika pada fase awal fokus diberikan kepada siswa untuk membangun fondasi dasar, maka pada tahun 2026 ini perhatian besar dialihkan kepada penguatan kemampuan para guru.
“Waktu tahun lalu dengan awal tahun ini tuh ke siswanya, kami fokus ke siswanya karena memang kita harus membentuk dasarnya dulu. Fondasinya harus kuat dulu karena memang ke depan ini kan bahasa asing yang lebih utama. Kemudian kita fokusnya ke anak-anak OAP karena kita memang dari sekarang sudah harus maju supaya mereka ini ke depannya bisa bersaing, di dunia kerja maupun di pendidikan. Sekarang kenapa Dinas Pendidikan mau lebih fokus untuk membekali guru-gurunya? Karena guru ini yang akan membimbing siswanya di sekolah,” kata Yuly Yasmin Tecuari.

Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yuly Yasmin Tecuari
Ia memaparkan sebaran 150 guru yang dilatih selama 66 hari—dimulai dari tanggal 1 Oktober hingga target penutupan pada 10 Desember 2026 berdasarkan lokus kerja sama kedua yayasan:
- Yayasan Sapa Foundation: Berfokus di wilayah Nabire, Deiyai, dan Dogiyai. Khusus di Nabire, Yayasan Sapa Foundation memfokuskan pelatihan bagi 23 guru SD. Di Dogiyai sebanyak 17 guru, dan di Deiyai sebanyak 19 guru. Total guru SD yang dilatih gabungan dari tiga kabupaten ini berjumlah 60 orang.
- Yayasan Mutiara Hitam Papua: Berfokus di Paniai, Mimika, dan Nabire (khusus daerah pinggiran). Kuota pelatihan mencakup 30 guru di Paniai, 30 guru di Mimika, dan 30 guru di Nabire, yang terdiri dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Yuly menegaskan pentingnya pelatihan ini untuk membekali mental para guru saat berdiri di depan kelas, sekaligus mengajarkan teknik pengelolaan kelas (classroom management) dan komunikasi yang efektif.
“Kebanyakan guru ini namanya kita tampil di depan kelas itu harus dengan percaya diri, mental yang bagus, supaya siswa melihat dan termotivasi. Untuk memperkuat kemampuan pengelolaan kelas ini atau classroom management, teknik komunikasinya kita harus ajar dari gurunya. Jadi kalau gurunya komunikasinya dengan siswanya bagus, berarti siswanya akan mengeksplor apa yang ada di diri siswa itu,” urai Yuly.
Langkah ini juga menjadi jawaban konkret Pemprov Papua Tengah dalam mengatasi dinamika pendidikan di wilayah 3T, di mana banyak guru mulai meninggalkan tempat tugas akibat tantangan keamanan dan kondisi ekonomi.
“Kita tahu sendiri pendidikan untuk anak Papua khususnya di Provinsi Papua Tengah yang baru DOB ini kebanyakan guru sudah mulai menghilang dari daerah 3T karena pengaruh keamanan, kemudian ekonomi, dan lain sebagainya. Nah, dengan begini kita memotivasi guru untuk bagaimana dia kembangkan siswa yang terbelakang, artinya tidak bisa dijangkau. Dinas Pendidikan melihat hal ini sebagai tantangan dan hadir dengan solusi terbaik,” jelasnya penuh optimisme.
Mengenai tiga kabupaten lain yang belum terjangkau, Yuly menyebutkan bahwa Pemprov akan melakukan survei terlebih dahulu terkait kondisi keamanan dan keberadaan guru sebelum melangkah ke fase berikutnya.
Metode Kontekstual dan Peran Pemuda Papua Sebagai Role Model
Direktur Yayasan Mutiara Hitam Papua, Fred Dimara, menjelaskan sisi teknis pengajaran yang diterapkan dalam program ini. Pihaknya menyiapkan sembilan tenaga pendidik (Master Trainer) yang seluruhnya merupakan anak-anak asli Papua. Para instruktur muda ini sebelumnya telah dibekali melalui program Training of Trainers (TOT) oleh pengajar berpengalaman dari Bali.
“Saat ini tenaga pendidik yang kami siapkan ada sembilan orang dan kesembilan orang ini semua merupakan anak-anak asli Papua. Karena kita berkomitmen bahwa kita ingin kembangkan program ini harus kita anak-anak Papua dan oleh kita anak-anak Papua sendiri. Targetnya adalah ketika adik-adik yang kita rekrut ini melatih guru-guru di Paniai, Timika, dan Nabire, mereka bisa membantu guru-guru untuk lebih fokus menyusun pembelajaran yang lebih komunikatif. Gurunya sedikit pasif, muridnya yang lebih banyak aktif, karena bahasa Inggris itu adalah skill yang harus banyak praktik,” kata Fred Dimara.
Penggunaan pemuda asli Papua sebagai pelatih juga membawa misi psikologis yang mendalam, yakni menjadikan mereka sebagai role model nyata bagi para peserta didik.
“Kami mengambil banyak anak-anak Papua di sini karena kita mau anak-anak Papua itu sebagai role model. Ketika adik-adik yang belajar melihat anak-anak Papua tampil, itu memotivasi mereka. Ada beberapa adik-adik Papua yang kita rekrut dia memang sudah lulusan dari luar negeri, sehingga dengan testimoni dari mereka, adik-adik semakin termotivasi. ‘Oh ternyata Mister yang ajar saya ini dari Pegunungan Puncak dan dia selesai di Amerika.’ Dari situ saja mereka lihat sudah termotivasi tanpa harus kita dorong-dorong,” ungkap Fred.
Di samping pola pengajaran yang komunikatif, aspek terpenting yang ditekankan oleh Fred adalah metode pendekatan kontekstual. Metode ini memanfaatkan benda, hewan, dan lingkungan alam yang biasa dilihat sehari-hari oleh anak-anak Papua sebagai media pembelajaran, ketimbang memaksakan contoh-contoh asing dari luar daerah.
“Metode yang kami tekankan adalah pendekatan kontekstual, dan yang paham kontekstual itu anak-anak Papua sendiri. Kebanyakan guru bahasa Inggris di daerah-daerah berasal dari luar Papua dan sedikit dari mereka yang memahami konteks Papua. Makanya selain merekrut anak-anak asli Papua, kami juga membentengi para pelatih ini agar tidak minder saat melatih guru-guru yang mungkin lulusannya lebih tinggi,” ujar Fred.
Ia memberikan gambaran nyata mengenai keunggulan pendekatan kontekstual di dalam ruang kelas:
“Misalnya kalau kita ngajar anak-anak bahasa Inggris, contoh ya, mereka suruh kita tulis kereta api atau singa, mereka tidak paham karena tidak pernah lihat. Tapi kalau kita gunakan yang selalu mereka lihat di depan mata, seperti tikus tanah, mereka lebih tanggap karena tiap hari lihat. Jadi, kita gunakan benda-benda yang ada di sekitaran mereka supaya membantu daya ingat, dan bagaimana kita mendesain kelas bahasa Inggris yang lebih fun tanpa keluar dari konteks budayanya orang Papua,” pungkas Fred.
Lewat kombinasi kebijakan inklusif dari Gubernur Meki Nawipa, komitmen tenaga pendidik di daerah 3T, serta penerapan metode kontekstual berbasis budaya lokal, Provinsi Papua Tengah kini tengah menapak jalan baru menuju terwujudnya generasi emas Papua yang berdaya saing global.
Penulis: Kristin Rejang

