SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Semangat musik reggae sebagai simbol perdamaian siap mengguncang Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Secara resmi gelaran Konser Launching Panitia Papua Reggae Festival (PRF) ke-11 yang akan dilaksanakan pada Jumat, 27 Maret 2026, bertempat di Bete Cafe mulai pukul 17:00 WIT.
Ketika diwawancarai di Nabire pada Kamis (26/3/2026), Ketua Komunitas Rasta Kribo (KORK) Papua, Thedy Pekei, menjelaskan acara ini merupakan panggung murni bagi para seniman yang bertujuan untuk menyatukan masyarakat dalam harmoni. Ia mengingatkan kepada seluruh pengunjung untuk tetap menjaga etika dan aturan main yang telah ditetapkan oleh komunitas selama bertahun-tahun.
“Izinkan saya ucapkan apa motto kami, ‘Salam Sehat di Dalam Jiwa, Damai Bersemi’, itulah motto Komunitas Rasta Kribo. Kami harapkan di event untuk launching nanti, para warga masyarakat yang ada di Kabupaten Nabire dan sekitarnya boleh silakan menikmati musik yang akan disajikan oleh teman-teman seniman reggae di Jayapura maupun yang ada di Nabire. Silakan datang menonton tetapi tetap tertib,” ujar Thedy Pekei.
Satu hal yang menjadi sorotan utama dalam setiap perhelatan reggae di bawah naungan KORK adalah aturan mengenai atribut.
Thedy menekankan tidak boleh ada bendera lain yang berkibar selain identitas musik reggae itu sendiri.
“Yang perlu diingat dan perlu diperhatikan bahwa di dalam event Papua Reggae Festival maupun event-event reggae yang hanya berkibar di event ini adalah bendera satu, yaitu bendera merah kuning hijau. Selain itu kami tidak izinkan untuk berkibar di event-nya kami. Itu sudah dari tahun ke tahun dan setiap event kita tekankan itu,” tegasnya.
Thedy juga memberikan imbauan keras terkait keamanan dan perilaku sosial. Mengingat tingginya angka HIV di wilayah tersebut, ia berharap event musik ini menjadi tameng bagi generasi muda dan sebagai bentuk kampanye untuk menjauhi pergaulan bebas dan tindakan negatif lainnya.
“Tujuan kegiatan ini bukan mengajak generasi muda melaksanakan hal-hal negatif, tidak. Sama sekali tidak. Kita membina sebuah event begini untuk membina generasi muda ke hal-hal yang positif. Terutama kita saling menyampaikan bahwa jangan lagi ada kekerasan di antara kita orang. Kita orang harus jaga kedamaian antara kita karena reggae itu identik dengan kedamaian. Mari kita jauhkan segala bentuk kejahatan, jangan lagi ada pergaulan di luar nikah, karena HIV-nya terlalu tinggi lho kita di sini. Mari kita kreatif,” tambahnya.
Mengenai potensi gangguan keamanan akibat pengaruh alkohol, Thedy memperingatkan bahwa pihak panitia tentu akan berkoordinasi dengan aparat hukum jika terjadi kekacauan. Ia berharap Nabire tetap kondusif agar genre musik lain seperti Hip Hop, Jazz, dan Rock juga memiliki kesempatan yang sama untuk membuat event di masa depan.
“Teman-teman yang sering miras boleh datang, tetapi jangan melakukan hal-hal yang kita tidak inginkan. Karena konsekuensi dalam event itu tetap berhadapan dengan hukum. Tentu pemerintah maupun keamanan tidak mau kalau ada masalah. Kita perlu jaga situasi dan kondisi Nabire ini sehingga ke depan ada kegiatan-kegiatan positif yang lebih meningkat lagi,” jelasnya.
Sebagai penutup, ia juga mengatakan kehadiran Papua Reggae Festival di Papua Tengah sebagai ajang untuk melahirkan talenda muda yang berprestasi.
Dimana di Papua Tengah salah satu talenta yang patut di apresiasi adalah Amoye Band yang telah berhasil menembus pasar internasional melalui platform digital. Hal ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi musisi Papua lainnya.
“Salah satu contoh yang kita mau gaungkan di sini adalah Amoy Band itu. Lagu mereka itu sudah bisa didengar oleh 200 negara lebih di Spotify. Itu jadi contoh buat generasi seniman di Papua Tengah maupun di Nabire. Jadi ke depan generasi seniman di Papua tidak hanya sekadar mengisi waktu untuk bermain musik, tetapi ada prospek ke depan yang harus dibangun,” tutup Thedy.
Acara launching besok direncanakan akan dimeriahkan oleh deretan musisi reggae ternama seperti Dave Solution, De Sago, Meyyom One, Amoye Band, One Heart, Rejape Band, hingga Siligi Sao Bega.