SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Di tengah riuh rendahnya dinamika Nabire sebagai ibu kota dari provinsi baru di tanah Papua, seorang pemuda bernama lengkap Febrianus Edowai sedang merajut cerita perubahan.
Pemuda berusia 27 tahun asal Kabupaten Deiyai ini memilih jalan yang tak biasa bagi seorang lulusan universitas.
Ketika ribuan sarjana berhimpit-himpit memburu peluang bekerja dengan seragam kantoran, Febrianus justru turun ke jalanan, menembus dinginnya malam Nabire sebagai seorang kurir demi menghidupi keluarga kecilnya dan mengejar mimpi yang jauh lebih besar.
Febrianus juga kerap membagikan momen-momen aktifitas-nya sebagai kurir di Nabire.
Menembus Batas Ego Seorang Sarjana
Lahir dan besar di Jayapura, perjalanan hidup Febrianus mencerminkan kegigihan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Manfred Edowai dan Akuliana Pekey ini.
Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di YPK Yoka Baru, melanjutkan ke SMP YPK Ternamunia, hingga lulus dari SMA Negeri 1 Kota Jayapura.
Langkah kakinya kemudian membawa Febrianus merantau jauh ke Pulau Jawa, tepatnya di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi, Bandung, Jawa Barat, tempat ia berhasil merengkuh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat.
Namun, alih-alih menetap di kota besar atau kembali ke Jayapura setelah lulus pada usia 23 tahun, matanya tertuju pada Nabire.
Momentum pembukaan Daerah Otonom Baru (DOB) dilihatnya sebagai peluang emas yang tidak boleh dilewatkan.
Apalagi kini Febrianus telah berkeluarga dan memiliki tanggung jawab besar sebagai seorang ayah yang membesarkan satu orang anak.
Meski sempat mencoba peruntungan dalam seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan belum berhasil, Febrianus tidak membiarkan dirinya larut dalam kekecewaan.
Ia mulai membaca situasi pasar di Nabire, sebuah kota yang sedang berkembang pesat namun belum tersentuh secara maksimal oleh layanan ojek atau kurir daring raksasa.
“Saya langsung ke sini karena saya tahu peluang pekerjaan itu banyak di sini. Setelah itu CPNS dibuka, saya coba ikut CPNS tapi mungkin bukan nasib ya. Saya coba baca-baca peluang bagaimana supaya saya bisa produktif di Nabire. Dari situ saya mulai berpikir untuk jadi kurir. Karena yang saya tahu di Nabire ini belum ada Gojek. Paling cuma ada Maksim, tapi Maksim juga belum terlalu beroperasi. Pokoknya sambil pulang jadi kurir,” ujar Febrianus mengenang awal mula langkahnya.
Keputusan menjadi kurir kadang memicu pandangan miring di lingkungan sosial. Bagi sebagian masyarakat, seorang sarjana S1 dianggap menurunkan derajat jika harus bekerja di jalanan mengantar barang.
Namun bagi Febrianus, gengsi tidak akan pernah bisa mengisi dompet atau menghidupi anak dan istrinya serta membuatnya berkembang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
Ia memilih untuk menundukkan ego akademisnya demi sebuah kemandirian ekonomi yang nyata.
“Mungkin bagi pandangan orang itu, ini pekerjaan yang tidak layak. Apalagi kalau orang yang sarjana, paling ego ya, turun ke bawah pekerjaan yang tidak selayak. Tapi saya coba turun. Sebenarnya saya sebagai sarjana S1 juga. Tapi saya tidak pandangkan itu, saya turunkan ego bagaimana supaya saya bisa bertahan hidup, mendapatkan ekonomi yang sejajar. Jadi untuk menghasilkan ekonomi yang baik itu bukan harus kita jadi PNS, bukan harus jadi yang berseragam kantoran. Ini juga salah satu pekerjaan yang memang bisa menghidupi,” katanya.
Menembus Dingin Malam dan Ujian Penipuan
Awalnya, Febrianus harus memulai segalanya dari nol di Nabire. Mulai dari menyewa kamar kos hingga kini ia tinggal di rumah seorang kawannya yang juga merupakan sesama anak asli Papua.
Sejak memulai usahanya pada bulan April, tantangan demi tantangan datang silih berganti menguji mentalitasnya.
Pada dua bulan pertama, semua roda bisnisnya berjalan tanpa hambatan berarti. Namun, memasuki bulan ketiga, ujian berat menghantamnya ketika ia menjadi korban penipuan hingga mengalami kerugian materiil yang sangat besar.
“Pertama saya memulai dari kurir itu kurang lebih dua bulan terakhir. Saya memulai dua bulan ke pertama ya berjalan lancar. Masuk ke tiga itu banyak tantangan sekali. Saya pernah ditipu sampai seratus-seratus jutaan, saya pernah ditipu. Tapi itu saya pikir untuk menguji saya. Tapi saya tidak terlalu abaikan, saya kasih tinggalan saya abaikan saja, saya selanjut lagi dari kurir,” ungkap Febrianus, menunjukkan keteguhan hatinya yang tidak mudah goyah oleh badai cobaan.

flyer promosi Febrianus Edowai yang ia sebarkan ke media sosial. Bagi yang mau memakai jasa kurir silahkan hubungi.
Dedikasi yang tinggi akhirnya membuahkan kepercayaan dari masyarakat Nabire. Wilayah operasional Febrianus terbilang luar biasa jika dibandingkan dengan jam kerja kantoran pada umumnya. Jika pegawai kantoran hanya bekerja selama delapan jam, Febrianus bisa bersiap di atas motornya hingga belasan jam. Ia mulai aktif bergerak sejak pukul 07.30 pagi dan kerap baru menyudahi pekerjaannya saat fajar hampir menyingsing, sekitar pukul tiga atau empat subuh. Uniknya, pesanan paling ramai justru datang di waktu-waktu krusial saat kota mulai terlelap.
“Pelayanan saya itu saya mulai aktif dari pagi jam 07.30 sampai malam, kadang sampai jam 3, jam 4 (subuh) karena kebanyakan juga orderan saya itu dapat di jam 1, jam 2, jam 3. Sampai sejauh ini, puji Tuhan saya dapat banyak pelanggan dan juga saya dapat banyak langganan yang selalu telepon saya, komunikasi dengan saya. Begitu sampai di sini, bikin saya tambah semangat. Dalam arti, bukan hanya orang Papua saja yang order-order ke saya, tapi orang pendatang juga order ke saya, itu saya sangat bangga sekali,” tuturnya.
Membuka Lapangan Kerja dan Merajut Mimpi untuk Pemuda Papua
Menjadi kurir ternyata hanyalah babak pertama dari visi besar yang diusung oleh Febrianus. Ia sadar betul bahwa di Nabire, mayoritas penyedia jasa kurir berasal dari kalangan warga pendatang.
Fakta bahwa dirinya merupakan salah satu dari sedikit, atau bahkan mungkin satu-satunya anak asli Papua yang menekuni profesi ini secara mandiri, melahirkan sebuah misi sosial.
Febrianus ingin membuktikan bahwa anak-anak Papua juga mampu mengelola bisnis jasa dengan profesional dan konsisten.
Kerja keras dan kejujurannya di jalanan Nabire akhirnya menarik perhatian pihak luar.
Kini, sebuah rencana besar siap ia eksekusi setelah berhasil meyakinkan seorang investor yang bersedia menyuntikkan modal berupa armada operasional baru. Langkah ini akan menjadi jembatan bagi Febrianus untuk mentransformasi usaha kurir personalnya menjadi sebuah sistem kemitraan yang terstruktur.
“Saya pikir untuk motivasinya itu, yang pertama, mungkin baru saya sendiri jadi kurir orang Papua di sini ataukah mungkin sudah ada yang lain, tapi sini juga banyak kurir, cuma rata-rata pendatang. Saya sendiri orang Papua. Ada rencana besar yang sedang saya rencanakan ke depan. Saya ingin membuka satu pusat pekerjaan untuk anak-anak Papua. Puji Tuhan, dalam beberapa hari terakhir ini ada investor yang mau investasi tiga unit motor. Itu yang saya ingin mencari karyawan lagi, saya ingin membuka satu sistem,” jelas Febrianus.
Melalui perjalanan hidup dan bisnisnya yang penuh lika-liku ini, Febrianus menyelipkan pesan mendalam bagi generasi muda Papua, khususnya mereka yang berada di usia produktif namun masih bingung menentukan arah masa depan.
Ia menyoroti pentingnya mengubah pola pikir ketergantungan pada sektor formal dan mengimbau agar para pemuda tidak gengsi mengambil pekerjaan apa pun asalkan halal dan mampu menghasilkan.
Lebih dari itu, ia juga mengajak pemuda Papua untuk menjauhi tindakan kriminal yang merugikan masa depan mereka sendiri.
“Pertama, kita jangan malu untuk bekerja di tempat manapun, walaupun itu dipandang tidak layak, kita tetap kerja setia. Itu hal yang harus dikerjakan. Yang kedua, supaya bisa bertahan hidup, harus melakukan sesuatu yang bisa membuatmu hidup. Yang ketiga, jangan hanya tunggu PNS, jangan hanya tunggu pekerja-pekerja yang dipandang tinggi. Tapi yang pekerjaan yang mungkin dianggap rendah tapi yakin itu bisa menghasilkan uang. Yang terakhir mungkin saya mau kasih tahu buat teman-teman pemuda yang masih ada di lingkaran mungkin kejahatan jalanan, sebaiknya tinggalkan itu, mari sama-sama berjuang bekerja yang halal. Saya juga akan membuka peluang untuk bekerja bagi teman-teman semuanya, nanti akan saya informasikan melalui media pribadi yaitu Facebook, Instagram, dan TikTok,” pungkas Febrianus.
Penulis: Kristin Rejang

