Menu

Mode Gelap

Pendidikan · 8 Feb 2026 16:49 WIT

Lapak Baca di Nabire: Literasi Sebagai Senjata Perlawanan Menuju Pembebasan Rakyat Tertindas


Anak-anak muda saat membaca di Lapak Baca Nabire. (Foto: Ist for Sasagupapua.com) Perbesar

Anak-anak muda saat membaca di Lapak Baca Nabire. (Foto: Ist for Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire kembali menggelar kegiatan rutin mereka di Asrama Kalibobo, Papua Tengah, pada Jumat sore (6/2/2026) pukul 17.00 WIT.

Lapak baca ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat sipil.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat perlawanan terhadap sistem sosial yang menindas rakyat Papua hari ini.

Dalam kegiatan Kolektif Lapak baca, Koordinator Kolektif, Kobay Bobii mengatakan Pendidikan kiri adalah jendela dunia untuk mengasah daya kritis dan pembebasan bagi kaum tertindas dari belenggu penindasan yang terstruktur dan terorganisir.

- Advertising -
- Advertising -

Sekelompok anak muda saat ada berada di Lapak Baca Nabire. (Foto: Ist For Sasagupapua.com)

“Namun kita melawan dengan cinta demi bangsa, bekerja melawan tiga musuh rakyat Papua, satu kali dua puluh empat jam nyala api perlawanan menuju pembebasan dan sejarah alternatif gerakan rakyat Papua,” katanya.

Diskusi kemudian berkembang pada topik literasi sebagai alat pembebasan. Menurut Orgenes, salah satu pengarah kegiatan literasi menjelaskan, kemanusiaan dalam tinjauan ekonomi, politik, sosial, dan budaya kini berada dalam pusaran sistem global yang hanya menguntungkan segelintir elit.

“Rakyat kecil menjadi korban dari kepentingan kapitalistik. Literasi adalah salah satu senjata dunia pembebasan hidup.” ungkapnya.

Anak muda saat membaca di Lapak Baca Nabire. (Foto: Ist For Sasagupapua.com)

Sementara itu, Eko Pinsen menegaskan literasi adalah senjata yang paling ampuh, yang mampu membunuh setiap bentuk ketidakadilan.

Bahkan, ia menambahkan, membaca adalah cara menyusun ide-ide ilmiah dengan rapi sehingga dapat menembus dinding dogmatis yang menjadi tameng penguasa.” katanya

Katanya, membaca bukan untuk menjadi pintar, tetapi untuk mengasah pikiran dan mempersiapkan senjata menghadapi musuh.

Dalam catatan penutupan, Eko Vinsent mengulas kondisi sosial Papua hari ini.

“Kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah dan atas kehidupan di Papua adalah potret politik ekonomi yang timpang. “Kaum kaya tetap kaya, dan kaum miskin tetap miskin. “Namun, perlawanan masyarakat ekologis di Papua melalui lapak baca, diskusi, dan aksi lainnya menjadi bentuk nyata perjuangan,” tegasnya.

Menurutnya, Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire adalah jalan alternatif terbaik dari penindasan ekonomi, politik, dan sosial.

“penuh semangat perlawanan, mengandung nilai perjuangan, belajar Bersama, Bergerak Bersama Literasi Adalah Api Perlawanan Rakyat Papua.” katanya.

Ia menegaskan, Literasi adalah Bentuk Perlawanan. Membaca bukan hanya kegiatan intelektual, tetapi tindakan politik untuk membebaskan rakyat dari penindasan dan kebodohan struktural.

“Pendidikan kiri menyadarkan kaum tertindas. Melalui pendidikan kiri, masyarakat Papua membangun kesadaran kritis dan solidaritas melawan sistem ekonomi-politik yang menindas. Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire menjadi simbol perjuangan rakyat Papua untuk belajar bersama, bergerak bersama, dan menyalakan api perubahan sosial,” imbuhnya.

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Alokasi dan Realisasi Dana Bantuan Studi APBD Nduga 2026 Disorot, IPMNI Desak Evaluasi Total

26 Juli 2026 - 21:28 WIT

Kenang Jasa Guru Perintis dan Pemikiran Pendidikan Papua, Tiga Buku Siap Diluncurkan di Nabire

13 Juli 2026 - 08:08 WIT

Pemuda Katolik Komcab Nabire Sukses Gelar Diskusi Literasi Digital Bagi Perempuan

9 Juni 2026 - 22:43 WIT

PPDB SMK Yamewa Enarotali: Buka Pendaftaran Jurusan Pertanian, Peternakan, dan Perikanan

7 Juni 2026 - 20:38 WIT

Gandeng Komite Persiapan Persma USWIM Nabire, Kolektif Jurnalis Pinggiran Gelar Diskusi Publik

5 Juni 2026 - 11:53 WIT

Membaca KORASLIMA, Mendidik Generasi: Menyalakan Harapan dari Tanah Tabi

31 Mei 2026 - 17:36 WIT

Trending di Pendidikan