SASAGUPAPUA.COM, TIMIKA – Lima Kepala Suku besar Papua yang berada di Mimika menyoroti terkait pernyataan gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa yang mengatakan di Pemerintahannya tidak akan ada bakar batu pada 27 Maret 2025.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Suku Nduga, Elipanus Wesareak, Kepala Suku Damal, Johanes Magai, Kepala Suku Dani, Yakobus Kogoya, Kepala Suku Mee. Viet Nawipa, Kepala Suku Moni, Tobias Kobogau di Timika, Sabtu (29/3/2025).
Mereka menolak apa yang disampaikan oleh Gubernur tersebut.
“Sebelum Agama Dan Pemerintah Masuk di Tanah Papua Ini. Bakar batu itu sudah ADA lebih dulu, dan pentingnya belajar tentang budaya atau tradisi bakar batu,” kata Kepala Suku Nduga, Elipanus Wesareak mewakili lima suku.
Ia menjelaskan, tradisi bakar batu di Papua bukan sekadar ritual memasak, tetapi juga memiliki nilai-nilai religius yang mendalam. Berikut adalah beberapa nilai religius yang terkandung dalam tradisi ini.
Bakar batu kata dia, sebagai bentuk ucapan syukur kepada sang pencipta.
“Bakar batu sering dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur atas berkat dan hasil panen yang melimpah. Masyarakat percaya bahwa segala sesuatu yang mereka terima adalah anugerah dari Sang Pencipta,” jelasnya.
Ritual ini kata dia menjadi sarana untuk berterima kasih atas kehidupan, kesuburan tanah, dan kekayaan alam yang mereka nikmati.
Ia menjelaskan Bakar Baru sebagai Penghormatan kepada Leluhur:
Elipanus mengatakan, dalam beberapa konteks, bakar batu juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur. Masyarakat percaya bahwa leluhur mereka memiliki peran penting dalam kehidupan mereka dan perlu dihormati.
“Melalui ritual ini, mereka menjalin hubungan spiritual dengan leluhur dan memohon perlindungan serta berkat,” ujarnya.
Bakar batu adalah bentuk hubungan dengan alam.
Bakar batu kata dia, menunjukkan hubungan yang erat antara manusia dan alam. Penggunaan batu, kayu, dan bahan-bahan alami lainnya mencerminkan kesadaran akan pentingnya menjaga harmoni dengan lingkungan.
“Ritual ini juga menjadi cara untuk menghormati alam sebagai sumber kehidupan,” ujarnya.
Selain itu, Bakar Baru adalah simbol Kesucian dan Sakralitas.
Dijelaskan, proses pembakaran batu dan penyajian makanan memiliki makna simbolis yang mendalam. Api, batu, dan makanan yang dimasak dianggap memiliki kekuatan spiritual.
“Ritual ini sering kali dilakukan dalam suasana yang khidmat dan penuh rasa hormat, menciptakan suasana sakral,” ucapnya.
Elipanus juga menerangkan, bakar batu sebagai sarana Komunikasi dengan Yang Maha Kuasa.
Dimana dalam beberapa tradisi, bakar batu juga menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan kekuatan-kekuatan spiritual atau roh-roh yang diyakini hadir dalam kehidupan mereka.
“Melalui doa-doa dan persembahan, mereka memohon perlindungan, berkat, dan petunjuk dari Yang Maha Kuasa,” jelasnya.
Bakar batu sebagai nilai perdamaian. Elipanus menjelaskan tradisi bakar batu juga dapat digunakan sebagai media untuk menyelesaikan konflik. Dengan berkumpul dan makan bersama di dalam tradisi ini, masyarakat yang berkonflik dapat mencairkan suasana dan mencapai perdamaian.
“Secara keseluruhan, bakar batu bukan hanya tradisi kuliner, tetapi juga ekspresi spiritualitas yang mendalam bagi masyarakat Papua. Tradisi ini mencerminkan hubungan mereka dengan alam, sesama manusia, dan kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi,” pungkasnya.






