Site icon sasagupapua.com

Lonceng Subuh dan Janji Gubernur Meki Nawipa: Cerita 24 Jam Kedisiplinan dari Balik Tembok MEPA Boarding School

Siswa dan Siswi di MEPA Boarding School. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Penulis : Kristin Rejang | Sasagupapua.com

Mentari belum juga menampakkan diri di ufuk timur Papua Tengah, namun lonceng kedisiplinan sudah bergema di lorong-lorong asrama MEPA Boarding School. Tepat pukul empat subuh, saat kabut tipis masih menyelimuti Langit Nabire, para tunas muda Papua sudah terjaga dari lelapnya.

Bagi Yosia Kayame, seorang anak yatim asal Kampung Kopo, Paniai yang dulunya lulusan SD YPPK Santo Yosep Badauwo, ritme hidup baru ini adalah jembatan menuju mimpi besarnya. Ia teringat jelas momen sederhana di pinggir jalan yang mengubah garis takdirnya saat bertemu dengan seorang pria bernama Bapak John (Ketua Yayasan Honai Unggul Papua). “Yosia, ko mau ikut saya atau tidak?” kenang Yosia menirukan ajakan itu, yang langsung ia jawab dengan mantap, “Ah, tentu saja boleh.”

Siswa SMP MEPA Boarding School, Yosia Kayame.

Kehidupan di dalam asrama adalah harmoni antara doa dan kemandirian. Setelah bangun, mereka tidak langsung bersenda gurau, melainkan bersekutu dalam doa pribadi sebelum merapikan tempat tidur dengan saksama.

Abdiel Mahatma Takimai, siswa kelas 10A asal Paniai, merasakan betul kontras kehidupan masa lalunya dengan disiplin asrama yang ketat. “Kalau perbedaannya yang paling nampak itu dulu saya biasa bangun jam 6, tapi di MEPA Boarding School jam 4 sudah bangun,” ujar Abdiel dengan nada bangga. Ia mengakui bahwa dulu ia jarang berdoa setelah bangun tidur, namun kini ibadah subuh pukul 4.15 telah menjadi napas harian yang membentuk karakternya menjadi lebih teratur dalam membagi waktu.

Rutinitas pagi yang padat, mulai dari ibadah pagi, piket kebersihan, hingga sarapan bersama, menjadi persiapan mereka sebelum melangkah ke sekolah pada pukul 6.30. Di ruang-ruang kelas, semangat belajar membara hingga sore hari. Eva Andiana You, siswi kelas 7A, merasa sangat bersyukur bisa berada di lingkungan yang penuh perhatian.

Siswi SMP MEPA Boarding School, Eva Andiana You. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

“Saya sangat senang karena mendapatkan teman-teman yang baik, saya sangat senang juga karena mendapatkan guru-guru, Miss dan Mister yang ramah, yang perhatian, yang selalu membimbing kami,” ungkap Eva yang bercita-cita menjadi seorang dokter demi membantu masyarakat di tanah kelahirannya.

Hal senada dirasakan oleh Violla Grace Giyai, siswi kelas 10A asal Deiyai yang akrab disapa Vio. Ketertarikannya pada sekolah berpola asrama yang gratis ini berawal dari cerita sang bibi, yang kemudian membawanya lolos seleksi. Bagi Vio, MEPA Boarding School bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan jembatan untuk melatih keteguhan hati. Ia merasa termotivasi oleh kedisiplinan yang mendekatkannya pada Tuhan sekaligus mempersiapkannya menjadi seorang pengusaha sukses di masa depan. Kegembiraan mereka semakin lengkap karena fasilitas yang memadai, makanan yang terjamin, dan pendidikan berkualitas yang bisa dinikmati tanpa biaya.

Siswi SMA MEPA Boarding School, Violla Grace Giyai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Rasa syukur yang mendalam mengalir dari bibir anak-anak ini untuk Yayasan Honai Generasi Unggul Papua, para guru, hingga Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Yosia, yang memiliki ambisi mulia menjadi Kepala Dinas Pendidikan ini, tak henti-hentinya berterima kasih kepada Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley yang telah menyediakan fasilitas gratis bagi mereka. Sementara itu, Abdiel mewakili rekan-rekan lelakinya juga menyelipkan permohonan maaf yang tulus kepada para pengajar. “Terima kasih sudah mengajar kami, walaupun kami sedikit nakal biasa di kelas, tapi terima kasih atas kesabarannya karena sudah membimbing kami dengan rasa tenang,” ucapnya.

Siwa SMA MEPAoarding School, Abdiel Mahatma Takimai. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

MEPA Boarding School Nabire merupakan lembaga pendidikan berasrama yang menerapkan disiplin total selama 24 jam. Dengan pola pembinaan yang terpadu, terstruktur, dan berkesenambungan, asrama ini mendidik 47 putri dan 40 putra. Seluruh siswa menempati total delapan kamar yang masing-masing diawasi secara ketat oleh pendamping murni maupun pendamping guru guna memastikan perkembangan karakter berjalan setiap saat. Jurnalis Sasagupapua.com melakukan peliputan selama tiga hari (28-30 Januari 2026) dan ikut menyaksikan detail semua kegiatan mulai dari bangun pagi hingga tidur malam. Semuanya nyata dijalankan dengan konsisten dan teratur.

Kepala Pembina Asrama MEPA Boarding School, John Pitherzon Dakadjo, mengungkapkan kunci utama keberhasilan asrama ini terletak pada konsistensi jadwal.

“Kegiatan ini mulai dilakukan dari jam 4 pagi sampai dengan jam 9 malam. Semuanya itu dilakukan dengan tujuan untuk membentuk karakter siswa, yaitu mereka menjadi orang-orang yang beriman, berkarakter disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab,” jelas John. Menariknya, pihak asrama telah menerapkan teknologi digital berupa pemindaian barcode untuk mencatat daftar hadir siswa, guna memastikan kedisiplinan sejak ibadah subuh pada pukul 04.15 WIT, setelah para siswa bangun secara mandiri tepat pukul 04.00 pagi.

Standar Gizi Ketat dan Larangan Makanan Instan

Salah satu keunggulan yang ditekankan di MEPA Boarding School adalah standar asupan gizi yang sangat terjaga. Makan pagi dilakukan pada pukul 06.00, makan siang pukul 12.00, dan makan malam pukul 18.00 sore. Menu yang disajikan sangat bervariasi; untuk sarapan, siswa diberikan menu ringan namun bergizi seperti bubur kacang hijau, rebusan ubi jagung, pisang dan lainnya, telur, dan susu. Contohnya pada tanggal 30 Januari 2026 saat tim sasagupapua.com melakukanpeliputan hari terakhir, para siswa disuguhkan kombinasi jagung, ubi, susu dan telur sebagai sumber energi pagi.

Suasana sarapan di MEPA Boarding School. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Untuk makan siang dan malam, asrama mewajibkan menu berat yang terdiri dari karbohidrat, sayuran, protein, dan buah-buahan. Menariknya, pihak pembina menerapkan prinsip kesetaraan dalam konsumsi. “Apa yang anak-anak makan itu juga yang dimakan oleh pendamping, guru, dan juga yayasan. Tidak ada perbedaan antara makanan siswa dengan makanan guru. Kami pastikan makanan ini bergizi agar mereka tumbuh sehat secara fisik dan intelektual,” tambah John. Ketatnya aturan gizi ini juga berlaku bagi tamu; pihak keamanan di pos satpam akan memeriksa setiap makanan yang dibawa orang tua dan akan mengembalikan makanan seperti mie instan atau makanan mengandung zat kimia tinggi yang tidak sesuai standar asrama.

Momen makan baik pagi hingga malam, para siswa juga sudah mendapatkan jadwal masing-masing setiap hari untuk membantu menyiapkan makanan yang sudah dimasak oleh bu-ibu dapur.

Integrasi Kemandirian, Akademik, dan Pengembangan Bakat

Aktivitas pasca-sekolah dimulai tepat pukul 15.00 WIT. Setelah kembali dari kegiatan reguler di sekolah, para siswa diwajibkan melakukan piket kebersihan mulai dari menyiram tanaman, membersihkan kelas, hingga toilet. Setelah itu, mereka diberikan waktu istirahat atau tidur siang sebelum memulai aktivitas sore seperti olahraga, mencuci pakaian sendiri, dan menyetrika. Kemandirian menjadi harga mati, di mana seluruh siswa diajarkan merapikan tempat tidur dan mengurus laundry tanpa bantuan staf, namun tetap di bawah pengawasan pendamping di rumah laundry yang telah disediakan.

Kepala Pembina Asrama MEPA Boarding School, John Pitherzon Dakadjo. Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Selain aspek kemandirian, pengembangan minat dan bakat juga mendapat porsi besar. Fasilitas lengkap telah disiapkan untuk mendukung hobi siswa, mulai dari olahraga futsal, voli, badminton, dan tenis meja, hingga kelas musik yang mencakup ukulele, tamborin, drum, gitar, keyboard, dan piano. Untuk menjaga keseimbangan mental, setiap tiga bulan sekali pihak asrama menjadwalkan kegiatan refreshing ke pantai. “Kami berharap MEPA Boarding School bukan hanya tempat tinggal, tetapi rumah untuk pembentukan karakter bagi anak-anak Papua agar mereka bertumbuh seimbang secara spiritual, akademik, jasmani, dan kepribadian,” harap John Pitherzon.

Sinergi dengan Orang Tua dan Dukungan Pemerintah

Meskipun baru beroperasi kurang lebih lima bulan, MEPA Boarding School telah membangun sistem komunikasi yang transparan dengan orang tua melalui grup WhatsApp. Informasi harian, termasuk renungan pagi dan malam yang diikuti siswa, rutin dibagikan kepada wali murid. Selain itu, asrama membuka pintu kunjungan pada minggu pertama setiap bulan dan mengadakan pertemuan resmi dua kali dalam satu semester sebagai forum evaluasi menyeluruh terhadap laporan perkembangan siswa.

Dukungan penuh dari Gubernur dan Wakil Gubernur juga menjadi energi tambahan bagi pengelola asrama. Dengan fasilitas gedung yang lengkap mulai dari aula serbaguna, ruang logistik, dapur, hingga klinik kesehatan pihak asrama optimis dapat mewujudkan visi besar mereka. “Kami berharap asrama MEPA Boarding School menjadi asrama unggulan di Papua Raya. Bukan saja di Papua Tengah, tetapi menjadi model bagi asrama-asrama lainnya,” ungkapnya.

Panggilan Jiwa di Balik Tembok Asrama

Lahirnya Yayasan Honai Generasi Unggul Papua bukanlah sebuah kebetulan administratif, melainkan buah dari perjalanan spiritual dan empiris seorang Nehes Jon Fallo. Pria yang menjabat sebagai Ketua Yayasan ini meyakini sepenuhnya bahwa kehadirannya di tanah Papua adalah sebuah panggilan ilahi untuk melayani melalui jalur pendidikan.

Sebelum menapakkan kaki di Papua Tengah, Nehes telah menjelajahi berbagai pelosok mulai dari Papua Pegunungan, Selatan, hingga Barat Daya. Dari pengembaraan itulah, ia menarik sebuah kesimpulan pahit namun realistis: pendidikan di Papua tidak bisa dijalankan dengan cara biasa. Ia membutuhkan konsep sekolah yang terpadu dan komprehensif untuk menjawab tantangan topografi yang ekstrem, minimnya infrastruktur, hingga isu keamanan yang kerap mengintai.

Kondisi lapangan yang serba terbatas tanpa listrik, internet, bahkan sulitnya akses sembako seringkali membuat para guru tidak betah dan memilih pindah ke daerah yang lebih nyaman. Hal ini menurut Nehes bisa menciptakan lubang besar dalam sistem pendidikan di wilayah terisolir. “Untuk betul-betul menolong generasi Papua ini melalui pendidikan, maka kita butuh sekolah terpadu dan sekolah yang komprehensif,” tegas Nehes saat menjelaskan alasan di balik pendirian yayasannya. Meski yayasan ini tergolong baru, visi yang diusung sangat mendasar, yakni menciptakan ekosistem belajar yang stabil di mana guru dan murid bisa berinteraksi tanpa terganggu oleh kendala logistik maupun rasa tidak aman.

Salah satu sudut Asrama MEPA Boarding School

“Masalah topografi Papua sangat ekstrem, sarana prasarana minim, jalan belum ada, bahkan kebutuhan sembako tidak tersedia. Hal-hal inilah yang membuat kami menyimpulkan bahwa untuk menolong generasi Papua, kita butuh sekolah terpadu dan komprehensif,” jelasnya.

Atas dasar itulah, Nehes bersama rekan-rekannya sepakat mendirikan Yayasan Honai Generasi Unggul sebagai payung hukum untuk mengelola sekolah berasrama yang mampu memproteksi sekaligus mengembangkan potensi siswa secara maksimal.

Kehadiran yayasan ini mendapatkan momentum besar ketika Pemerintah Daerah Provinsi Papua Tengah mengundang mereka untuk berdiskusi mengenai pengelolaan sekolah berasrama pada April 2025. Visi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah , Meki Nawipa dan Deinas Geley yang ingin menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama ternyata sejalan dengan kebutuhan yang harusnya dilakukan di Tanah Papua. Tantangan besar pun diberikan: membangun sistem sekolah dari nol dalam waktu yang sangat singkat.

Nehes mengenang masa-masa krusial itu sebagai sebuah pencapaian yang hanya bisa terjadi karena pertolongan Tuhan. Dalam waktu tepat 120 hari, yayasan harus merekrut guru, siswa, staf pendukung, hingga menyiapkan fasilitas dapur dan keamanan agar sekolah bisa diluncurkan pada 30 September. “Kalau untuk orang yang tidak tahu kami, mereka akan bilang terlalu dipaksakan. Tapi kami membuktikan bahwa dalam waktu 120 hari, dari nol sampai launching, semua siap running,” kenangnya.

Dari sinilah lahir identitas MEPA Boarding School. Bagi Nehes, MEPA bukan sekadar merujuk pada wilayah adat Meepago, melainkan sebuah akronim nilai yang mendalam: Mentoring (pendampingan), Education (edukasi), Pray (doa), dan Action (bertindak). Ia menekankan bahwa tidak ada orang sukses tanpa mentor, dan pendidikan harus mencakup soft skill serta hard skill. Selain itu, unsur doa menjadi tiang penopang utama, namun harus diiringi dengan aksi nyata. “Jangan sampai kita hanya berhenti di tiga hal tadi, tapi tidak action. Kita harus sampai pada tingkat melakukan, karena melakukan ini berhubungan dengan orang lain,” tegasnya.

Memasuki tahun kedua, Yayasan Honai Generasi Unggul berencana melakukan terobosan besar dalam proses rekrutmen siswa. Jika sebelumnya mereka memulai dengan siswa yang ada di sekitar karena tantangan kepercayaan masyarakat, kini Nehes siap menjemput bola ke wilayah-wilayah pedalaman yang selama ini sulit terjangkau. Targetnya jelas: menjangkau tujuh kabupaten di Papua Tengah.

“Kami mulai dengan yang ada dulu karena budaya kita ini kan banyak yang ‘Thomas’ juga, maksudnya lihat dulu baru percaya. Tapi untuk angkatan kedua ini, kami akan ke minimal tujuh kabupaten. Kami akan fokus kepada yang masih kurang, mulai dari Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya, Puncak, hingga Puncak Jaya,” ungkap Nehes. Langkah ini diambil untuk memastikan distribusi pendidikan yang merata, terutama bagi anak-anak di distrik-distrik terpencil yang selama ini minim fasilitas.

Seleksi Humanis: Bukan Mencari yang Pintar, Tapi yang Siap Dibentuk

Berbeda dengan sekolah unggulan pada umumnya yang menerapkan standar nilai akademik yang tinggi sebagai syarat masuk, MEPA Boarding School menggunakan pendekatan yang lebih humanis dan mendalam. Bagi Nehes, tidak ada anak yang bodoh; yang ada hanyalah anak yang kurang mendapatkan kesempatan. Oleh karena itu, tes akademik yang mereka lakukan bukan untuk menggugurkan siswa, melainkan sebagai alat diagnosa untuk memetakan posisi awal sang anak.

Ketua Yayasan Honai Generasi Unggul Papua, Nehes Jon Fallo. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

“Tes kami itu tidak seperti yang orang-orang bikin untuk memutuskan anak ini diterima atau tidak. Kami hanya mau tahu posisi anak ini hari ini ada di mana. Baca, tulis, hitungnya di mana? Disiplin dan kerohaniannya bagaimana? Kalau masih tidak tahu baca, ya memang tugas guru untuk mengajar sampai dia tahu baca,” tegasnya.

Namun, ada dua kriteria mutlak yang menjadi penentu: kesehatan dan komitmen orang tua. Mengingat pola hidup berasrama yang komunal, pemeriksaan kesehatan dilakukan sangat ketat sejak dari kampung halaman untuk mencegah penularan penyakit menular seperti TBC atau HBSAG. Selain itu, tahun ini yayasan akan memperketat sesi wawancara dengan orang tua secara individual. “Kami mau interview orang tua satu-satu untuk mendapatkan data yang lebih valid dan membangun kesepahaman bersama dalam mendidik anak mereka,” tambahnya.

Menjawab Tantangan Literasi dan Adaptasi Siswa

Dalam proses penerimaannya, MEPA Boarding School mengambil langkah inklusif dengan tidak menerapkan seleksi akademik yang ketat. Kepala Divisi Pendidikan MEPA Boarding School, Alpius Toam, mengungkapkan syarat utama bagi calon siswa hanyalah memiliki ijazah SD atau SMP serta kondisi kesehatan yang baik untuk tinggal di asrama.

“Kami tidak melakukan seleksi akademik. Dia bisa baca, tulis, berhitung, yang penting dia punya ijazah tamat SD karena kami terima SMP dengan SMA. Namun, antusias mereka pertama waktu datang itu mengalami tingkat stres yang cukup tinggi karena dari kebiasaan hidup bebas lalu masuk di asrama dengan skedule yang begitu tertib,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah menyediakan fasilitas olahraga dan agenda wisata rutin setiap bulan agar siswa merasa nyaman. Selain itu, pendampingan literasi dan numerasi terus dilakukan secara serius. “Kami diuntungkan dari sisi pola asrama. Pola asrama ini membuat anak-anak terjadwal semua mulai dari bangun pagi sampai datang malam. Kami membagi waktu di mana masing-masing guru diberi tugas pendampingan terhadap siswa yang masih kesulitan membaca dan terus dibimbing,” tambah Alpius.

Kepala Divisi Pendidikan MEPA Boarding School, Alpius Toam. (Foto: kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Hasil dari pendampingan intensif tersebut mulai terlihat nyata pada perkembangan mental siswa. “Puji Tuhan mengalami perubahan yang cukup bagus. Anak-anak sekarang memiliki rasa percaya diri yang bagus. Sebelumnya masih ada perasaan ragu-ragu, tapi sekarang kalau diminta tampil ke depan mereka punya percaya diri dan itu sesuatu yang kami lihat sebagai pertumbuhan,” tuturnya.

Saat ini, MEPA Boarding School mendidik total 88 siswa, yang terdiri dari 35 siswa SMA dan 53 siswa SMP. Meskipun sempat ada pengurangan dari 102 siswa yang lolos seleksi awal karena faktor kesehatan dan penyesuaian lingkungan, proses belajar tetap berjalan optimal dengan dukungan tenaga pendidik yang terus diperkuat. Alpius menegaskan bahwa setiap semester dilakukan program empowering untuk meningkatkan kapasitas guru agar mereka mampu mengevaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam mengajar.

Menilik Kedisiplinan dan Fasilitas Modern di SMP MEPA Boarding School Papua Tengah

Aktifitas belajar mengajar di MEPA Boarding School dimulai sejak pukul 07.00 WIT dan berakhir pada pukul 15.00 WIT dengan sistem pengawasan digital terintegrasi melalui aplikasi Skoola Edu. Melalui pemindaian barcode, aplikasi ini tidak hanya mencatat absensi sekolah, tetapi juga memantau kehadiran siswa saat ibadah malam, di mana seluruh data aktivitas tersebut dapat diakses langsung oleh orang tua melalui ponsel.

Untuk menjamin keamanan dan kenyamanan, seluruh area sekolah dipantau melalui CCTV serta dilengkapi fasilitas ruang kelas ber-AC dengan meja kursi modern dan layar digital di setiap kelas. Komitmen terhadap kualitas pendidikan juga didukung dengan adanya ruang perpustakaan, ruang komputer, serta kantin yang khusus menyiapkan makanan sehat bagi para siswa.

Kepala Sekolah SMP MEPA Boarding School, Ariyati Anita Salukh, menjelaskan bahwa kedisiplinan yang diterapkan di sekolahnya bersifat terstruktur, kontekstual, dan menyeluruh karena fokus utama bukan hanya pada akademik, melainkan juga pada perubahan karakter siswa. “Kedisiplinan tersebut mencakup disiplin waktu bagi anak-anak untuk memanage waktu dari bangun, datang ke sekolah, hingga beristirahat, serta disiplin belajar agar mereka fokus dalam proses pembelajaran di kelas,” ungkap Ariyati saat memaparkan pola pendidikan di asrama tersebut.

Kepala Sekolah SMP MEPA Boarding School, Ariyati Anita Salukh. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Ia menambahkan selain aturan waktu, terdapat pula disiplin tata tertib terkait kerapian berpakaian, etika berbicara dengan guru dan sesama, serta tanggung jawab terhadap fasilitas sekolah. Pihak sekolah juga sangat menekankan aspek spiritual dan sosial agar siswa memiliki kejujuran, kemandirian, dan kemampuan bekerja sama yang baik. Salah satu inovasi menarik yang diterapkan adalah sistem poin kebaikan untuk merangsang kesadaran diri para siswa.

“Di sekolah ini diterapkan sistem disiplin poin, di mana poin akan diberikan kepada anak-anak yang melakukan tugas dengan kesadaran sendiri tanpa perlu disuruh,” jelasnya. Ariyati memerinci bahwa setiap siswa dibekali 50 poin awal di mana satu poin bernilai 500 rupiah, dan poin tersebut dapat ditukarkan di kantin jika jumlahnya sudah mencapai 50 atau lebih. Namun, ia menegaskan adanya batasan belanja maksimal sebesar 25 ribu rupiah agar siswa tetap teratur dalam pola konsumsi dan tidak melewatkan waktu makan berat.

Untuk menunjang proses belajar, sekolah menyediakan fasilitas mulai dari ruang kelas yang nyaman, lab komputer, klinik, hingga sarana digital dan internet. Ariyati menceritakan bahwa di dalam kelas, para siswa bersama wali kelas menata tempat duduk membentuk huruf U agar tercipta hubungan yang baik dan interaktif saat proses pembelajaran dimulai. Hubungan dengan orang tua pun dijaga dengan sangat erat melalui pertemuan rutin dan grup komunikasi digital untuk memantau perkembangan anak secara berkala.

Saat ini, SMP MEPA Boarding School memiliki sepuluh guru dan satu admin yang melayani 53 orang siswa dengan berbagai mata pelajaran, meski Ariyati mengakui masih membutuhkan tambahan tenaga pengajar untuk posisi PJOK, Bimbingan Konseling, dan Bahasa Inggris. Ia pun menyampaikan apresiasi mendalam terhadap program sekolah gratis bagi anak-anak Papua di Papua Tengah yang menurutnya telah membawa dampak nyata bagi perubahan karakter generasi muda. “Harapannya, para siswa menjadi anak yang mandiri, berkarakter baik, kuat menghadapi masa depan, dan menjadi pemimpin-pemimpin yang takut akan Tuhan,” pungkasnya.

Sistem Poin: Disiplin yang Humanis

Kepala Sekolah SMA MEPA Boarding School, Engelbertus Otu, mengungkapkan bahwa kunci utama dari pola pendidikan di sekolahnya adalah konsistensi. Untuk memastikan hal tersebut berjalan, pihak sekolah menerapkan sistem berbasis poin yang menjadi rapor perilaku bagi setiap siswa.

Dalam penjelasannya, Engelbertus merinci bahwa setiap siswa dibekali dengan modal 50 poin di setiap awal semester. Poin ini akan berkurang secara otomatis jika siswa melakukan pelanggaran terhadap aturan sekolah maupun asrama.

“Jadi anak-anak ini kita latih mereka tentang bagaimana bisa disiplin waktu untuk datang sekolah, kemudian mereka juga didisiplin untuk mulai dengan pembelajaran, lalu dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Nah, yang dimaksudkan dengan sistem poin tadi itu jika anak-anak itu melakukan pelanggaran terkait dengan kedisiplinan yang kita terapkan di sekolah, itu dipotong poinnya,” papar Engelbertus.

Kepala Sekolah SMA MEPA Boarding School, Engelbertus Otu. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Ia mencontohkan, keterlambatan masuk sekolah akan berakibat pada pemotongan 2 poin. Namun, sistem ini tidak bersifat menghukum semata. Sekolah mengedepankan evaluasi bersama untuk mencari akar masalah di balik pelanggaran tersebut.

“Misalnya tidak disiplin waktu, kita melakukan evaluasi kemudian kita melihat bersama, duduk bersama dengan asrama, lalu kita mencari solusi apa yang menyebabkan sehingga anak ini bisa datang terlambat. Atau misalnya dia mengantuk dalam kelas, kita mencari solusinya ini kira-kira apa yang membuat anak ini dia bisa mengantuk dalam kelas, sehingga penanganannya terhadap pelanggaran kedisiplinan itu bisa tertangani dengan baik,” tuturnya.

Fasilitas Modern dan Literasi Digital

Untuk menunjang proses belajar-mengajar yang efektif, SMA MEPA Boarding School telah dilengkapi dengan fasilitas yang representatif. Saat ini, terdapat dua ruang kelas utama, yakni Kelas 10A dan 10B, yang seluruhnya telah dilengkapi pendingin udara (AC). Selain itu, terdapat fasilitas penunjang seperti Kantin Jujur untuk melatih integritas, serta ruang UKS untuk layanan kesehatan siswa.

Di sisi teknologi, sekolah menyediakan infocus, komputer, hingga laptop pribadi bagi para guru guna mempermudah penyusunan perangkat pembelajaran. Menariknya, perpustakaan di sekolah ini tidak hanya berupa fisik.

“Jadi selain perpustakaan fisik yang sedang dimiliki, kita juga sudah membangun kerja sama dengan Erlangga, jadi kita bisa mengakses bahan ajar secara online,” tambah Engelbertus, menekankan pentingnya akses literasi digital bagi siswa-siswinya.

Transparansi Melalui Sistem Informasi Akademik

Salah satu terobosan besar yang tengah dikembangkan adalah Sistem Informasi Akademik. Melalui sistem ini, aktivitas siswa di sekolah maupun asrama terekam secara digital. Saat ini, sekolah telah menguji coba penggunaan ID Card berbasis barcode untuk perekaman kehadiran.

“ID Card ini dilengkapi dengan barcode yang bisa discan oleh guru, kemudian setiap perekaman itu akan masuk ke dalam sistem. Nah, sistem ini kan ada dua: ada sistem edukasi yang bisa diakses oleh sekolah dan ada sistem Sekolah Parents yang bisa diakses oleh orang tua untuk melihat semua aktivitas,” jelasnya.

Pendamping asrama saat melakukan scan barcode melalui ID siswa saat worship pagi. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Dengan adanya aplikasi khusus orang tua, pemantauan tidak lagi terbatas jarak. “Bahkan dia punya tugas-tugas sekolah orang tua bisa melihat di situ, kapan anak ini dia mengerjakan tugas atau tidak, nah itu juga dilaporkan di bagian situ sehingga orang tua juga bisa mengakses lalu melihat perkembangan anaknya di sini.”

Pemberdayaan Guru Lokal (OAP)

SMA MEPA Boarding School saat ini memiliki 34 siswa yang dibimbing oleh 10 orang guru. Hal yang membanggakan adalah keterlibatan tenaga pendidik Orang Asli Papua (OAP) yang mendominasi staf pengajar di tingkat SMA.

Seorang guru Kimia asli Papua saat sedang mengajar di MEPA Boarding School. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

“Jadi kita punya pemberdayaan untuk pelayanan pendidikan di sini kita melibatkan teman-teman orang asli di sini. Jadi ada 3 guru OAP dan ada 7 guru non-OAP. Untuk OAP itu ada mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris, Geografi, Sosiologi, PKN, Matematika, hingga Seni,” ungkap Engelbertus.

Dedikasi Guru di MEPA Boarding School

Semangat pendidikan di tanah Papua terus membara melalui dedikasi para pengajar di MEPA Boarding School. Dua orang pendidik, Priskila Tamariska Ohee dan Noak Nawipa, membagikan pengalaman inspiratif mereka dalam mendidik putra-putri asli Papua yang penuh dengan antusiasme serta potensi besar untuk masa depan.

Priskila Tamariska Ohee, yang akrab disapa Miss Priskila, merupakan pengajar Pendidikan Agama Kristen yang juga turut membantu pelajaran Bahasa Inggris. Ia mengaku sangat terkesan dengan karakter murid-muridnya di Papua Tengah yang dinilai memiliki pemikiran kritis. “Hal yang paling menyenangkan buat saya adalah melihat bagaimana anak-anak ini sangat antusias dalam belajar. Mereka punya pemikiran yang baik, semangat, dan tidak malu-malu untuk menyampaikan argumen mereka. Untuk menjawab mereka sangat cepat dan tidak takut-takut,” ujar Priskila dengan bangga.

Guru Pendidikan Agama Kristen, Priskila Tamariska Ohee. Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Meski demikian, Priskila tidak menampik adanya tantangan dalam mengelola kelas yang terkadang cukup riuh. Ia mengakui bahwa anak-anak terkadang sedikit susah diatur, sehingga ia terus mencari solusi terbaik agar suasana belajar bisa lebih tenang. Namun, tantangan itu terbayar dengan perkembangan signifikan para siswa. “Ada beberapa anak yang pada awalnya hanya diam dan sedikit malu-malu, tapi sampai ke sini mereka sudah lebih berani mengutarakan pendapat dan tidak malu lagi bertanya kalau belum paham materi,” tambahnya.

Priskila juga menitipkan pesan mendalam bagi para orang tua siswa agar peran pendidikan tidak hanya berhenti di sekolah. “Saya berharap bukan saya saja yang menjadi guru, tapi biarlah orang tua juga bisa menjadi guru untuk mendidik mereka dan mengajar mereka untuk tidak berhenti belajar saat berada di rumah,” tuturnya. Ia selalu menanamkan pola pikir kepada siswanya bahwa mereka adalah pribadi yang cerdas, memiliki kemampuan lebih, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Senada dengan Priskila, Noak Nawipa selaku guru Bahasa Inggris di SMA MEPA Boarding School, juga merasakan kepuasan batin saat melihat siswanya menunjukkan kepercayaan diri di depan kelas. “Saya merasa senang ketika anak-anak itu memahami materi yang saya ajarkan dan menunjukkan kehebatan-kehebatan yang mereka terima melalui materi saya. Mereka sangat aktif menyampaikan ide-ide di depan kelas,” ungkap Noak.

Noak menjelaskan bahwa MEPA Boarding School telah berhasil mengangkat standar kemampuan siswa yang beragam. Menurutnya, banyak siswa yang awalnya berada di tingkat kemampuan rata-rata kini telah berkembang pesat. Bahkan, sekolah ini menjadi tempat perubahan nyata bagi anak-anak yang sebelumnya mengalami kesulitan dasar. “Selama saya bertugas di sini, anak-anak yang latar belakangnya dahulu belum bisa membaca, menulis, atau berhitung, setelah masuk ke MEPA Boarding School mereka sudah berkembang jauh,” jelasnya.

Investasi Radikal Pemerintah untuk Generasi Emas: MEPA Boarding School Digratiskan 100 Persen

Ketua Yayasan Honai Generasi Unggul, Nehes Jon Fallo, memberikan hormat setinggi-tingginya kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah yang telah berkomitmen membiayai 100 persen operasional MEPA Boarding School. Dukungan ini memastikan seluruh anak didik mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi, gizi teratur, serta fasilitas kesehatan secara cuma-cuma.

“Ini keputusan yang sangat berani. Pak Gubernur bilang tidak boleh ada yang bayar karena ini janji kepada rakyat. Jika program ini terus didukung, saya sangat meyakini bahwa 15 sampai 20 tahun ke depan, sumber daya manusia di Provinsi Papua Tengah akan melejit tinggi,” ujar Nehes dengan penuh semangat. Ia melihat program ini adalah jawaban atas masalah dasar anak-anak di wilayah pegunungan yang sering kali harus memikirkan cara mencari makan sebelum berangkat ke sekolah.

Nehes menegaskan kembali bahwa seluruh biaya di MEPA Boarding School ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov Papua Tengah. “Mepa Boarding School ini biaya 100 persen dari Pemprov Papua Tengah. Pemda Papua Tengah itu 100 persen. Jadi anak-anak yang di sini, semua sekolah gratis. Semua biaya itu dari Pemprov karena Pak Gubernur dengan Pak Wakil ini komit untuk itu. Beliau sederhana dalam diskusi-diskusi tanya kesanggupan kami dan lain-lain. Menurut Pak John, tidak boleh ada yang bayar apapun karena ini janji. Kami sudah janji kepada rakyat, janji itu harus kami tepati. Dan inilah salah satu bukti janji yang ditepati,” tegasnya.

Momen Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, Anggota DPR RI Komarudin Watubun, dan pihak Yayasan saat menggunting pinta sebagai tanda peresmian MEPA Boarding School, Selasa (30/9/2025). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Lebih lanjut, Nehes menyebut keputusan ini sebagai langkah yang radikal dalam arti positif. “Saya melihat kalau semua SKPD, tokoh masyarakat, dan orang-orang berkompeten di Pemprov mendukung, maka SDM kita akan melejit. Ini treatment atau sentuhan program yang diputuskan adalah hal-hal yang radikal, dalam, dan mendasar. Ini ngeri nih, keputusannya sangat berani. Sekolah itu mahal hari ini, tapi dengan sentuhan program langsung yang turun sampai ke bawah, 10 hingga 15 persen saja jadi, 20 tahun akan datang kita akan melihat pembangunan berkembang cepat,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nehes juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada jajaran pemerintah. “Terima kasih Pemprov karena sudah punya hati, punya visi, kemauan, dan keberanian melakukan sesuatu yang tidak biasa untuk menolong generasi ini. Kami terima kasih sudah diberikan kesempatan Yayasan Honai Generasi Unggul ikut mengambil bagian membangun SDM di Papua Tengah. Harapan kami Bapak terus sehat agar terus melayani masyarakat. Sebagai mitra, kami juga berharap ada pendampingan dari Pemprov sehingga hal-hal yang kami belum tahu bisa ditolong agar semua berjalan baik tanpa kesalahan, karena niat kita sama-sama menolong anak-anak ini,” tuturnya.

Foto bersama dalam momen peresmian MEPA Boarding School, Selasa (30/9/2025). (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

Nehes membayangkan masa depan para siswa dalam rentang waktu 15 hingga 20 tahun ke depan saat mereka sudah masuk ke dunia kerja. “Harapan kami, anak-anak kami ini bukan hanya pintar secara ilmu, tetapi mereka juga harus cerdas, berhikmat, rohaninya juga bagus, lalu mereka punya keahlian. Kami percaya mereka adalah calon pemimpin masa depan, karena itu kami terus berdoa agar mereka menjadi orang yang dapat dipercaya atau diteladani di mana pun mereka bekerja,” harapnya.

Senada dengan visi tersebut, Kepala Sekolah SMA MEPA Boarding School, Engelbertus Otu, menilai sekolah berpola asrama adalah strategi cerdas Gubernur Meky Nawipa untuk membangun SDM yang tangguh. “Sekolah berpola asrama ini memang langkah yang sangat bagus karena anak-anak bisa kita kontrol secara baik. Jadi dia tidak hanya pintar akademik tetapi iman juga bisa kita bangun,” jelasnya. Meski mengakui disiplin asrama yang ketat menjadi tantangan bagi siswa, ia menekankan bahwa aturan tersebut adalah bentuk penanaman karakter.

Guru Bahasa Inggris di SMA MEPA Boarding School, Noak Nawipa. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Apresiasi juga datang dari Noak Nawipa, guru Bahasa Inggris, yang berterima kasih kepada para pendiri yayasan. “Saya sangat memberikan apresiasi kepada Gubernur Papua Tengah,Meki Nawipa dan Wakil Gubernur, Deinas Geley yang telah membuka Yayasan Generasi Unggul Papua. Dengan adanya yayasan ini, generasi baru anak-anak Papua akan meningkat kualitas pendidikannya,” kata Noak. Ia pun berpesan kepada anak-anak di luar sana agar tidak ragu memperjuangkan pendidikan. “Jangan pernah berhenti memperjuangkan pendidikan karena pendidikan itu berlangsung seumur hidup. Saya menyarankan kepada adik-adik untuk bisa masuk ke sekolah unggul seperti MEPA Boarding School agar bisa terus berkembang,” tutupnya.

Berikan Komentar
Exit mobile version