SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Suasana khidmat menyelimuti Aula Kristus Raja Nabire, Papua Tengah, pada Selasa (5/5/2026).
Solidaritas Rakyat Papua (SRP) menggelar diskusi sekaligus peluncuran buku bertajuk “Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026: Catatan Kritis Solidaritas Rakyat Papua (SRP) di Dogiyai”.
Karya yang ditulis oleh Siorus Ewainaibi Degei ini hadir sebagai dokumen sejarah sekaligus gugatan atas rangkaian kekerasan yang hingga kini masih menyisakan teka-teki bagi masyarakat di Kabupaten Dogiyai.
Benediktus Goo: Menolak Lupa di Tengah Kemajuan Teknologi
Ketua SRP Dogiyai sekaligus Penanggung Jawab Kegiatan, Benediktus Goo, menegaskan penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh keresahan mendalam atas berubahnya wajah Dogiyai. Menurutnya, Dogiyai yang dahulu dikenal karena hasil perkebunan dan kearifan lokalnya, kini justru identik dengan konflik, kebakaran, dan pembunuhan yang pelakunya selalu berakhir misterius.
Dirinya merasa ironis karena di tengah zaman elektronik yang serba canggih, aparat keamanan terkesan sulit mengungkap dalang di balik berbagai peristiwa berdarah tersebut.
“Dasar pemikiran hari ini, mengapa buku harus ditulis dan mengapa harus diluncurkan, karena Dogiyai hari ini dikenal karena konflik. Hari ini terjadi kebakaran, pencurian, dan pembunuhan di mana-mana, tetapi semua pelakunya misterius dan tak satupun terungkap,” ujar Benediktus dalam sambutannya.
Ia menambahkan buku ini diposisikan sebagai riset awal bagi para penyelidik dan investigator di masa depan agar peristiwa ini tidak menguap begitu saja. Benediktus menekankan bahwa generasi muda Dogiyai berkomitmen untuk melawan lupa dengan mendokumentasikan setiap peristiwa secara tertulis.
Baginya, peluncuran buku ini bukanlah akhir, melainkan proses berkelanjutan untuk mendesak pengungkapan kasus, termasuk pembacokan anggota polisi Bripda Pesedau hingga penembakan warga sipil.
“Peluncuran buku kali ini bukan akhir dari sebuah perjuangan kejadian kemarin, tetapi ini adalah proses dan progres selanjutnya untuk kami masih selidiki sampai pelaku harus ungkap. Kami mendesak pihak berwenang mengungkap siapa pembunuh satu anggota polisi yakni Juventus Edowai dan memproses pelaku penembakan lima orang yang tewas di tempat,” ungkapnya.
Pesan Bupati Yudas Tebai: Menjadikan Tragedi Sebagai Cermin Perdamaian
Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Ketua Komisi A DPRD Dogiyai, Yohanes Degei, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas lahirnya karya literatur kritis ini.
Bupati mengakui membaca buku ini memunculkan kesedihan yang mendalam karena harus mengingat kembali luka lama, namun di sisi lain ia merasa bersyukur karena suara hati rakyat telah berhasil didokumentasikan.
Yudas menilai kehadiran buku ini sejalan dengan visi misi pemerintah dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan demokratis.
“Melihat lahirnya buku ini, saya menyambut dengan hati yang lempun. Di satu sisi ada rasa sedih karena kembali mengingat kesedihan yang mendalam, namun di sisi lain ada rasa syukur. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan suara hati rakyat yang menjadi saksi bisu merekam apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Yohanes Degei saat membacakan pidato Bupati.
Bupati Yudas menegaskan pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mendorong proses hukum yang transparan dan bertanggung jawab.
Ia menekankan bahwa pembangunan Dogiyai sebagai ‘Honai’ atau rumah besar bagi semua pihak tidak akan tercapai jika semua pihak menutup mata terhadap realitas pahit yang ada.
Melalui sambutan tersebut, ditegaskan pula fokus pemerintah pada pemulihan trauma bagi keluarga korban serta penguatan dialog untuk mencegah kekerasan serupa terulang kembali.
“Darah yang tumpah tidak boleh menjadi benih permusuhan, melainkan harus menjadi pemicu semangat untuk membangun masa depan yang lebih bermartabat. Kita harus hidup rukun dalam Honai besar ini, saling menghormati dan melindungi,” lanjutnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran buku secara resmi dan diskusi yang menghadirkan narasumber penting seperti Yohanes Degei, S.IP selaku Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Dogiyai, Eka Kristina Yeimo, S.Pd., M.Si. selaku Anggota DPD RI, Yulius Wandagau, S.E. selaku Ketua Pokja Adat MRP PT, Fritz Ramandey selaku Kepala Komnas HAM Papua, Felix Degei, S.Pd., M.Ed. selaku Akademisi, Selpius Bobii selaku Aktivis HAM Papua.