Site icon sasagupapua.com

Memohon Pemulihan Papua Tengah: Pemimpin dan Masyarakat Bersatu dalam Doa Bersama

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa saat membawakan doa, Senin (4/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Suasana khidmat menyelimuti Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah pada Senin, 4 Mei 2026.

Ribuan pasang mata tertuju pada satu harapan yang sama ketika Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar Ibadah dan Doa Bersama yang melibatkan para Aparatur Sipil Negara (ASN) serta perwakilan lapisan masyarakat.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah gerakan spiritualitas yang dilandasi oleh tema besar, “Saat Pemimpin dan Masyarakat Berdoa Bersama Maka Tuhan akan Mendengar serta Memulihkan Negeri Kita,” sebuah kutipan yang diambil dari firman Tuhan dalam kitab 2 Tawarikh 7:12-15.

Hadir dalam ibadah yang penuh haru ini,  Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, Sekretaris Daerah, para Bupati dari berbagai kabupaten, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), anggota DPRD, Majelis Rakyat Papua (MRP), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), hingga jajaran Kementerian Agama.

Kehadiran para petinggi daerah ini menjadi simbol kerendahan hati otoritas pemerintahan di hadapan Sang Pencipta demi memohon kedamaian atas berbagai dinamika yang tengah melanda wilayah Provinsi Papua Tengah.

Seruan Pertobatan dan Harapan dari Mimbar Firman

Pdt. Leon Wairara, S.Th, yang memimpin jalannya ibadah, memberikan pesan yang sangat mendalam melalui pembacaan Alkitab 2 Tawarikh 7:12-15.

Dalam khotbahnya, ia menekankan keberhasilan sebuah negeri tidak hanya diukur dari kekayaan alamnya, tetapi dari kedekatan hati para pemimpinnya kepada Tuhan.

Dirinya mengambil contoh Raja Salomo, seorang pemimpin yang luar biasa kaya dan berhikmat, namun tetap bersedia merendahkan diri di hadapan Tuhan untuk memohon restu bagi bangsanya.

“Bapak, Ibu, Saudara yang Tuhan Yesus kasihi, firman Tuhan yang kita baca adalah kisah di mana seorang pemimpin besar Israel yang bernama Raja Salomo. Alkitab berkata tidak ada raja sebelum dia dan sesudah dia yang hebat, berhikmat, pintar, dan kaya, dan terbukti sampai hari ini. Tetapi di tengah-tengah semua itu, dia merendahkan diri dan dia mencari wajah Tuhan. Itulah sebabnya menjadi dasar hari ini, sebuah daerah, sebuah negeri, kalau mau Tuhan pulihkan dan Tuhan berkati, dimulai dari kita para pemimpin,” ujar Pdt. Leon Wairara dalam pesannya.

Suasana khusuk dalam doa di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Senin (4/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Ia juga mengingatkan tentang kisah bangsa Niniwe yang luput dari murka Tuhan karena sang raja hingga rakyatnya bersedia bertobat dan merendahkan diri. Pdt. Leon mengatakan Papua Tengah saat ini membutuhkan “hujan” yang berbeda, yakni hujan pertobatan dan pemulihan, mengingat berbagai konflik dan masalah yang terjadi belakangan ini.

“Hari ini, Papua Tengah butuh hujan pertobatan, hujan pemulihan, hujan keselamatan. Bapak, Ibu, Saudara, yang bisa tolong Papua Tengah hanya Tuhan saja. Musibah demi musibah, masalah demi masalah, bahkan pertumpahan darah terjadi hari-hari ini di Papua Tengah. Apa yang harus kita buat? Kuncinya adalah umat-Ku merendahkan diri, berdoa, dan mencari wajah-Ku,” tegasnya.

Doa Berantai: Persembahan Hati Para Pemimpin untuk Negeri

Puncak dari kegiatan ini adalah sesi doa berantai yang dipimpin langsung oleh para kepala daerah.

Doa ini menjadi momen emosional yang menunjukkan solidaritas kepemimpinan dalam memikul beban penderitaan rakyat. Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, membuka rangkaian doa dengan suara yang penuh pengabdian, menyerahkan seluruh wilayah dari Puncak Jaya hingga Nabire ke dalam tangan Tuhan. Dalam doanya yang sangat personal, Meki Nawipa mengungkapkan doa yang menambah khusuk rangkaian doa seisi Ballroom.

“Mulai dari Puncak Jaya sampai Nabire ini Tuhan. Hari ini Tuhan tahu semua yang di pulau, yang di pesisir, yang di lembah, yang di gunung. Kami tetap yakin dan percaya dengan firman Tuhan bahwa Yesus datang untuk memulihkan, menyembuhkan, menyelesaikan seluruh masalah umat manusia di dunia ini. Bapa, terima kasih dengan otoritas yang Tuhan kasih. Waktu hamba-Mu mau jadi pilot, Tuhan kasih jadi pilot. Waktu hamba-Mu mau jadi bupati, Tuhan kasih jadi bupati. Waktu hamba-Mu mau jadi gubernur, Tuhan juga kasih jabatan ini secara cuma-cuma dan gratis,” ucapnya.

Lebih lanjut, Gubernur memohon agar Tuhan mengakhiri segala bentuk kekerasan yang terjadi di tanah Papua Tengah.

“Tuhan yang sama hari ini saya meminta supaya Papua Tengah ini Tuhan jamah, Tuhan pulihkan, Tuhan selesaikan seluruh kekerasan ini, selesai di dalam nama Yesus. Kalau Tuhan sudah tolong saya sampai hari ini. Maka itu hari ini Tuhan kami berdoa biarlah ada damai sejahtera di negeri ini Tuhan,” lanjutnya dalam doa yang menggema di seluruh ballroom.

Dalam doa lanjutannya, Gubernur Meki Nawipa secara tegas menyatakan sikap spiritual untuk melepaskan segala belenggu negatif yang menghambat kemajuan Papua Tengah. Ia menekankan pentingnya restorasi dan reformasi total, baik dalam sistem pemerintahan maupun kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Tuhan cabut roh peperangan di dalam nama Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat orang Papua Tengah ini. Tuhan pulihkan manusianya, Tuhan pulihkan tanah ini. Kami hari ini hanya ada untuk memuliakan nama Tuhan,” ucap Meki Nawipa dengan penuh keyakinan.

Para bupati dan wakil bupati yang hadir dalam doa bersama, Senin (4/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com

Kegiatan doa berantai ini kemudian dilanjutkan oleh Bupati Nabire Mesak Magai yang secara khusus mendoakan keamanan dan kesejahteraan Kabupaten Nabire.

Bupati Paniai Yan Pit Nawipa juga turut melayangkan permohonan untuk kedamaian di Kabupaten Paniai, sementara Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal mendoakan agar wilayah Puncak diberikan ketenangan dari segala gejolak.

Para asisten dan Sekretaris Daerah Provinsi Papua Tengah pun turut bergantian menaikkan doa untuk sektor pendidikan, perlindungan perempuan dan anak, serta penguatan persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

Berikan Komentar
Exit mobile version