SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS di Provinsi Papua Tengah terus menjadi prioritas utama kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Tengah pada Januari 2026, tercatat akumulasi sebanyak 24.777 kasus HIV/AIDS telah ditemukan di wilayah ini sejak tahun 1998 hingga akhir Desember 2025.
Meskipun grafik kumulatif menunjukkan tren kenaikan yang signifikan dari angka sebelumnya yang berada di kisaran 23.800-an kasus, lonjakan ini tidak serta-merta diartikan sebagai kemunduran.
Sebaliknya, fenomena ini menjadi sinyal positif bahwa mata rantai “fenomena gunung es” yang selama ini menyembunyikan kasus di tengah masyarakat mulai berhasil diurai melalui peningkatan kesadaran warga.
Kesadaran Masyarakat: Kunci Utama Terungkapnya Ribuan Kasus Baru
Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah, Freny Anouw, menegaskan masyarakat tidak perlu panik atau kaget dengan peningkatan angka yang terdata saat ini.
Lonjakan data yang dirilis pada awal tahun tersebut merupakan buah manis dari mulai aktifnya pergerakan KPA di tingkat kabupaten serta berbagai yayasan penanggulangan HIV/AIDS di lapangan yang berhasil menumbuhkan keberanian warga untuk memeriksakan diri.
“Jadi sekarang yang sedang tersebar terus HIV/AIDS di Papua Tengah ini akhir semester 2025 hasil terakhir itu sudah masuk ke laporan yang pertama itu, semester pertama Januari 2026 itu sudah mencapai 24.777. Jadi ini tadinya kan 2025 itu kan 23.800 sekian. Sekarang sudah naik signifikan ini jangan kita kaget. Karena sekarang itu KPA Kabupaten terbentuk, yayasan terbentuk. Mulai-mulai ada pergerakan. Sudah mulai ada pergerakan, itu membuat masyarakat punya ada kesadaran,” urai Freny Anouw saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (16/6/2026).
Menurut Freny, pergerakan yang masif ini terbukti efektif mengubah sudut pandang masyarakat awam terhadap tes kesehatan secara sukarela.
“Masyarakat sudah mulai kesadaran sehingga oh ini berarti saya harus periksa. Itu membuat dia naik. Jadi bukan penyakitnya yang naik, tapi kesadarannya masyarakat sudah mulai. Mulai kesadaran yang menambah. Jadi kadang orang berpikir bahwa HIV sekarang tambah banyak, tidak. Masyarakat yang sekarang mulai ada kesadaran untuk mau periksa. Itu membuat angka HIV-nya akan naik,” jelasnya.
Dengan semakin banyaknya warga yang memeriksakan diri, Freny menjelaskan peta keberadaan virus di tengah populasi akan menjadi jauh lebih transparan. Hal ini akan mempermudah pemerintah dan tenaga medis dalam memetakan serta mengintervensi penanganan secara berkala.
“Iya, jadi angkanya akan naik,nanti akan jelas status kehidupan masyarakat di Papua tengah ini, artinya posisi keberadaannya. Oh berarti kelompok ini yang dapat, ini tidak. Jadi bagi yang sudah dapat itu jangan takut. Mereka hanya pengobatan saja jalan. Kalau IMS, cepat suntik. Kalau suntik itu pasti dia akan sembuh sebelum masuk ke tahapan HIV,” kata Freny.
Freny juga menerangkan akurasi data yang disajikan kepada publik bahwa seluruhnya bersumber dari fasilitas kesehatan resmi di tingkat dasar.
“Jadi ini data yang kita selalu sampaikan di media itu adalah itu hasil dari Dinas Kesehatan Provinsi, mulai dari Puskesmas di kabupaten hingga sampai ke provinsi. Hasil itulah yang kami biasa menyampaikan di media. Jadi belum lagi nanti di semester kedua ini akan diumumkan, nanti dari dinas akan keluarkan,” ucapnya.
Dinamika Sebaran Kasus dan Peta Epidemiologi di Delapan Kabupaten
Data resmi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah memperlihatkan dinamika penyebaran kasus yang beragam di setiap wilayah sepanjang periode 2023 hingga 2025.
Secara keseluruhan, wilayah Papua Tengah mencatat total kasus tahunan sebanyak 1.300 kasus pada tahun 2023, meningkat menjadi 1.591 kasus pada tahun 2024, dan menyentuh angka 1.909 kasus pada tahun 2025.
Kabupaten Nabire mencatat peningkatan paling signifikan, bergerak dari 528 kasus di tahun 2023, naik menjadi 808 kasus di tahun 2024, dan mencapai 1.005 kasus pada tahun 2025.
Kabupaten Paniai merekam fluktuasi dengan 164 kasus pada tahun 2023, sempat turun menjadi 149 kasus pada tahun 2024, sebelum melonjak ke angka 238 kasus pada tahun 2025.
Kenaikan konsisten juga terjadi di Kabupaten Puncak Jaya yang mencatat 62 kasus di tahun 2023, naik menjadi 72 kasus di tahun 2024, dan menyentuh 99 kasus pada akhir 2025.
Sementara itu, Kabupaten Mimika mendeteksi 437 kasus pada tahun 2023, meningkat ke angka 501 kasus pada tahun 2024, dan sedikit terkoreksi menjadi 489 kasus pada tahun 2025.
Perubahan peta juga terlihat di Kabupaten Puncak yang mulai mencatat 8 kasus pada tahun 2025 setelah mencatatkan angka nol pada tahun 2023 dan 2024.
Peta nihil kasus yang bertahan selama dua tahun juga pecah di Kabupaten Deiyai dengan temuan 20 kasus pada tahun 2025.
Kondisi sebaliknya terjadi di Kabupaten Dogiyai yang menunjukkan penurunan drastis, dari 108 kasus pada tahun 2023, menyusut menjadi 50 kasus pada tahun 2024, dan tersisa 19 kasus pada tahun 2025.
Adapun Kabupaten Intan Jaya merayap naik dari yang hanya 1 kasus pada tahun 2023, menjadi 11 kasus pada tahun 2024, hingga mencapai 31 kasus pada tahun 2025.
Profil Demografi, Faktor Risiko, dan Capaian Pengobatan Medis
Bila ditinjau dari sisi demografi, proporsi akumulasi kasus berdasarkan jenis kelamin di Papua Tengah didominasi oleh kelompok laki-laki sebesar 56%, sedangkan kelompok perempuan berada di angka 44%.
Dalam hal jalur penularan, perilaku hubungan heteroseksual masih menjadi faktor risiko utama yang sangat dominan dengan persentase mencapai 94%.
Jalur biseksual menempati posisi kedua sebesar 5%, disusul oleh transmisi penularan dari ibu ke anak sebesar 1%.
Dari keseluruhan 24.777 kasus yang pernah ditemukan sejak 1998, tercatat sebanyak 17.940 Orang Dengan HIV (ODHIV) diketahui masih hidup dan menyadari status kesehatannya.
Dalam hal manajemen pengobatan klinis, sebanyak 3.582 orang saat ini sedang aktif menjalani terapi pengobatan Antiretroviral (ARV).
Di antara jumlah tersebut, sebanyak 1.305 pasien telah melakukan pemeriksaan Viral Load (VL), dengan hasil yang sangat menggembirakan di mana 1.124 orang di antaranya telah berhasil mencapai kondisi Viral Load tersupresi.
Memagari Tubuh dengan ARV dan Menghapus Stigma Melalui U=U
Pendekatan medis modern melalui konsumsi obat ARV secara teratur dianalogikan oleh Ketua KPA sebagai langkah strategis untuk memagari tubuh agar virus tidak menyebar luas.
Kepatuhan konsumsi ARV dan komitmen moralitas interpersonal menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam menekan dampak buruk virus ini.
“Stigma-stigma ini, jadi mereka sampai saat ini yang penting setelahnya kena itu dia harus setia pada suami dengan istri saja. Jangan ke sebelah, injak ke sebelah, menyebelah. Kalau dorang dua setia, minum obat ARV, terus ada yang setia terus, itu kan ibaratnya mereka ikut ARV itu bikin pagar dia. Pagar dia mati berarti penyakitnya dia tidak akan hilang, tapi dia ada di dalam. Jadi tubuh yang lain supaya dia tidak kena, tidak menyebar,” jelas Freny.
Dirinya pun mengingatkan dampak buruk yang berpotensi fatal jika seorang pasien memutuskan untuk menghentikan pengobatannya di tengah jalan.
“Kalau putus obat, penyakit akan menguasai seluruh tubuh karena tidak buat pagar. Jadi terakhir itu ya tunggu kematian. Kalau dia ikut ARV, kan dia tambah vitamin, stamina, dan lain-lain. Jadi penyakit yang mulai berkembang itu dia akan bikin pagar, obat yang bikin pagar dia supaya dia tidak berkembang. Jadi orang medis bilang itu menekan dia. Itu dia dipagar dia mati. Setelahnya kalau dia ikut terus, sehat kayak seperti kita biasa. Dia tidak beda bahkan ada yang punya anak, punya istri, Badannya pun sehat saja, kelihatan segar,” paparnya.
Freny pun menyelipkan sebuah analogi filosofis tentang karakter virus HIV yang disebutnya cerdas dan tangguh, sehingga membutuhkan kesadaran penuh dari manusia agar tidak terperosok ke dalam bahaya yang sama.
“Intinya itu kalau sudah ikut ARV, setia saja suami-istri di situ. Jangan jajan sembarang sana-sini. Jadi penyakit HIV/AIDS itu dia pintar. Bukan dia bodoh, tapi dia pintar. Ya kalau kau main-main dengan dia ya tetap dia juga main. Kalau kau baik-baik dengan dia, ya tetap dia juga baik. Kalau kau suka wujud dia baik, tenang, ini, ya dia juga tenang. Kau kasar dengan dia, ya tetap dia juga kasar begitu,” tuturnya memberi wejangan.
Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Provinsi bersama KPA terus menggaungkan kampanye global Undetectable = Untransmittable (U=U). Melalui edukasi bahwa virus yang tersupresi tidak akan menularkan penyakit, diharapkan stigma negatif dan diskriminasi di tengah masyarakat Papua Tengah dapat terkikis habis guna memicu kesadaran pengobatan yang lebih luas.
Penguatan Skrining Ibu Hamil dan Integrasi Layanan TBC-HIV
Langkah pencegahan di hulu juga menyasar kelompok rentan, khususnya ibu hamil demi memutus rantai penularan pada anak sejak dini.
Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 10.811 ibu hamil telah menjalani tes HIV dari total sasaran yang diproyeksikan sebesar 30.870 ibu hamil.
Lewat penapisan ini, ditemukan 116 ibu hamil dengan status HIV positif, dan 76 orang di antaranya telah dipastikan langsung memulai terapi ARV untuk melindungi janin dalam kandungan.
Tidak hanya berfokus pada infeksi tunggal, koordinasi penanganan terhadap koinfeksi TBC-HIV juga diperketat karena TBC merupakan infeksi oportunistik utama pada ODHIV.
Sepanjang Januari hingga Desember 2025, Dinas Kesehatan mendeteksi adanya 5.083 pasien TBC Sensitif Obat (SO).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 778 pasien telah berhasil melacak dan mengetahui status HIV mereka, dan 583 pasien yang terdiagnosis positif TBC-HIV telah mendapatkan akses layanan terapi antiretroviral (ART) secara terintegrasi.
Rencana Pengkajian Ilmiah Terhadap Fenomena Pengobatan Tradisional
Di balik pencapaian medis, tantangan di lapangan kerap kali bersinggungan dengan klaim kesembuhan dari ramuan tradisional yang beredar lewat cerita dari mulut ke mulut di masyarakat.
Merespons fenomena sosial ini, KPA Papua Tengah memandang perlu adanya penelitian dan klarifikasi medis agar tidak terjadi misinformasi yang berisiko membuat pasien putus obat medis.
“Tapi sampai saat ini banyak masyarakat yang cerita bahwa saya minum ramuan ini, itu, itu sehingga saya sembuh. Tapi itu apakah mereka ini memang dapat penyakit HIV/AIDS baru sembuh atau saat waktu dia IMS baru minum obat atau HIV baru mereka minum ramuan baru mereka sembuh, itu kan masih belum pasti. Jadi hal-hal ini, ramuan-ramuan itu perlu ada kajian,” ungkap Freny.
Freny menyadari realitas sosial adanya praktik penyembuhan alternatif non-medis yang dipercayai oleh sebagian kelompok masyarakat lokal, sehingga kajian khusus dinilai sebagai solusi bijak agar penanganan medis di puskesmas maupun pendampingan oleh LSM di lapangan dapat berjalan beriringan secara tepat.
“Jadi kalau memang ada dua tiga orang, lalu ada sekelompok orang yang kita lihat mereka itu pakai obatnya yang medis punya tapi cara campurannya walaupun mereka ini bukan jurusan latar belakangnya mereka itu orang kesehatan tapi masyarakat biasa, tapi ada yang suntik katanya itu saya dapat petunjuk, tapi ada yang sembuh benar. Jadi yang sembuh yang benar itu apakah memang penyakit IMS, HIV, atau AIDS? Ada banyak yang pengakuan datang ke kita di sini. Makanya itu yang dalam tahun ini juga kami sudah merencanakan kita harus kaji supaya pengobatan di Puskesmas jalan dari LSM juga jalan. Karena memang terbukti ada beberapa saya lihat juga. Tapi apakah memang IMS atau penyakit lain? Tapi saat ini masyarakat ini sudah mulai ada kesadaran untuk memeriksa, itu poin pentingnya,” tutupnya.
Penulis: Kristin Rejang
