SASAGUPAPUA.COM, ENDE- Di balik layar kaca gawai yang menyala di seluruh pelosok negeri, sebuah narasi besar sedang ditulis dari sebuah lokasi yang berada di Jalan Irian Jaya, Kelurahan Potulando, Kabupaten End, Flores- Nusa Tenggara Timur pada Selasa (5/5/2026).
Tampak keributan dan keramaian menyisir lokasi tersebut. Sebuah ekskavator bangunan yang dikerahkan menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah rumah.
Di tengah hiruk-pikuk aparat keamanan dan isak tangis keluarga de Hoog, berdiri seorang pemuda dengan baret merah (marun) yang tersemat kokoh di kepala. Gordon melingkar di lehernya, menandakan identitasnya sebagai aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).

Daniel Turot saat bernegosiasi dengan aparat keamanan agar menghentikan proses penggusuran salah satu rumah warga di Ende. (Foto: capture video Tribun Flores)
Pemuda itu tampak vokal, bahkan melakukan perdebatan dengan aparat keamanan disana, meminta dan bahkan berusaha menahan agar alat berat tidak merobohkan satu rumah yang sedang diperjuangkan.
Dia adalah Daniel Sakof Turot. Di usianya yang baru menginjak 24 tahun, ia telah memikul tanggung jawab besar sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende periode 2025–2026.
Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, karakter pelindung seolah sudah mendarah daging dalam dirinya. Hari itu, di depan reruntuhan bangunan, Daniel bukan sekadar berdemonstrasi; ia sedang berdiri sebagai garda terdepan untuk sebuah prinsip yang ia sebut sebagai keberpihakan pada kaum tertindas.
Didikan Petani dan Jendela Sekolah di Maybrat
Daniel lahir dan tumbuh dalam kesederhanaan di Kabupaten Maybrat, Papua. Ia adalah putra kebanggaan dari pasangan Petrus Turot dan Hobertina Korain.
Lahir dari keluarga petani, Daniel dididik dengan nilai-nilai keteguhan hati yang luar biasa.
Kisah masa kecilnya di Distrik Mosun adalah perpaduan antara kenakalan bocah lelaki dan kecerdasan yang tak terbendung.
“Kisah masa kecil saya cukup menarik, tapi memang sejak SD sampai SMA, saya dikenal sebagai anak paling nakal di distrik kami,” kenangnya saat diwawancarai oleh Sasagupapua.com, pada Rabu, 6 Mei 2026.
Stigma sebagai anak nakal sempat membuatnya putus sekolah selama tiga bulan saat duduk di bangku SD Santo Agustinus Mosun.
Namun, sebuah momen mengubah segalanya. Suatu hari, saat teman-temannya di dalam kelas terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan guru, Daniel yang berada di luar sekolah spontan berteriak memberikan jawaban benar melalui celah jendela.
“Kejadian itu memicu reaksi dari orang-orang. Setelah Pak Guru bertanya siapa yang menjawab, teman-teman memberitahu bahwa itu adalah Daniel. Begitu tahu dicari, saya langsung lari bersembunyi ke hutan di belakang sekolah,” ujarnya sambil tertawa mengenang kejadian tersebut.
Kejadian itulah yang meyakinkan keluarga bahwa Daniel memiliki potensi besar di dunia pendidikan.
Perjalanannya ke Ende pun penuh dengan perjuangan fisik yang luar biasa. Pada awal 2021, ia harus berjalan kaki dari Alun-Alun Aimas hingga Kilometer 24 di Kabupaten Sorong hanya untuk mengambil formulir pendidikan.
“Itu jalan kaki lumayan jauh dari Kabupaten Sorong ke Kilometer 24 di kantor Dinas Pendidikan. Setelah itu pulang juga jalan kaki, sampai di rumah saya isi formulir dan saya pilih Universitas Flores. Pas tes, tembus itu di jurusan Ilmu Hukum,” kenangnya.
Keputusannya memilih Flores bukan tanpa alasan. Di saat banyak rekan-rekannya sesama pemuda Papua memilih bermigrasi ke Jawa atau Bali, Daniel justru ingin mengisi ruang yang jarang disentuh.
Di Ende, ia tidak hanya belajar hukum dari buku-buku teks di kampus, tetapi juga belajar tentang kasih persaudaraan dari warga lokal.
Daniel bercerita tentang betapa hangatnya orang Ende yang menerimanya tanpa prasangka, hingga ia fasih berbahasa daerah dan memiliki orang tua angkat yang menyayanginya.
“Orang Ende itu orang baik sekali, bahkan sampai dengan bahasa daerah saya bisa tahu,” ungkapnya penuh kekaguman.
Kini, sebagai mahasiswa Hukum, ia membuktikan bahwa anak dari pelosok Papua mampu memimpin gerakan mahasiswa di tanah Flores.
“Takdir” di Depan Meja Basket: Menjadi Kader PMKRI
Perjalanan Daniel menjadi bagian dari PMKRI dimulai dari sebuah kebetulan yang ia yakini sebagai rencana Tuhan. Pada tahun 2022, saat ia berniat pergi bermain basket, langkah kakinya membawanya melewati depan Margasiswa (Sekretariat) PMKRI Cabang Ende.
“Saya lihat di depan ada tulisan PMKRI, akhirnya saya masuk ke dalam pas mau tanya kapan pendaftaran itu buka. Hari itu juga mereka bilang pendaftaran buka,” kenang Daniel. Tanpa rencana sebelumnya, ia langsung mendaftar dan menyiapkan berkas keesokan harinya.
Sejak saat itu, Daniel berproses dengan sangat tekun. Ia memulai karier organisasinya sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Hukum. Di internal PMKRI, ia meniti tangga dari bawah, mulai dari menjabat sebagai Biro Diskusi, hingga dipercaya menjadi Presidium Pendidikan dan Kaderisasi (PPK). Puncaknya, pada suksesi kepemimpinan bulan Oktober 2025, Daniel terpilih secara aklamasi oleh rekan-rekan sejawatnya untuk menakhodai PMKRI Cabang Ende.
Rekam Jejak Advokasi: Suara untuk yang Tak Terdengar
Sebelum kasus penggusuran di Jalan Irian Jaya yang viral ini, Daniel telah mengasah taji advokasinya melalui berbagai persoalan masyarakat di Ende. Ia tidak hanya duduk di balik meja sekretariat, tetapi turun langsung ke lapangan untuk merasakan denyut penderitaan rakyat.
Dua hari setelah menjadi ketua PMKRI, dirinya terlibat dalam membela kasus geothermal di Flores.
Pendampingan terhadap masyarakat yang ia dampingi cukup banyak sejak itu, ia menjabarkan ada kasus besar lainnya selain geotermal, juga penggusuran di Ndao sekitar bulan Februari.
“Terus ikut juga terlibat advokasi kasus di Mbay terkait dengan intimidasi dan ada mafia di balik pembangunan Waduk Lambo. Dan juga ikut terlibat dalam advokasi persoalan-persoalan sosial lainnya, misalnya seperti di perusahaan-perusahaan yang ekologi, berkaitan dengan yang merusak ekologi seperti di tempat pembuangan sampah terpadu. Terus galian C. Galian C itu bukan satu kalau di Ende sendiri itu banyak sekali itu kasus galian C, jadi kami juga ikut terlibat di dalam advokasi kasus galian C,” terangnya.
Lainnya adalah seperti proyek-proyek jalan yang pemerintah bangun tidak sesuai dengan standar yang seharusnya atau tidak berdasarkan RAB.
Hingga penggusuran juga yang terjadi di Ndao dimana ada 58 lapak pedagang yang digusur oleh pemerintah tanpa memberikan solusi.
“Jadi kasus-kasus yang kami dampingi semua berhadapan langsung dengan masyarakat kecil,” ucapnya.
Sementara itu, dalam kasus penggusuran keluarga de Hoog, Daniel terlibat sejak awal. Ia dihubungi langsung oleh keluarga korban untuk meminta pandangan hukum dan solusi.
“Dasar saya bertindak adalah visi misi PMKRI, yaitu berjuang dengan terlibat berpihak kepada kaum tertindas. Itu yang paling penting,” tegasnya.
Daniel bahkan melakukan perjalanan ke Maumere pada 3 Mei 2026 demi bertemu pihak Provinsial SVD untuk mencari jalan tengah mediasi.
Baginya, advokasi bukan sekadar debat hukum, melainkan upaya memastikan martabat manusia tidak diinjak-injak oleh kekuasaan sepihak.
“Pemerintah tidak pernah memberikan solusi terhadap orang-orang yang terdampaknya. Padahal tujuan adanya negara adalah melindungi masyarakat,” ujarnya dengan nada kritis.
Perisai Hidup di Jalan Irian Jaya
Puncak pengabdian Daniel diuji ketika kasus penggusuran lahan milik keluarga de Hoog mencapai titik didih.
Pemkab Ende mengeklaim lahan tersebut sebagai aset daerah, sementara keluarga de Hoog bertahan dengan surat hibah dari Serikat Sabda Allah (SVD).
Di sinilah Daniel “pasang badan”. Ia memimpin negosiasi selama dua jam yang alot, berhadapan langsung dengan barisan aparat keamanan.
Bagi Daniel, ini bukan soal siapa yang memegang sertifikat paling asli, melainkan soal etika dan kemanusiaan.
“Pandangan saya bahwa tidak boleh ada penggusuran dulu kecuali ada putusan hakim yang inkrah karena kedua belah pihak itu mempunyai bukti yang sama-sama kuat,” tegas Daniel. Ia sangat menyayangkan sikap pemerintah yang menutup pintu mediasi secara sepihak.
Sebuah fragmen emosional tertangkap kamera dan menjadi viral: Daniel Turot menangis sambil menutup mukanya sembari Else de Hoog merangkulnya ketika menyaksikan alat berat siap merobohkan rumah tersebut.

Video saat Daniel Turot tampak sedih dirangkul oleh pemilik rumah yang menangis ketika rumahnya siap untuk digusur. (Foto: Capture Video Tribun Flores)
Air mata itu adalah bentuk empati mendalam dari seorang pemuda yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai manusia.
“Kami tidak pernah berpikir soal benar dan salah dulu, tetapi kita bicara soal kemanusiaan karena tujuannya dari negara ini kan menyejahterakan rakyatnya,” katanya dengan nada suara yang bergetar namun tegas.
Melampaui Sekat Suku dan Agama
Kehadiran Daniel sebagai pemuda suku Aifat, Papua, yang membela warga Flores menjadi simbol kuat solidaritas antar-etnis.
Di lapangan, ia terlibat debat sengit dengan polisi yang mempertanyakan dasar tindakan PMKRI.
Daniel menjawab dengan filsafat hidup yang melampaui batas geografis. Ia percaya bahwa ketidakadilan di mana pun adalah ancaman bagi keadilan di seluruh Indonesia.
“Kita sebagai bangsa se-Indonesia, apa pun yang terjadi dari Sabang sampai Merauke, mungkin kau dari Aceh tapi hari ini berada di Papua melihat keadilan yang tidak terjadi di sana, kau wajib hukum untuk bicara,” jelas Daniel.
Ia menolak keras pemikiran sempit bahwa urusan NTT hanya boleh diselesaikan oleh orang NTT. Baginya, martabat manusia tidak mengenal warna kulit atau latar belakang agama.
“Kita utamakan yang pertama itu adalah soal manusianya. Kemanusiaan itu harus kita utamakan dari segala-galanya,” tambahnya.
Janji Pulang dan Peluru Intelektual
Meski kini ia menjadi pahlawan bagi sebagian warga di Ende, Daniel tetap menatap jauh ke tanah kelahirannya, Papua. Ia melihat tantangan besar masih menanti di Bumi Cenderawasih.
Baginya, perjuangan di Papua saat ini sangat kompleks karena melibatkan pengkhianatan dari penguasa dan oligarki yang ia sebut sebagai “penjilat”.
“Papua sedang tidak baik-baik saja. Untuk anak-anak muda Papua yang hari ini tidur nyenyak, ayo bangun, kita sedang terancam punah. Kita harus bicara dari berbagai sisi, baik HAM, ekologi, maupun perempuan,” pesan Daniel dengan penuh semangat.
Daniel bertekad, setelah menyelesaikan pendidikannya di Ende, ia tidak akan langsung berpuas diri. Ia berencana melanjutkan studi ke jenjang S2 untuk memperdalam “peluru” pengetahuannya sebelum benar-benar pulang ke Papua untuk bertarung melawan ketidakadilan yang lebih besar.
“Saya harus matang dulu, siapkan peluru banyak dulu. Selesai S2 baru pulang kampung untuk melawan ketidakadilan yang terjadi di sana,” pungkasnya.



