SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Tanggal 26 April kembali menjadi momentum refleksi mendalam bagi masyarakat di Tanah Papua sebagai tanda refleksi 42 tahun berpulangnya Arnold Clemens Ap, sosok budayawan, antropolog, dan musisi legendaris yang dedikasinya terhadap identitas kultural Papua tetap hidup melampaui zaman.
Melalui grup musik Mambesak, Arnold bukan sekadar penghibur, melainkan penjaga martabat yang membangkitkan kesadaran kolektif melalui lagu-lagu rakyat di tengah tekanan politik era 1980-an.
Semangat perjuangan kultural tersebut disuarakan kembali oleh musisi Papua dengan nama Panggung Pace Santana.
Diwawancarai pada Minggu (26/4/2026), kepada media ini, Pace Santana mengatakan peringatan ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali visi besar yang ditinggalkan oleh sang maestro.
“Hari ini bukan sekadar mengenang kepergian, tapi menghidupkan kembali semangat yang beliau tinggalkan. Arnold Ap bukan hanya seorang seniman, dia adalah suara tanah Papua, penjaga identitas, dan simbol keberanian dalam berkarya,” ujar Pace Santana.
Menurutnya, warisan Arnold Ap memberikan beban moral sekaligus inspirasi bagi generasi musisi masa kini untuk tidak sekadar mengejar popularitas, melainkan menjadi benteng bagi kekayaan budaya lokal. Ia melihat tantangan zaman modern menuntut konsistensi dalam menjaga jati diri agar tidak tergerus oleh arus globalisasi yang seragam.
“Sebagai musisi Papua hari ini, kita punya tanggung jawab besar. Bukan hanya membuat lagu, tapi menjaga cerita, bahasa, dan jati diri kita tetap hidup di tengah arus modernisasi,” katanya.
Dalam pesannya yang ditujukan kepada seluruh seniman dan musisi muda di Tanah Papua, Pace Santana mengajak untuk pentingnya menjaga otentisitas. Ia percaya bahwa kekuatan terbesar seniman Papua terletak pada akar budayanya sendiri, yang jika dikelola dengan jujur, akan mampu berbicara banyak di panggung internasional.
“Harapan saya untuk semua musisi Papua, jangan takut jadi diri sendiri. Jangan tinggalkan akar budaya hanya untuk mengikuti tren. Justru dari budaya kita, dunia bisa mengenal siapa kita sebenarnya,” pungkas Pace Santana.
Arnold Clemens Ap sendiri lahir pada 1 Juli 1945 dan mengabdikan hidupnya untuk meneliti serta mempopulerkan kebudayaan Papua sebelum wafat pada 26 April 1984. Hingga kini, namanya tetap harum sebagai martir kebudayaan yang mengajarkan bahwa seni adalah senjata paling ampuh untuk merawat harga diri sebuah bangsa.