Site icon sasagupapua.com

Menjaga Nyala Obor Arnold Ap, Neles Rumanasen Ajak Seniman Papua Terus Angkat Bahasa Ibu dan Jaga Warisan Budaya

Seniman asal Papua Barat Daya, Neles Rumanasen. (Foto: Ist)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah –Tanggal 26 April menjadi tanggal yang sakral bagi ingatan kolektif masyarakat di Tanah Papua.

Hari ini merupakan peringatan 42 tahun berpulangnya Arnold Clemens Ap, sang budayawan, antropolog, sekaligus musisi legendaris yang mengabdikan hidupnya demi menjaga martabat identitas kultural Papua.

Melalui grup musik Mambesak yang didirikannya, Arnold Ap berhasil membuktikan bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan benteng pertahanan bagi tradisi lisan dan akar budaya lokal yang tak ternilai harganya.

Meski langkah Arnold Ap terhenti secara tragis pada 26 April 1984, api semangatnya tidak pernah padam.

Warisan tersebut kini hidup dalam karya para seniman kontemporer, salah satunya Neles Rumanasen.

Seniman asal Papua Barat Daya ini telah membawa nama Papua melintasi berbagai benua, mulai dari Amerika, Australia, Singapura, Rusia, hingga Prancis dan Turki. Bagi Neles, sosok Arnold Ap adalah kompas dalam perjalanan seninya.

“Saya mungkin lebih kenal beliau dari banyak membaca buku tentang sepak terjangnya sebagai seorang seniman yang hebat menurut saya,” ujar Neles saat merefleksikan pengaruh Arnold Ap terhadap generasinya.

Neles menekankan bahwa meski secara administratif Papua kini telah dimekarkan menjadi beberapa provinsi, namun bagi para seniman, Papua adalah satu kesatuan rasa dan budaya yang utuh.

Dirinya mendorong rekan-rekan sesama seniman untuk tetap teguh pada identitas asli dan konsisten menggunakan bahasa ibu dalam setiap karya yang dihasilkan.

“Harapan saya kepada seniman-seniman di Tanah Papua, umumnya Papua tidak bisa dibagi seperti pemerintahan. Papua itu satu. Jadi untuk seniman Papua, teruslah berkarya mengangkat bahasa ibu. Walau tahun berganti zaman berubah, mari kita tetap menyanyi dengan gaya kita sendiri, jangan tiru gaya orang lain. Untuk anak-anak Papua, jangan sampai bahasa ibu hilang, mari kita menyanyi agar bahasa ibu tetap ada,” kata Neles dengan penuh .

Lebih lanjut, Neles memandang bahwa karya seni adalah cermin dari realitas kehidupan yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, keberanian Arnold Ap dalam berkarya di masa yang penuh tantangan pada era 80-an harus menjadi energi bagi seniman masa kini untuk tetap optimis menyuarakan kebenaran dan mendokumentasikan keadaan zaman sekarang melalui seni.

“Bagi saya tetap berkarya. Karya bagi seorang seniman ialah hidup yang menceritakan sesuatu yang terjadi. Kalau pada waktu itu orang tua kami, Arnold Ap, berani berkarya di masa yang memang penuh dengan tantangan, kami sekarang harus tetap optimis untuk selalu berkarya. Kami akan menceritakan tentang apa yang terjadi di masa sekarang,” pungkasnya.

Berikan Komentar
Exit mobile version