SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Mobil pastoran yang ditumpangi Pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni Puncak yang membawahi administrasi Pemerintahan Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Puncak Papua dan Kabupaten Puncak Jaya Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak, Pastor Yance Yogi, Pr., bersama sejumlah umat, seorang suster, pelayan Gereja Katolik, dan karyawan Tunas Jaya Papua (TJP) jadi sasaran tembakan di Titigi, Kabupaten Intan Jaya, Minggu (29/6/2026). Beruntung, seluruh penumpang selamat meski kendaraan mengalami kerusakan akibat peluru yang menembus badan mobil.
Sebagai pimpinan Gereja Katolik di wilayah itu, Pastor Yance mengaku prihatin atas peristiwa tersebut. Menurutnya, di tengah upaya pemerintah mempercepat pembangunan di Titigi, mobil pastoran yang mengangkut dirinya bersama umat justru menjadi sasaran tembakan, padahal seluruh penumpang saat itu masih mengenakan jubah kebesaran Gereja Katolik dan membawa salib suci.
“Pemerintah pusat dan aparat keamanan mau mempercepat pembangunan tetapi aneh mobil Pastor dan umat yang mendampingi karyawan yang bangun jembatan di Titigi justru sasaran tembak dalam suasana mengenakan jubah dan membawa salib. Mobil Pastor dan penumpang yang naik dalam mobil Pastor dapat tembak juga.”
Saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (1/7/2026), Pastor Yance menjelaskan bahwa sebelum insiden terjadi dirinya bersama umat tengah mendampingi pekerjaan pembangunan jembatan di Titigi yang dikerjakan oleh pihak perusahaan. Situasi kemudian berubah sekitar pukul 15.30 WIT ketika terjadi kontak senjata antara aparat TNI-Polri dan TPNPB di sekitar Kali Wabu.
“Pada 29 Juni saya bersama umat di Titigi mendampingi pekerjaan pembangunan jembatan yang dilakukan pihak perusahaan. Sekitar pukul 15.30 WIT terjadi kontak senjata antara TNI-Polri dan TPNPB-OPM di sekitar Kali Wabu. Karena baku tembak itu, saya mengajak pihak perusahaan segera menuju Titigi untuk mengantisipasi situasi yang semakin berbahaya,” ujar Pastor Yance.
Menurutnya, rombongan yang terdiri dari pihak perusahaan, karyawan, dan umat kemudian menggunakan ekskavator menuju Titigi untuk menghindari lokasi kontak senjata. Namun sebelum tiba di tujuan, mereka kembali dihadang rentetan tembakan yang mengakibatkan seorang karyawan terkena peluru.
“Kami bersama pihak perusahaan, karyawan, dan umat Paroki Titigi naik menggunakan ekskavator menuju Titigi. Namun sebelum sampai, kami dihadang tembakan dan ada seorang karyawan yang terkena peluru. Kami semua langsung turun dari alat berat, berlutut di sekitar ekskavator sambil berdoa memohon perlindungan Tuhan. Kami bertahan di sana sampai situasi mulai mereda,” kata Yogi.
Sekitar 50 menit kemudian, setelah situasi mulai mereda, Pastor Yance bersama rombongan keluar dari lokasi persembunyian. Ia kemudian meminta umat menjemput mereka menggunakan mobil pastoran. Kendaraan tersebut datang membawa seorang suster, para pewarta, serta anggota Badan Pengurus Gereja Stasi (BPGS) yang saat itu masih mengenakan jubah kebesaran Gereja Katolik.
Namun, saat mobil hendak bergerak meninggalkan lokasi, kendaraan itu kembali menjadi sasaran tembakan.
“Sesampai 50 menit kemudian, kami bersama umat Titigi sudah berada di jalan. Saya mengajak umat untuk segera membawa mobil pastoran. Seorang suster, para pewarta, dan anggota BPGS datang menjemput kami. Kami semua naik ke dalam mobil. Saat kami hendak jalan, mobil yang kami tumpangi kembali ditembaki. Peluru menembus badan mobil hingga mengenai kursi bagian tengah depan dan satu penumpang kena luka tembak,” ungkapnya.
Meski kendaraan mengalami kerusakan dan salah satu penumpang terluka akibat tembakan, Pastor Yance bersyukur seluruh penumpang berhasil selamat.
“Puji Tuhan, Pastor, Suster, pewarta, anggota BPGS, serta karyawan TJP yang berada di dalam mobil semuanya selamat dari kontak tembak antara TNI-Polri dan TPNPB. Kami percaya Tuhan membuka jalan sehingga kami dapat selamat dari tembakan, padahal saat itu kami masih mengenakan jubah kebesaran Gereja Katolik dan Salib Suci,” tuturnya.
Atas peristiwa tersebut, Pastor Yance menegaskan pihak Gereja akan menempuh langkah-langkah sesuai prosedur agar penembakan terhadap kendaraan milik Gereja dapat diproses dan pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.
“Soal penembakan mobil pastoran ini, kami akan menempuh langkah-langkah yang semestinya agar pihak yang menembaki mobil milik Gereja bertanggung jawab. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini,” tegasnya.
Pastor Yance berharap insiden tersebut tidak merusak hubungan baik yang selama ini telah terjalin. Menurutnya, kebersamaan dan kerja sama seluruh pihak harus tetap dijaga agar situasi di Intan Jaya tetap aman dan damai.
“Semoga ke depan kebersamaan kita dan kerja sama kita tetap berjalan dengan baik,” pungkas Pastor Yance.