Site icon sasagupapua.com

MRP Papua Tengah Kecam Pembunuhan Lagi di Kwamki Narama: Hentikan Perang, Jangan Biarkan OAP Habis

Ketua Pokja Adat MRP Papua Tengah, Yulius Wandagau. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Ketua Pokja Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Yulius Wandagau, mengecam keras peristiwa tewasnya seorang pria berinisial GW di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Sabtu (1/7/2026) malam.

Korban ditemukan mengenaskan dengan puluhan anak panah menancap di tubuhnya.

Yulius menegaskan bahwa tindakan keji tersebut sangat tidak manusiawi dan telah menyimpang jauh dari adat serta budaya perang masyarakat pegunungan Papua.

“Terkait konflik sosial yang terjadi di Kwamki Narama kemarin lalu, korban ditemukan dengan puluhan panah bersarang dalam tubuhnya. Ini sangat tidak manusiawi dan tindakan ini sama sekali tidak dibenarkan. Dalam budaya perang kami orang gunung, hal seperti itu tidak ada. Biasanya, kalau satu atau dua panah sudah membuat orangnya tidak bernyawa, pasti ditinggalkan. Kami tidak tahu mereka belajar dari mana sampai puluhan panah bersarang di tubuh korban,” kata Yulius Wandagau, Senin (3/8/2026).

Yulius mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk segera menghentikan aksi kekerasan serta perang antar-marga dan suku.

Menurutnya, konflik antarsaudara semacam ini hanya akan semakin mengikis populasi Orang Asli Papua (OAP) yang saat ini juga menghadapi berbagai tantangan lain.

“Kami berharap masyarakat segera menghentikan kekerasan dan perang suku. Makin lama orang Papua ini bisa makin habis, baik karena masalah ideologi maupun penyakit seperti HIV/AIDS. Lalu, mengapa kita malah saling perang saudara dan meninggalkan budaya yang sebenarnya? Perang adat itu ada tujuannya dan ada tatacaranya, tidak membabi buta. Suku Moni, Mee, Damal, Amungme, hingga Nduga dari dulu tidak pernah mengenal cara perang yang seperti ini,” tuturnya.

Ia menyayangkan tradisi pembalasan dendam yang terus berulang tanpa penyelesaian yang dingin. Yulius menekankan bahwa setiap persoalan seharusnya diselesaikan secara damai agar tidak menelan lebih banyak korban jiwa.

“Memang ada istilah ‘kepala bayar kepala, mata bayar mata’ pada saat perang adat. Tapi kami berharap, kalau ada masalah, selesaikanlah dengan kepala dan hati yang dingin untuk menghindari jatuhnya korban berjatuhan. Masalah ini berlanjut terus dan masyarakat yang terus jadi korban. Saya tegas menyatakan tidak terima dengan kejadian yang menimpa korban di Kwamki Narama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yulius mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Puncak dan Kabupaten Mimika bersama MRP serta tokoh agama telah menempuh jalur perdamaian untuk menghentikan pertikaian peperangan di Kwamki Narama dan sudah ada perdamaian. Namun, munculnya kejadian ini menunjukkan adanya pihak yang sengaja melanggar kesepakatan damai tersebut.

Oleh karena itu, ia meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dan menindak para pelaku serta dalang di balik peristiwa berdarah ini melalui proses hukum positif.

“Pemerintah Daerah, MRP, dan tokoh agama sebenarnya sudah mendamaikan kedua kelompok ini. Namun, konflik ini terjadi lagi. Pihak keamanan harus mencari pelaku dan otak di balik kejadian ini. Mereka sudah melanggar kesepakatan bersama, maka pelaku dan kepala perangnya harus ditangkap serta diproses secara hukum positif, tidak boleh dibiarkan. Jika biarkan, hukum adat pembalasan akan muncul lagi dan konflik tidak akan pernah selesai,” pungkas Yulius

Exit mobile version