Oleh: Laurens Minipko
(Timika, 25 Maret 2026)
Ada satu pola yang sering luput kita sadari: kekuasaan tidak selalu bekerja lewat Tindakan tetapi lewat cara ia berbicara. Di hadapan publik, Donald Trump memberikan contoh paling telanjang tentang itu.
Dalam satu sesi tanya jawab di Gedung Putih (Bloomberg Televisioan: “Iran War Update…”), ketika wartawan bertanya tentang perang dan negosiasi Iran, atau kebijakan dalam negeri Amerika Serikat, jawaban Trump tidak bergerak dalam logika dialog. Ia melompat, berulang, dan kembali pada satu pusat:
“Mereka hancur. Militernya habis. Kami menang.”
“Demokrat itu buruk. Kami punya kebijakan terbaik.”
“Kami yang paling hebat. Semua berhasil.”
Bahkan ketika pertanyaan berubah tentang Iran, imigrasi, atau anggaran, jawaban tetap kembali ke pola yang sama: klaim kemenangan total, delegitimasi lawan, glorifikasi diri.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah struktur.
Monolog yang Melompat, Tapi Tidak Pernah Bergerak
Jika kita perhatikan lebih dalam, narasi Trump tidak linear. Ia:
- berpindah dari Iran ke imigrasi,
- dari militer ke pajak,
- dari negosiasi ke serangan terhadap oposisi.
Namun di balik lompatan itu, ada satu hal yang tidak berubah: pusat narasi tetap sama: “kami menang, mereka gagal.”
Dalam bahasa Mikhail Bakhtin ( 1895-1971-Dialogisme), ini adalah monolog murni: suara lain hadir, tetapi tidak pernah benar-benar didengar.
Dalam perspektif Michel Foucault (1926-1984), ini adalah produksi kebenaran melalui penguasaan wacana, bukan melalui verifikasi fakta.
Dan menurut Jürgen Habermas (1929), ini adalah kegagalan komunikasi, yang tersisa hanya strategi untuk menang.
Dari Gedung Putih ke Graha Eme Neme Yauware
Sekarang kita pindah ke Mimika.
Pada 25 Maret 2026, laporan satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Mimika dipaparkan dengan narasi yang jauh lebih tenang.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada klaim hiperbolik.
Namun jika kita bedah strukturnya, kita menemukan pola yang serupa.
Repetisi dalam Versi Halus
Jika Trump mengulang “kemenangan”, maka Mimika mengulang:
- “tenang”
- “tidak gaduh”
- “meredam konflik”
- “bekerja dalam diam”
Kalimat-kalimat ini muncul berulang sebagai fondasi narasi. Ini bukan sekadar deskripsi. Ini adalah framing realitas.
Seperti Trump yang berkata “kami menang” tanpa membuka ruang bantahan, laporan Mimika berkata: “kami stabil” tanpa menghadirkan suara yang menguji klaim itu.
Antara Fakta dan Narasi
Dalam laporan satu tahun kepemimpinan itu data pembangunan disajikan dengan rapi, seolah membentuk satu cerita utuh tentang kemajuan.
Di atas kertas, Mimika bergerak:
- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 76,85 menjadi 77,5
- Pertumbuhan ekonomi meningkat dari 4,80% menjadi 6,5%
- Kemiskinan menurun dari 14,18% menjadi 13,8%
- PDRB melonjak dari Rp126,87 triliun menjadi Rp160,52 triliun
- PDRB per kapita naik dari Rp394 juta menjadi Rp500 juta
Sekilas, ini adalah narasi kemajuan yang solid. Namun pada saat yang sama, data yang sama juga menyimpan retakan:
- Tingkat Pengangguran Terbuka naik dari 6,7% menjadi 6,75%
- Gini ratio meningkat dari 0,324 menjadi 0,37 → ketimpangan melebar
- Ekonomi Mimika 88,57% bertumpu pada sektor tambang
Di sinilah kita harus berhenti sejenak. Mengapa? Karena data tidak pernah netral. Ia selalu membutuhkan tafsir.
Pertumbuhan Tanpa Pemerataan
Bagi Orang Asli Papua, angka pertumbuhan 6,5% tidak otomatis berarti kesejahteraan.
Ketika ketimpangan meningkat, pertumbuhan itu menjadi paradoks: ekonomi membesar, tetapi jarak antar kelompok ikut melebar.
PDRB per kapita yang mencapai Rp500 juta terlihat tinggi, bahkan mencolok. Tetapi pertanyaan dasarnya adalah: siapa yang menikmati angka itu?
Jika 88% ekonomi bertumpu pada tambang, maka:
- distribusi sangat tergantung pada sektor ekstraktif,
- akses masyarakat lokal menjadi terbatas,
- dan ketimpangan menjadi konsekuensi struktural.
Inflasi dan Kehidupan Sehari-hari
Data inflasi juga menunjukkan dinamika yang tidak sederhana:
- 2025: inflasi turun menjadi 2,03%
- Awal 2026: naik kembali menjadi 3,97% (Januari) dan 4,31% (Februari)
Penjelasan resmi mengaitkannya dengan kenaikan harga emas dan dinamika global.
Namun bagi masyarakat: inflasi bukan soal angka tahunan tetapi soal harga di pasar.
Ketika harga naik:
- daya beli turun,
- beban rumah tangga meningkat,
- dan kelompok rentan paling terdampak.
Antara Statistik dan Realitas Sosial
Di titik ini, kita melihat perbedaan antara:
- fakta statistik, dan
- realitas sosial yang dirasakan.
Secara statistik:
- ekonomi tumbuh
- kemiskinan turun
Namun secara sosial:
- ketimpangan meningkat
- struktur ekonomi rapuh
- akses tidak merata
Ini yang sering tidak terucap dalam laporan resmi.
Narasi yang Dipilih, Fakta yang Disisihkan
Dalam logika kekuasaan, tidak semua data diberi bobot yang sama.
Yang diperkuat:
- pertumbuhan ekonomi
- peningkatan IPM
- penurunan kemiskinan
Yang cenderung dilemahkan:
- ketimpangan
- ketergantungan tambang
- kenaikan pengangguran
Di sini, narasi bekerja bukan dengan menghapus fakta, tetapi dengan memilih fakta mana yang ditonjolkan.
Pertanyaan dari Pinggiran
Dari perspektif OAP, pertanyaan yang muncul bukan lagi: “berapa besar pertumbuhan?”
Tetapi:
- apakah pembangunan itu mengurangi ketimpangan?
- apakah ia memperkuat posisi masyarakat adat?
- atau justru memperdalam ketergantungan?
Karena pada akhirnya, angka bisa naik tetapi keadilan belum tentu ikut tumbuh.
Lompatan Narasi: Dari Konflik ke Prestasi
Seperti Trump yang melompat dari perang ke pajak, laporan Mimika juga melakukan lompatan:
- dari konflik sosial ke stabilitas
- dari keterbatasan anggaran ke capaian
- dari kritik publik ke statistik pembangunan
Namun yang tidak hadir adalah: jembatan kritis di antara semua itu.
- Tidak ada pertanyaan:
- apakah konflik benar-benar selesai?
- siapa yang masih terdampak (perempuan, anak-anak, kaum tua)?
- bagaimana ketimpangan yang meningkat dijelaskan?
Di sini, monolog bekerja dengan cara yang lebih canggih: bukan menutup fakta, tetapi mengalihkan fokus.
Siapa yang Tidak Bicara?
Dalam monolog Trump: Iran tidak punya suara di Gedung Putih.
Dalam monolog Mimika: masyarakat adat tidak bicara, warga miskin tidak bicara, kritik publik hanya disebut, tidak dihadirkan. Negara berbicara tentang rakyat tanpa rakyat benar-benar berbicara tentang nasibnya.
Monolog Keras vs Monolog Lembut
Perbandingannya menjadi jelas:
Trump: agresif, “kami menang”, serangan langsung, menolak lawan, monolog keras
Mimika: Tenang, ”Kami stabil”, Bahasa persuasif, menyerap kritik tanpa membuka ruang, monolog lembut.
Namun keduanya bertemu pada satu titik: “kekuasaan tetap berbicara sendiri.”
Bahaya yang Tidak Terlihat
Monolog keras seperti Trump mudah dikenali karena kasar.
Tetapi monolog lembut justru lebih berbahaya karena tampak wajar.
Ia hadir sebagai: laporan resmi, narasi pembangunan, bahasa birokrasi yang rapi.
Namun di dalamnya: konflik dilunakkan, ketimpangan dipinggirkan, kritik diredam secara halus.
Membongkar, Bukan Menolak
Esai ini bukan untuk menolak semua capaian. Juga bukan untuk menuduh tanpa dasar.
Tetapi untuk mengingatkan: bahwa dalam setiap laporan kekuasaan, selalu ada pertarungan wacana.
Mengikuti Jürgen Habermas, kita butuh:
- ruang di mana data bisa diperdebatkan,
- ruang di mana klaim bisa diuji,
- ruang di mana rakyat bisa berbicara.
Karena tanpa itu, kita hanya akan berpindah dari satu panggung ke panggung lain, dari Gedung Putih ke Graha Eme Neme Yauware namun dengan pola yang sama: kekuasaan yang berbicara sendiri, lalu menyebutnya kebenaran.(*)