Menu

Mode Gelap

Opini · 11 Feb 2026 12:51 WIT

OPINI | Dua Mimbar Satu Gereja


Laurens Minipko Perbesar

Laurens Minipko

Oleh Laurens Minipko

Ditulis di Timika, 10 Februari 2026

Bayangkan satu panggung besar. Lampu sorot menyala. Di satu sisi berdiri seorang pastor di Mimika – suara keras, nada menggugat, menyebut ketidakadilan yang dikelola negara. Di sisi lain, di Merauke, seorang uskup agung berdiri tenang mendukung program cetak sawah yang disebut membawa masa depan.

Dua mimbar. Dua nada. Satu gereja. Lampu sorotnya sama terang. Tetapi arah cahayanya berbeda. Dan publik mulai bertanya: apakah ini perbedaan tafsir? Atau perbedaan keberpihakan?

Tafsir yang Lahir dari Ruang

- Advertising -
- Advertising -

Mimika dalah kota tambang. Di sana emas dan tembaga diangkut setiap hari. Tetapi kemiskinan juga tidak ikut terangkut. Ketimpangan terlihat telanjang: hotel berbintang dan mama-mama penjual pinang berdiri dalam satu garis horizon. Dalam ruang seperti itu, suara gereja mudah berubah menjadi suara kritik. Pastor yang bersuara keras bukan sedang bermain politik praktis. Ia membaca realitas sosial yang retak.

Merauke berbeda. Ia dataran luas. Negara datang dengan peta dan traktor. Cetak sawah disebut sebagai jalan menuju ketahanan pangan. Lapangan kerja dijanjikan. Integrasi ekonomi dirayakan. Di sini dukungan gerejawi dibaca sebagai optimisme pembangunan.

Tetapi pembangunan tidak pernah hanya soal beras. Ia juga soal tanah. Soal demografi. Soal siapa yang tinggal dan siapa yang tersisih. Hubungan sederhana menunjukkan: proyek skala besar membutuhkan tenaga kerja besar. Jika ratusan ribu orang masuk, komposisi penduduk berubah. Dan ketika komposisi berubah, relasi kuasa ikut bergeser. Ia bergeser bukan tanpa harga.

Cermin yang Memantul ke Timur

Di tengah perdebatan itu, tulisan Made Supriatma tentang anak SD di Ngada datang seperti tamparan. Seorang anak mencabut nyawanya karena kemiskinan. Bantuan datang. Kamera merekam. Pejabat memberi santunan. Tetapi struktur tetap berdiri. Made menyebutnya “miss the point.”

Ia lalu bertanya: di manakah Gereja ketika kemiskinan itu berulang dari generasi ke generasi?  Pertanyaan itu tidak berhenti di Flores.

Ia memantul ke Merauke.

Ia bergaung sampai Mimika.

Ketika ada imam yang menggusur umat dengan dasar legalitas tanah, ketika gereja berdiri di sisi proyek besar negara tanpa membaca dampak sosialnya, maka persoalannya bukan lagi pastoral. Ia struktural.

Gereja bisa menjadi pengkritik kuasa. Tetapi gereja juga bisa menjadi bagian dari arsitektur kuasa itu. Itu simpulnya.

Nabi atau Mitra

Sejak dulu gereja hidup di antara dua pilihan. Menjadi nabi yang menegur raja. Atau menjadi penasehat yang duduk di sebelah raja. Keduanya tidak selalu salah. Tapi keduanya punya konsekuensi.

Di Mimika, suara keras tentang ketidakadilan membuat gereja berdiri sebagai nurani publik. Penjaga batas antara kuasa dan korban.

Di Merauke, dukungan terhadap PSN membuat gereja tampil sebagai mitra pembangunan. Masalahnya bukan pada perbedaan itu. Masalahnya muncul ketika umat mulai merasa gereja lebih dekat dengan negara daripada dengan mereka.

Ketika umat berkata: “not my church,”, mungkin maknanya bisa searah dengan “mato,” itu bukan sebatas kemarahan. Itu tanda retak legitimasi moral.

Mengukur Keberpihakan

Maka pertanyaan yang harus dijawab bukan apakah pembangunan perlu. Bukan pula apakah negara selalu salah. Pertanyaannya sederhana – tetapi berat:

Siapa yang paling diuntungkan?

Siapa yang paling berisiko kehilangan?

Apakah orang asli tetap menjadi tuan di tanahnya sendiri?

Jika pembangunan memperluas martabat manusia Papua, dukunglah.

Jika ia mempersempit ruang hidup mereka, kritiklah.

Ukuran mandat moral gereja bukan pada kedekatan dengan proyek, melainkan pada kepekaan menimbang jaraknya dengan penderitaan.

Perahu di Sungai Keruh

Di sungai yang airnya keruh, ada dua jenis perahu.  Yang satu memilih mengikuti arus – cepat sampai, aman dari gelombang. Yang satu memilih melawan arus – lambat, tetapi menjaga arah. Gereja di Papua hari ini seperti perahu itu.

Ia bisa memilih arus pembangunan negara. Ia bisa memilih melawan ketika arus itu menyeret umatnya. Tetapi apa pun pilihannya, ia tak bisa berpura-pura bahwa sungai ini jernih.

Tambang di Mimika.

Sawah di Merauke.

Jeritan di Flores.

Semua adalah bagian dari air yanng sama.

Dan sejarah kelak akan mencatat: apakah gereja menjadi kompas bagi yang lemah atau sebatas penumpang yang menikmati perziarahan yang fanah.

Berikan Komentar
Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

OPINI | Menanti Suara Kaka Tertua

12 Februari 2026 - 07:26 WIT

OPINI | Perut Tak Bisa Gantikan Buku

6 Februari 2026 - 08:52 WIT

OPINI | Diskursus Motor Kesejahteraan dan Dekonstruksi Narasi “Miracle Crop”: Gugatan Etis Atas Ketimpangan Struktural

5 Februari 2026 - 08:29 WIT

OPINI | Mujizat dan Beban di Pinggiran

4 Februari 2026 - 18:45 WIT

OPINI | Gembok Birokrasi dan Matinya Nalar Kebijakan di Pasar Sentral

2 Februari 2026 - 08:15 WIT

OPINI | Mimika dalam Arsitektur Papua Tengah: Sinkronisasi atau Sekadar Seremonial?

26 Januari 2026 - 05:27 WIT

Trending di Opini