Menu

Mode Gelap

Opini · 10 Mar 2026 07:37 WIT

OPINI | Merauke, Negeri Para Makhluk Kelaparan: Menggugat Epistemologi Kolonial melalui Ontologi Anum


Ilustrasi from AI Perbesar

Ilustrasi from AI

Oleh: Laurens Minipko 

(Timika, 9 Maret 2026)

Dalam pandangan pembangunan konvensional, kelaparan sering kali dipandang hanya sebagai angka kebutuhan kalori. Tetapi, melalui ulasan Wensislaus Fatubun tentang karya Sophie Chao yang berjudul Land of Famished Beings (2025), kita diajak memandang kelaparan sebagai sebuah ‘kondisi moral keberadaan’.

Pada diskusi buku yang diadakan oleh KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies pada tanggal 6 November 2025, Wensislaus Fatubun, akademisi Papua dari University of Canterbury (New Zealand), menggunakan sudut pandang Thomas Csordas tentang Embodiment untuk menegaskan bahwa tubuh masyarakat Marind di Kabupaten Merauke bukan sekadar entitas biologis yang sedang lapar, melainkan daerah di mana kisah kolonialisme, trauma perang, dan ekspansi kapitalisme (seperti perkebunan sawit) bersatu. Tubuh yang lapar adalah tubuh yang menyampaikan kesaksian akan kehancuran dunia mereka.

Dari Anim menuju Anum: Sebuah dekolonisasi taksonomi

- Advertising -
- Advertising -

Salah satu kontribusi penting dari analisis Wensislaus adalah kritik terhadap penggunaan istilah Marind-anim. Selama lebih dari satu abad, sejak era Van Baal (1966), kajian antropologi tentang Papua sering kali terjebak dalam pandangan yang dipengaruhi oleh bias maskulinitas (patriarki kolonial). Istilah Anim yang berarti laki-laki sering kali menutupi keberadaan Anum yang merupakan perempuan, sehingga eksistensi perempuan kurang mendapat perhatian.

Di sini, Wensislaus dan Chao dengan hangat menghidupkan apa yang disebut Linda Tuhiwai Smith sebagai Decolonizing Methodologies. Mereka dengan penuh semangat mengangkat suara Anum, melakukan proses dekolonisasi taksonomi yang penuh makna. Anum bukan sekadar kategori gender, tetapi sebuah ontologi kehidupan yang mendalam—ewah-anum, yang berarti dia yang melahirkan dan melipatgandakan kehidupan. Sementara antropologi klasik hanya memandang laki-laki Marind sebagai pemburu atau pejuang, etnografi kontemporer ini dengan penuh kehangatan menelusuri ruang domestik dan sakral perempuan, menemukan bahwa kedaulatan pangan (sagu) sepenuhnya berada di tangan perempuan.

Menghancurkan hutan sagu adalah bentuk kekerasan epistemik yang merusak pusat kehidupan Marind yang penuh semangat.

Ekologi Politik dan Etnografi Multispesies

Mengulik kelaparan masyarakat Marind di hulu Bian memerlukan pendekatan yang hangat dan penuh empati, seperti yang diajarkan oleh Arturo Escobar. Di sana, kelaparan bukan sekadar masalah alam, melainkan “bencana yang diproduksi’ yang menggugah perhatian kita.

Melalui cara memahami yang mendalam dan menyentuh hati—seperti pendekatan etnografi multispesies yang dipelopori oleh Anna Tsing—kita dapat memahami bahwa pohon sagu bagi masyarakat Marind bukan hanya sekadar sumber makanan, melainkan seperti bagian dari keluarga mereka sendiri.

Relasi antara perempuan Marind dengan sago menunjukkan bahwa alam adalah subjek, bukan objek. Ketika hutan dikonversi menjadi monokultur sawit, yang hilang bukan hanya sumber karbohidrat, melainkan hancurnya struktur kekerabatan lintas spesies. Kelaparan yang dirasakan oleh Dek anem (masyarakat hulu) adalah gema kelaparan yang juga dirasakan oleh tanah, leluhur, dan dema mereka.

Ruang Ketiga: Transformasi Peneliti

Secara metodologis, perjalanan Sophie Chao dalam meneliti masyarakat Marind di hulu Bian itu, yang dengan baik dikisahkan dalam buku  Land of Famished Beings (2025) itu, memperlihatkan perjalanan dari seorang Kohi-pal (orang asing) menjadi Bulap anum adalah perwujudan dari “Third Space” (Ruang Ketiga) milik Homi Bhabha. Di ruang ini, batasan antara “peneliti” dan “yang diteliti” runtuh. Data tidak lagi dikumpulkan melalui ekstraksi informasi, melainkan melalui Yalut (doa dan kesaksian). Ini adalah bentuk solidaritas radikal di mana etnograf tidak hanya mencatat penderitaan, tetapi juga ikut memikul beban moral dari cerita-cerita yang diserahkan kepadanya.

Panggilan untuk Akademisi Pribumi

Catatan ini menjadi sangat bertenaga karena divalidasi oleh Wensislaus sebagai seorang Indigenous Scholar keturunan Muyu yang tumbuh di tanah Marind. Ini adalah bentuk writing back terhadap narasi besar yang sering kali meminggirkan perspektif lokal. Bagi Wensislaus Fatubun dan Sophie Chao, etnografi adalah alat perjuangan. Buku ini adalah pengingat keras bagi dunia: bahwa di balik hamparan hijau perkebunan di Tanah Papua, ada suara Anum yang sedang bersaksi tentang dunia yang dirampas, namun tetap teguh menjaga api kehidupan melalui rahim dan noken mereka.

Berikan Komentar
Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

OPINI | Noken dan Pinang: Metafora Resiliensi Perempuan Papua

7 Maret 2026 - 08:51 WIT

OPINI | Mimika: Antara Halusinasi RPJMD dan Dosa Ekologi Iwaka

6 Maret 2026 - 09:27 WIT

OPINI | Bahaya Sakralisasi Program Makan Bergizi Gratis

3 Maret 2026 - 22:15 WIT

OPINI | Satu Tahun Kepemimpinan JOEL: Refleksi Kritis di Antara Reformasi Birokrasi dan Realitas Sosial

24 Februari 2026 - 12:57 WIT

OPINI | Tubuh Ekonomi Perempuan: Bukan Tentang Perang Gender

13 Februari 2026 - 08:22 WIT

OPINI | Menanti Suara Kaka Tertua

12 Februari 2026 - 07:26 WIT

Trending di Opini