Oleh Laurens Minipko
(Timika, 7-3-2026)
Jika noken sering dilihat sebagai simbol budaya Papua, maka pinang adalah simbol kehidupan sehari-hari masyarakat. Keduanya memperlihatkan bagaimana perempuan Papua merajut resiliensi melalui kerja yang sederhana tetapi menentukan keberlangsungan keluarga.
Di Timika, noken dan pinang bukan sebatas barang dagangan. Keduanya adalah bagian dari strategi bertahan hidup perempuan Papua di tengah keterbatasan ekonomi dan perubahan sosial.
Merajut Kehidupan melalui Noken
Bagi Perempuan Kamoro, Noken bukan hanya kerajinan tangan. Ia adalah simbol kehidupan.
Seorang pengrajin noken bernama Mama Maria menggambarkan dengan sederhana bagaimana kerajinan ini menjadi sumber kekuatan bagi keluarganya. Ia merajut noken sendiri lalu berkeliling kota untuk menjualnya dari rumah ke rumah.
“Mama datang dari Koperapoka untuk jual noken di sini anak. Mama biasa naik ojek saja, tidak ada yang antar karena mama punya anak-anak sekolah di Tanah Jawa,” tuturnya.
Dari hasil rajutan itulah ia membantu membiayai pendidikan anak-anaknya. Noken yang dibuatnya memiliki berbagai ukuran-dari yang besar hingga kantong kecil untuk telpon selular-dan semuanya dijual untuk menopang ekonomi keluarga.
Bagi mama Maria, ketrampilan merajut bukan sebatas pekerjaan. Ia adalah anugerah yang harus dimanfaatkan.
“Hidup itu tentang perjuangan dan harapan. Untuk capai tujuann kita harus berjuang,” katanya.
Pernyataan sederhana ini menunjukkan bahwa resiliensi perempuan Papua tidak hanya berkaitan dengan bertahan hidup, tetapi juga dengan menjaga masa depan anak-anak.
Kreativitas Budaya Sebagai Ekonomi
Kisah serupa juga terlihat pada Mama Paustina Mote, pengrajin noken di Mimika yang telah berkarya sejak tahun 2002. Ia mampu membuat berbagai motif tanpa melihat contoh gambar.
“Semua motif kami bisa buat. Tidak lihat gambar, tidak lihat warna, hanya main piker saja,” ungkapnya (SP, 2025).
Bagi Mama Paustina, noken adalah bentuk kreativitas sekaligus sumber ekonomi keluarga. Ia memproduksi berbagai jenis kerajina, dari kantor kecil hingga noken tradisional dari kulit kayu yang bernilai tinggi.
Meski menghadapi berbagai kendala-mulai dari teknologi produksi hingga akses infrastruktur-ia tetap mempertahankan kerajinan tradisional tersebut.
“Meskipun banyak produk modern, saya akan terus mempertahankan produk asli Papua,” katanya.
Dalam konteks ini, noken memperlihatkan bagaimana resiliensi perempuan Papua juga berarti menjaga keberlanjutan budaya di tengah perubahan ekonomi.
Pinang sebagai Ekonomi Bertahan Hidup
Jika noken merepresentasikan ekonomi budaya, maka pinang menggambarkan ekonomi bertahan hidup yang berlangsung setiap hari.
Di Bundaran Timika Indah, seorang ibu muda bernama Mama Frederika Waeta menjalankan lapak pinang yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Untuk menghemat biaya transportasi, ia bahkan memilih berjaga dan tidur di lapaknya hamper sepanjang hari.
“Kalau kita pulang balik terus, uang ojek ini lima sampai sepuluh ribu ya lumayan juga, jadi terpaksa harus tidur di sini,” jelasnya (SSP, 2025).
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Ia harus membiayai pendidikan anak-anaknya sekaligus membantu adik-adiknya yang masih sekolah.
“Kita duduk dua puluh empat jam di sini untuk membayar sekolah,” katanya.
Kalimat itu memperlihatkan betapa pendidikan menjadi motivasi utama perjuangan perempua Papua dalam menjalankan usaha kecil mereka.
Resiliensi Sebagai Perjuangan Ibu
Bagi banyak mama Papua, kerja ekonomi bukan hanya soal mencari uang. Ia adalah bagian dari tanggung jawab moral sebagai ibu.
Seorang pedagang pinang lainnya menyampaikan keyakinan dengan tegas:
“Perempuan Papua itu hebat. Untuk anak-anak dia, perempuan Papua akan lakukan segala cara. Saya tidak akan duduk menyerah”(SSP, 2025)
Pernyataan ini mencerminkan semangat resiliensi yang lahir dari pengalaman hidup perempuan Papua. Mereka menghadapi berbagai tantangan-ketidakpastian ekonomi, keterbatasan akses bantuan, hingga kehidupan kota-namun tetap berjuang demi masa depan anak-anak.
Merajut, Menjual, dan Menjaga Harapan
Kisah para mama Papua di Timika memperlihatkan bahwa resiliensi perempuan tidak selalu muncul dalam bentuk besar dan dramatis. Ia sering hadir dalam aktivitas sehari-hari yang tampak sederhana: merajut noken, menjual pinang, berkebun, atau berjalan dari rumah ke rumah menawarkan dagangan. Namun aktivitas sederhana itulah kehidupan keluarga dapat terus berjalan.
Seperti halnya noken yang dirajut dari simpul-simpul kecil, resiliensi perempuan Papua juga dibangun dari kerja keras yang berlangsung setiap hari. Dari tangan para mama itulah ekonomi keluarga bertahan, budaya tetap hidup, dan harapan bagi generasi berikutnya terus dirawat.






