Site icon sasagupapua.com

OPINI | Pesta Babi, Pesta Ketakutan, dan Narasi Keamanan

Hengky Yeimo

Oleh :  Hengky Yeimo

Film dokumenter Pesta Babi menjadi perbincangan luas bukan semata karena isi filmnya, tetapi karena judulnya dianggap sensitif oleh sebagian aparat keamanan. Pertanyaannya sederhana: apakah kata “babi” dalam sebuah film dokumenter dapat mengancam keamanan negara? Ataukah justru ada ketakutan tertentu yang sedang dibangun melalui narasi keamanan?

Kalau seandainya kakak Dandhy dan kawan-kawan membuat film dokumenter lain dengan judul Pesta Kambing atau Pesta Sapi, apakah negara juga akan merasa terancam? Apakah aparat keamanan akan menganggap kambing dan sapi sebagai ancaman bagi kedaulatan Republik Indonesia? Di titik inilah masyarakat Papua dan seluruh rakyat Indonesia perlu berpikir secara jernih.

Babi di Papua bukan sekadar hewan. Dalam kehidupan masyarakat adat Papua, babi memiliki nilai sosial, budaya, ekonomi, bahkan spiritual. Babi hadir dalam pesta adat, pembayaran mas kawin, perdamaian konflik, dan hubungan kekeluargaan. Karena itu, ketika ada film berjudul Pesta Babi, sesungguhnya film itu sedang berbicara tentang realitas sosial orang Papua, bukan tentang ancaman keamanan negara.

Ironisnya, sebagian pihak justru memandang kata “babi” dari sudut agama semata. Akibatnya muncul kecurigaan bahwa film tersebut bisa memecah belah masyarakat. Padahal kenyataan di Papua menunjukkan hal yang berbeda. Banyak saudara Muslim, bahkan para haji, yang datang membeli babi dari masyarakat Papua untuk kebutuhan perdagangan. Mereka tidak memelihara babi untuk dikonsumsi, tetapi menjalankan hubungan ekonomi dengan masyarakat setempat. Dari situ tercipta relasi saling membutuhkan antara orang Papua yang mayoritas Kristen dan para pedagang Muslim.

Hubungan itu menunjukkan bahwa toleransi di Papua sesungguhnya hidup dalam praktik sehari-hari. Orang Papua menjual, pedagang Muslim membeli. Tidak ada masalah agama di situ. Tidak ada ancaman terhadap negara. Yang ada justru hubungan sosial dan ekonomi yang memperkuat kehidupan bersama.

Karena itu, menjadi aneh apabila sebuah film dokumenter tentang “pesta babi” dianggap mengganggu keamanan nasional. Negara yang kuat seharusnya tidak takut pada judul film, budaya lokal, atau kenyataan sosial masyarakatnya sendiri. Sebaliknya, negara perlu mendengar suara-suara dari daerah, termasuk dari Papua, melalui karya jurnalistik dan film dokumenter.

Film dokumenter pada dasarnya adalah medium untuk melihat kenyataan. Ia bisa mengungkap ketidakadilan, kemiskinan, konflik, budaya, atau hubungan antarmanusia. Jika setiap kritik atau realitas sosial selalu dibungkus dengan alasan keamanan, maka ruang demokrasi akan semakin sempit.

Pertanyaan pentingnya bukan apakah *Pesta Babi* mengancam Indonesia. Pertanyaan sebenarnya adalah: mengapa negara begitu takut pada cerita rakyatnya sendiri?

Papua selama ini sering dilihat hanya dari perspektif konflik dan keamanan. Padahal Papua juga penuh dengan kisah toleransi, perdagangan, persaudaraan, dan budaya yang hidup berdampingan. Ketika masyarakat Muslim membeli babi dari orang Papua Kristen, itu bukan ancaman negara. Itu adalah bukti bahwa perbedaan bisa menjadi ruang kerja sama.

Maka, jika ada yang membangun narasi bahwa film Pesta Babi mengganggu keamanan Indonesia, publik patut bertanya: siapa sebenarnya yang sedang menciptakan ketakutan? Filmnya, atau tafsir berlebihan terhadap film itu?

Indonesia tidak akan runtuh karena sebuah judul dokumenter. Negara justru menjadi kuat ketika mampu menerima keberagaman budaya, suara kritis, dan kenyataan sosial masyarakatnya. Papua tidak membutuhkan stigma baru. Papua membutuhkan ruang untuk didengar sebagai manusia dan sebagai bagian sah dari Indonesia.

Pada akhirnya, Pesta Babi bukan sekadar tentang babi. Film itu adalah cermin tentang bagaimana negara melihat Papua, dan bagaimana Papua ingin dilihat dengan jujur oleh Indonesia.

Seperti dijelaskan juga oleh Sutradara Film Pesta Babi Cypri Dale bahwa Video ini menggambarkan bahwa film dokumenter Pesta Babi bukan sekadar berbicara tentang tradisi atau simbol budaya Papua, tetapi lebih dalam membahas situasi sosial, politik, dan kemanusiaan yang terjadi di Tanah Papua.

Melalui penjelasan sutradara dan potongan visual yang ditampilkan, video menyoroti bagaimana masyarakat Papua hidup di tengah situasi yang dipenuhi ketegangan, pendekatan keamanan, serta berbagai persoalan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat adat.

Dalam video tersebut juga terlihat adanya kritik terhadap cara negara memandang Papua, terutama melalui pendekatan militer dan keamanan yang dianggap terlalu dominan dibanding pendekatan dialog, kesejahteraan, dan kemanusiaan.

Angka-angka tentang keberadaan aparat keamanan di Papua menjadi simbol bahwa konflik yang berlangsung bukan hanya soal keamanan negara, tetapi juga menyangkut rasa aman masyarakat sipil.

Kesimpulannya, video ini ingin menyampaikan bahwa Papua membutuhkan ruang dialog, penghormatan terhadap budaya lokal, dan penyelesaian konflik secara manusiawi. Film Pesta Babi diposisikan sebagai media untuk membuka percakapan publik tentang realitas Papua yang selama ini jarang dilihat secara utuh.

Pesan utama yang muncul adalah pentingnya memahami Papua bukan hanya dari sudut pandang politik dan keamanan, tetapi juga dari sisi kemanusiaan, identitas budaya, dan hak hidup masyarakatnya.

(Penulis adalah Ketua Komunitas Sastra Papua (Ko’Sapa)

Exit mobile version