Site icon sasagupapua.com

OPINI | Tangan Kanan Mama Aliana

Mama Aliana Pogau dengan luka di lengan kirinya. (Foto: Ist)

Oleh: Laurens Minipko (Timika, 22-06-2026)

YULIUS pulang dari RSUD Nabire dengan wajah yang berbeda. Ia tidak langsung bercerita. Duduk sebentar. Diam. Lalu pelan-pelan kata demi kata mengalir – dan semakin ia bercerita, semakin saya merasa seolah ikut berdiri di ruangan itu bersamanya.

Mama Aliana terbaring lemah. Tangan kanannya dibalut perban. Karena luka serius itu, ia hanya bisa miring ke kiri – seolah tubuhnya pun tahu bahwa sisi kanan hidupnya telah berubah selamanya.

Matanya terpejam, tapi tubuhnya gelisah. Bahkan dalam diam, ia tidak bisa menemukan kedamaian yang dirampas dari dirinya pada Kamis, 18 Juni 2026, di Intan Jaya.

Ruangan itu hanya berisi Mama Aliana. Tidak ada pasien lain. Seolah duka sebesar ini memang butuh ruangan sendiri.

Di sekelilingnya, keluarga berkerumun dalam diam. Ada yang duduk di lantai. Ada yang berdiri mematung. Sang anak menemaninya – wajah serius, dahi mengerut, menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan. Ia menjelaskan apa yang terjadi pada ibunya dengan suara pelan tapi tegas. Bukan tangis. Sesuatu yang lebih keras dari tangis.

MAMA Aliana bukan kombatan.

Ia pergi mencuci ubi – untuk dibawa pulang, dimasak, dihidangkan bagi keluarganya. Aktivitas paling sederhana yang bisa kita bayangkan. Paling tidak berbahaya. Tidak mengancam siapa pun.

Dan di sanalah bom itu menemukannya.

Tangan kanan yang kini dibalut perban itu adalah tangan yang sama yang selama ini menanam ubi, memanen, memasak, memberi makan anak-anaknya. Tangan yang tidak pernah memegang senjata dan bom. Dalam tradisi pemikiran ekofeminisme yang dikembangkan Vandana Shiva, perempuan dalam masyarakat agraris adalah penjaga siklus kehidupan – jembatan antara tanah dan kehidupan itu sendiri.

Ketika bom melukai tangan itu, ia tidak hanya melukai satu perempuan. Ia memutus rantai kehidupan.

Filsuf Frantz Fanon menulis bahwa kekerasan kolonial tidak hanya merebut tanah – ia merebut tubuh, identitas, dan hak untuk mendefinisikan diri sendiri.

Perempuan menanggung beban ganda: sebagai subjek kolonial sekaligus perempuan dalam sistem yang menempatkan mereka paling bawah.

Mama Aliana menanggung beban itu secara harfiah – dalam satu tubuh, satu ruang perawatan, di Nabire.

Papua adalah wilayah di mana pertanyaan tentang kedaulatan belum pernah benar-benar terjawab. Konflik bersenjata yang berlangsung puluhan tahun adalah perpanjangan dari pertanyaan itu. Dan dalam setiap konflik yang tidak selesai, selalu ada tubuh-tubuh yang dipaksa menjadi jawabannya – tanpa pernah dimintai persetujuan.

Tubuh Mama Aliana adalah salah satunya.

GAYATRI Charkravorty Spivak pernah bertanya dalam sebuah esai yang kemudian menjadi klasik: “Can the Subaltern Speak?” – Bisakah mereka yang paling terpinggirkan benar-benar bersuara?

Mama Aliana tidak bicara saat Yulius di sana. Ia terbaring, gelisah, dalam diam.

Tapi diam Mama Aliana bukan pilihan. Ia adalah produk dari sistem yang tidak pernah memberi perempuan Papua ruang untuk berbicara – dalam perundingan perdamaian, dalam pengambilan keputusan militer, dalam pembentukan kebijakan keamanan. Mereka yang paling terdampak adalah mereka yang paling tidak didengar.

Ada dua jenis diam dalam cerita ini. Diam Mama Aliana adalah diam yang dipaksakan oleh rasa sakit dan trauma. Diam para elite – diam institusi, diam mekanisme akuntabilitas, diam diskursus publik nasional – adalah diam yang berbeda: aktif, politis, dan pengecut.

Yang pertama adalah luka. Yang kedua adalah kejahatan.

HINGGA hari ini tidak ada investigasi independen. Tidak ada pertanggungjawaban yang jelas. Versi resmi masih simpang siur.

Dan justru di situlah akar masalah yang sesungguhnya. Di Papua, bom bisa melukai seorang ibu yang sedang mencuci ubi – dan tidak ada yang diwajibkan menjelaskan mengapa.

Ketidakjelasan itu bukan kekosongan, Ketidakjelasan itu adalah kebijakan.

Filsuf Achille Mbembe menyebut ini necropolitics – kekuasaan untuk menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang boleh dibiarkan terluka, dilumpuhkan, atau mati. Ketika kekerasan menghantam tubuh Mama Aliana yang sedang mencuci ubi, negara tidak lagi hadir sebagai pelindung. Ia hadir sebagai sesuatu yang lain.

SAYA hanya meminta satu hal.

Bukan pidato. Bukan symposium. Bukan pernyataan keprihatinan yang dibacakan di depan kamera.

Hanya satu: investigasi yang transparan dan independen – agar Mama Aliana berhak tahu apa yang sesungguhnya terjadi padanya. Agar kita semua berhak tahu apakah negara ini masih bisa membedakan antara musuh dan warganya sendiri.

Selama meja perundingan damai Papua hanya diisi oleh laki-laki bersenjata dan elite politik dari jauh, selama suara perempuan Papua tidak hadir dalam keputusan tentang nasib tanah mereka sendiri – maka Mama Aliana berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.

YULIUS pulang dengan wajah berbeda.

Saya menulis ini dengan hati yang juga berbeda.

Tangan Mama Aliana yang terbungkus perban putih itu adalah dokumen sejarah yang lebih jujur dari banyak laporan resmi. Ia mendokumentasikan pertemuan antara konflik yang belum selesai, sistem yang menormalisasi pengorbanan perempuan, dan kekuasaan yang kehilangan kompasnya.

Mama Aliana tidak bicara saat Yulius di sana.

Tapi perban putih di tangannya – sudah bercerita lebih dari yang sanggup kita dengar.(*)

Exit mobile version