Site icon sasagupapua.com

OPINI | Thontji Wolas Krenak: Papua adalah Tambang Pengetahuan

Momen penganugerahan noken pers dalam kegiatan Festival Media se-Tanah Papua di Nabire, Thontji Wolas menjadi salah satu penerima penghargaan bergengsi itu. (Foto: Tim Dokumentasi Fesmed ke-1 se-Tanah Papua)

Oleh Laurens Minipko

Lapangan itu penuh dengan kursi, stand, meja, panggung, pamphlet, foto, dan spanduk. Anak-anak muda duduk apik. Yang lain berdiri. Wartawan senior duduk menyebar. Tidak ada jarak panggung yang mencolok. Seolah semua orang di situ setara – sama-sama pendengar.

Di depan, Thontji Wolas Krenak tidak membuka dengan teori. Ia membuka dengan cerita. Tentang sebuah tulisan mahasisa pada era 1980-an. Judulnya keras: “Putri Irian Dilahap.” Ditulis saat menulis tentang Papua berarti siap dicurigai, disalahpahami, bahkan disingkirkan.

Tentang titik awal itu, saya langsung paham: ini bukan kisah sukses yang instan. Ini kisah ketekunan yang pelan, panjang, dan sering sunyi.

Nama Thontji kemudian dikenal sebagai wartawan Papua pertama yang meliput di Istana Kepersidenan Republik Indonesia. Tapi menariknya, istana tidak ia tempatkan sebagai puncak. Ia menyebutnya hanya sebagai salah satu ruang. Bukan tujuan akhir.

Justru ketika ia kembali berbicara di hadapan ratusan wartawan dan pelajar Papua, di Festival Media Perdana se-Tanah Papua (Nabire, 13-15 Januari 2026), ceritanya menjadi lengkap. Karena di sinilah kita melihat konsistentsinya: berangkat dari Papua, pergi jauh, lalu kembali membawa pengalaman – bukan meninggalkan akar.

Tentang jurnalisme, Thontji menyebutnya sebagai mandat rakyat. Kalimatnya sederhana. Tetapi berat. “Wartawan itu wakil rakyat,” katanya, hanya saja tidak dipilih lewat pemilu.”

Saya mencatat kalimat itu lama. Di Papua, wartawan memang sering berdiri sendirian. Di antara kepentingan negara, modal, dan ketakutan masyarakat. Mandat itu tidak datang dari surat keputusan, tetapi dari kepercayaan orang kecil yang berharap suaranya tidak hilang di jalan.

Ia menekankan jurnalisme humanis yaitu jurnalisme yang mengutamakan suara dari pinggiran. Bagi orang Papua, ini bukan gaya menulis. Ini sikap hidup. Karena menulis tanpa empati di tanah ini hanya akan memperpanjang luka.

Tentang menulis, Thontji tidak memujinya sebagai romantisme. Ia menyebutnya sebagai warisan. Apa yang ditulis hari ini akan menjadi catatan sejarah besok. Dan sejarah katanya, tidak pernah ramah kepada mereka yang malas mencatat.

Saya melihat banyak pelajar mengangguk. Barangkali mereka sedang membayangkan masa depan mereka sendiri – di antara keinginan menulis dan realitas hidup yang keras.

Lalu ia menutup dengan satu kalimat yang sunyi tapi menghantam: Papua bukan hanya tambang emas. Papua adalah tambang pengetahuan.

Di situlah festival ini berhenti menjadi acara. Ia berubah menjadi pengingat. Bahwa Papau terlalu sering dibaca dari bawah tanah – apa yang bisa diambil – padahal yang paling kaya justru di atas tanah: manusia, bahasa, ingatan, dan kebudayaan.

Tentang Thontji Wolas Krenak, saya melihat satu benang merah yang jarang putus: konsistensi. Dari tulisan mahasiswa, ruang redaksi, hingga istana negara – ia tidak mengubah suaranya. Ia hanya memperluas jangkauannya.

Dan tentang jurnalisme Papua hari ini, mungkin inilah pelajaran penting: jalan itu tidak pernah instan. Tapi jika dijalani dengan jujur, ia akan menemukan tempatnya sendiri.

Pelan. Sunyi. Tapi bertahan. Seperti tulisan yang baik. Seperti jurnalisme yang berani.

Berikan Komentar
Exit mobile version