Oleh Laurens Minipko
Ditulis di Timika, 12 Februari 2026
Di Pasar Baru, retribusi dan sewa lapak diperdebatkan. Di Kapiraya, tapal batas menjadi bara. Tetapi feminisme menjajarkan kita satu hal mendasar: kita harus selalu bertanya: siapa yang paling terdampak oleh struktur ini?
Tubuh Perempuan dan Kerja
Silvia Federici (2004) menunjukkan bahwa kapitalisme modern berdiri di atas kerja produktif perempuan yang tidak diakui – kerja domestik, kerja perawatan, kerja yang menjaga keberlanjutan hidup. Jika kita pindahkan kerangka ini ke Mimika: Perempuan di pasar bukan sebatas pedagang kecil. Mereka adalah penghubung antara ekonomi formal dan keberlangsungan rumah tangga.
Retribusi pasar tidak berhenti di pungutan. Ia menyentuh kerja produktif: makan anak, biaya sekolah, stabilitas keluarga. Ketika struktur pasar tidak adil, yang terguncang bukan hanya pendapatan. Yang terguncang adalah sistem perawatan sosial. Di sinilah tubuh ekonomi perempuan menjadi arena tempat kebijakan diuji.
Tubuh sebagai Arena Politik
Judith Butler mengingatkan bahwa tubuh bukan entitas privat semata. Tubuh selalu berada dalam relasi kuasa dan pengakuan sosial. Di Mimika, tubuh perempuan berdiri di pasar di bawah panas seng, tubuh perempuan berjalan dalam situasi konflik sosial, tubuh perempuan menanggung kecemasan ketika ruang menjadi tidak aman. Konflik Kapiraya bukan hanya konflik administratif. Ia menciptakan kondisi di mana tubuh-tubuh tertentu menjadi lebih rentan.
Feminsme membaca kerentanan ini bukan sebagai kelemahan, tetapi sebagai indikator ketidakadilan struktural.
Siapa yang Bisa Bicara?
Spivak (1988) bertanya apakah kelompok yang termarginalkan benar-benar bisa berbicara dalam sistem yang didominasi struktur kuasa. Pertanyaannya relevan di Mimika: Apakah pedagang perempuan benar-benar didengar dalam penataan pasar baru? Apakah suara perempuan di Kapiraya hadir dalam proses mediasi?
Di sinilah jurnalis perempuan memainkan peran penting. Mereka bukan saja pelapor atau pemberita. Mereka bisa menjadi medium artikulasi suara subaltern. Namun feminisme juga mengingatkan bahwa representasi harus hati-hati. Jurnalis perempuan tidak berbicara menggantikan, tetapi membuka ruang agar suara itu terdengar langsung.
Feminisme dan Jurnalisme sebagai Praktik Etis
Feminisme lebih dari ideologi perlawanan. Ia adalah etika membaca realitas. Dalam konteks jurnalisme perempuan di Mimika, etika feminisme berarti: tidak mereduksi perempuan menjadi objek penderita, menghubungkan kebijakan publik dengan dampak konkret pada kehidupan perempuan, membacara konflik tidak hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai struktur ketimpangan, dan menghindari narasi yang menghapus pengalaman perempuan dari berita.
Jika Komisi II turun ke pasar, jurnalis perempuan bisa bertanya: apakah ada analisis dampak gender atas kebijakan retribusi? Jika konflik terjadi di Kapiraya, jurnalis perempuan bisa menggali: Bagaimana perempuan menjaga stabilitas sosial ketika laki-laki terlibat benturan? Pertanyaan-pertanyaan ini lahir dari perspektif perempuan.
Mengapa ini Penting untuk Mimika?
Mimika adalah wilayah dengan ketimpangan ekonomi yang nyata: ada tambang raksasa berdampingan dengan pedagang kecil. Dalam ruang seperti ini, tubuh perempuan sering menjadi penyangga ketimpangan.
Tanpa perspektif feminis, kebijakan pasar akan terus dianggap netral. Tanpa perspektif feminis, konflik akan terus dianggap spontan. Padahal struktur sosial jarang netral. Ia selalu memihak – kadang tanpa disadari.
Jurnalis perempuan yang membaca realitas dengan kacamata feminisme dapat mengubah arah diskusi publik. Mereka menggeser fokus dari prosedur ke keadilan.
Feminisme Sebagai Cahaya
Feminisme dalam konteks Mimika bukan tentang perang gender. Ia tentang keadilan struktural. Ia mengingatkan bahwa tubuh ekonomi perempuan adalah fondasi kota ini. Ia mengingatkan bahwa suara perempuan bukan pelengkap demokrasi. Ia inti.
Ketika jurnalis perempuan menulis dengan kesadaran feminis, mereka tidak sebatas memberitakan pasar dan konflik. Mereka sedang menjaga agar Mimika tidak kehilangan nurani sosialnya.