SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Sebuah ruko berlantai dua yang bertempat di Jalan Pipit, Poros Jayaraya, Girimulyo, Nabire, Papua Tengah, mendadak dipenuhi suasana artistik dan historis. Bangunan tersebut menjadi ruang pamer bagi gelaran Wallacea Biennale yang mengusung tema besar gempa dan diberi judul pameran “Loyang Tanah Goyang”.
Wallacea Biennale merupakan proyek serta forum seni dan kebudayaan dua tahunan (bienial) yang diselenggarakan di berbagai kota di wilayah Garis Wallacea, di mana Nabire menjadi salah satu dari tujuh kota penyelenggaranya.
Pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga 10 Oktober 2026 ini menampilkan karya-karya seni rupa dari tujuh seniman lintas daerah, yakni Belandina Yeimo (Nabire), Febriany Ashari (Jayapura), Fransiskus Xaverius Yogi (Nabire), Julio Christopher Bunnu (Jayapura), Jhon Anes Ukago (Nabire), Qalmi Nurqalbi (Jayapura), dan Wiwit (Nabire). Deretan karya yang dipajang di ruko dua lantai tersebut menyimpan siratan cerita dan memori kolektif masyarakat saat tragedi Gempa Nabire mengguncang wilayah itu pada tahun 2004 silam.
Merekam Bayang Gempa dalam Tenda Biru
Ketika pengunjung melangkahkan kaki memasuki pintu depan di lantai satu, pemandangan pertama yang menyambut adalah sebuah tenda biru berukuran tiga kali dua meter. Di dalam tenda tersebut, tergantung gambar-gambar struktur bangunan, kayu, lemari, hingga pelita, lengkap dengan penjelasan tulisan yang menggambarkan alasan seniman menghadirkan karya tersebut sebagai cerminan suasana saat gempa terjadi sekaligus pelajaran untuk masa kini.
Karya seni ini merupakan hasil cipta Qalmi Nurqalbi. Berdasarkan penjelasan Catatan Kuratorial Wallacea Biennale Nabire oleh Fauzan Al Ayyuby, karya Qalmi tersebut diberi judul “Benda yang Mengingat”. Qalmi meringkas benda-benda dalam ingatan para narasumber ke dalam bentuk ilustrasi skala dan proporsi. Keterampilan visual ini berawal dari keadaannya yang ingin merekam satu momen secara cepat. Meski demikian, ada kecenderungan untuk melepaskan “pemahaman” dari tekstur “bahasa”, seakan jika hanya mengandalkan bahasa, manusia akan sangat terbatas.
Sebab itulah Qalmi menggunakan pelat sebagai garansi terhadap citra benda guna membawa pengunjung masuk ke dalam “kehadiran yang mempengaruhi rekat emosi” (affecting presence) lewat karyanya.
Tak bisa dipungkiri, sebagai benda fisik, objek-objek tersebut dibuat melalui proses yang sama dengan pembuatan benda-benda lain, menggunakan bahan penyusun yang sama, dan dapat diperjualbelikan.
Dalam hal-hal tersebut, benda-benda itu adalah objek. Namun di sisi lain, benda-benda tersebut juga merupakan subjek yang diperlakukan sebagaimana subjek manusia diperlakukan.
Karya Qalmi mengalami ketegangan di antara kedua kutub tersebut: antara berada sebagai subjek dan sebagai objek. Dalam energi dari interaksi timbal-balik itulah letak keberlanjutan atau energi mendasar dari karyanya.
Objek-objek seperti pelita, gelas plastik, kartu remi, dan papan kayu diilustrasikan di dalam tenda tiga kali dua meter tersebut bukan tanpa alasan.
Benda-benda ini memang sangat kerap ditemukan di dalam tenda pengungsian ketika gempa melanda. Secara garis besar, pemilihan benda-benda tersebut diisyaratkan oleh kemungkinan perubahan material apa yang terjadi sebelum gempa, pada saat guncangan, dan sesudah gempa berlalu.
Qalmi merasa benda-benda tersebut menjangkari ingatan seseorang terhadap suatu peristiwa traumatis.
Penyembuh Luka dari Pagar Pekarangan
Di sisi lain ruang lantai satu, terdapat sebuah meja bulat yang dilapisi kain hitam. Di atas meja yang tidak kosong itu, terpajang sketsa bayi di dalam janin dengan rambut bayi yang digambarkan menggunakan daun kelor.
Di balik meja tersebut, membentang gambar pada kain putih yang menyerupai struktur pagar yang ditumbuhi oleh tanaman kelor. Karya ini milik Febriany Ashari (Febriany Abas), seorang pesema tisane. Di sudut ruangan, terdapat penjelasan tertulis dari Febriany yang menerangkan bahwa karyanya berjudul “Dekap Dalam Retak”, sebuah Instalasi Kelor dan Kunyit di atas Kain Hitam serta Hamparan Tisane Kain Putih berukuran 40×30 cm.
Dalam catatannya, Febriany menjelaskan bahwa kelor adalah tanaman pagar yang tumbuh liar dan sangat subur di kawasan tropis Nabire. Sebagian besar warga selama ini hanya mengenalnya sebagai bahan sayuran, padahal daun kelor sangat kaya akan nutrisi dan antioksidan yang bermanfaat untuk daya tahan tubuh, menenangkan pikiran, mengontrol kadar gula darah, mendukung kesehatan jantung dan hati, meredakan peradangan, mencegah anemia, meningkatkan energi, hingga melancarkan produksi ASI bagi ibu menyusui.
Dalam karyanya ini, Febriany menempatkan kelor sebagai alternatif utama saat bencana terjadi. Daun kelor kering diseduh sebagai teh herbal (tisane) untuk merilekskan tubuh serta menenangkan rasa takut, trauma, dan tremor akibat guncangan gempa. Apalagi, kelor sangat mudah ditemukan di seluruh penjuru Nabire.
Berdasarkan kesaksian Mama Ida, saat gempa 2004 silam, kelor tidak hanya dimanfaatkan sebagai sayur tetapi juga dijadikan obat tetes mata alami bagi penderita katarak. Kelor bukan sekadar tanaman sayur, melainkan akses penting bagi penyembuhan mental, trauma, dan fisik warga.
Selain kelor, Febriany juga menghadirkan bagian karya berjudul “Tisane untuk Nanti” yang memanfaatkan bahan ramuan seperti chamomile, lavender, globe amaranth, peppermint, osmanthus, orange lily, dan daun stevia.
Bunga-bunga penyembuh ini tidak tumbuh di Nabire saat situasi darurat bencana terjadi. Bahan-bahan tersebut baru bisa dikonsumsi setelah infrastruktur penting seperti dermaga, bandara, dan jembatan dapat diakses kembali sehingga dapat dipesan dari kota lain.
Dalam instalasinya, ada gambar di kain putih yakni bunga-bunga sebagai simbol harapan sembari menunggu ketersediaan akses logistik kembali stabil, yang pada waktunya nanti akan mempercantik ruang hidup sekaligus menyembuhkan trauma warga.
Adu Tarik Menarik dengan Sang Waktu
Melangkah menuju lantai dua, pengunjung yang menaiki anak tangga disuguhkan sebuah karya instalasi berukuran 2×3 meter milik Fransiskus Xaverius Yogi yang diberi judul “Lautan Waktu”.
Instalasi ini memanfaatkan media kain putih, tali tambang, serta sketsa visual, disamping deretan pertanyaan penuntun yang ditempatkan di sepanjang dinding tangga. Karya instalasi karya Fransiskus Yogi ini menampilkan kain putih yang terbagi menjadi dua panel vertikal menyerupai tirai.
Pada permukaan tirai tersebut, terdapat gambar ilustrasi garis hitam (line art) yang memperlihatkan dua figur manusia bersiluet sederhana yang sedang melakukan aksi tarik tambang.
Keunikan visual dari karya ini terletak pada bagian kepala kedua figur; figur di sebelah kiri memiliki kepala berbentuk bangunan rumah, sedangkan figur di sebelah kanan memiliki kepala berbentuk kapal laut.

Karya Fransiskus Xaverius Yogi yang diberi judul “Lautan Waktu”. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Di awal tangga saat pengunjung mulai naik, terdapat beberapa pertanyaan dan jawaban yang dihadirkan untuk menguatkan perspektif manusia tentang waktu, tentang bagaimana waktu kadang dirasakan melambat, kadang terasa normal saja hingga membuat manusia lebih menerima keadaan, dan kadang bergerak terlalu cepat seperti kapal yang sudah mencapai tujuan sebelum disadari.
Tepat di tengah celah antara kedua tirai kain, dipasang sebuah jam dinding analog bermotif kayu yang berfungsi sebagai poros sentral visual. Elemen interaktif tiga dimensi diperkuat oleh penggunaan tali tambang asli bertekstur kasar yang membentang secara fisik dari posisi tangan figur berkepala rumah, melewati bagian bawah jam dinding, hingga ditarik oleh tangan figur berkepala kapal di sisi kanan.
Melalui visualisasi ini dan latar suara aktivitas manusia di dalam kapal, karya ini menggambarkan dinamika orang-orang yang mengalami perubahan-perubahan persepsi waktu di dalam pikiran mereka saat berada di atas kapal yang mengarungi lautan.
Noken dan Pekarangan Rumah Penyelamat Jiwa
Di lantai dua sisi kanan, terpajang dua lukisan karya Belandina Yeimo. Lukisan pertama dinamai Belandina “Yang Tersisa, Menopang Kehidupan”.
Menurut penjelasan tertulis dari sang seniman, karya ini berbicara tentang ketahanan kehidupan melalui sesuatu yang sederhana: apa yang masih tersedia di sekitar rumah ketika bencana datang memutus berbagai akses kehidupan publik. Figur ibu dan anak menjadi pusat cerita dalam lukisannya.
Ibu merepresentasikan sosok yang terus berusaha memenuhi kebutuhan keluarga tanpa kenal lelah, sementara anak menjadi gambaran generasi penerus yang harus terus dihidupi, dirawat, dan dilindungi dari bahaya.
Dalam lukisan tersebut, noken yang berisi hasil kebun menjadi simbol dari bahan pangan yang masih dapat diperoleh secara mandiri dari pekarangan rumah. Ketika gempa melanda dan akses transportasi, pasar, maupun ruang kehidupan lainnya terganggu total, hasil kebun di pekarangan menjadi salah satu sumber utama yang membantu keluarga bertahan hidup. Tanaman yang tetap tumbuh subur di tengah kehancuran lingkungan menjadi simbol harapan.
Kehadiran tanaman tersebut, yang dipadukan dengan paparan cahaya kuning dalam karya, tidak menggambarkan bahwa keadaan telah kembali normal sepenuhnya, melainkan menunjukkan bahwa kehidupan masih memiliki kemungkinan dan daya untuk terus berjalan.

Belandina Yeimo (kaca mata) saat menjelaskan mengenai karya lukisannya. (Foto : Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Gagasan ini berangkat dari konsep Owaadaa dalam kehidupan masyarakat Mee sebuah kearifan lokal yang memaknai kebun di sekitar rumah bukan sekadar lahan bercocok tanam, melainkan sebagai ruang hidup, sumber pengetahuan, dan kebiasaan memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungan terdekat.
Karya ini juga berangkat dari perhatian Belandina terhadap kehidupan masyarakat Nabire dalam konteks kerawanan bencana serta keprihatinan atas kebiasaan bercocok tanam di sekitar rumah yang kini mulai berkurang.
Melalui karyanya, Belandina ingin mengajak masyarakat melihat kembali pekarangan sebagai ruang yang penting untuk dirawat dan dimanfaatkan. Sebab ketika suatu hari bencana kembali datang dan berbagai akses luar terputus, mungkin bukan sesuatu yang besar yang pertama-tama menyelamatkan manusia, melainkan sesuatu yang selama ini ditanam, dirawat, dan dipertahankan di pekarangan sekitar rumah.
Masih dari karya Belandina Yeimo, satu lukisan lainnya diberi judul “Serumpun Pertahanan”. Melalui lukisan ini, Belandina melihat bentuk ketahanan manusia yang lahir dari pilihan-pilihan kecil ketika berada dalam situasi yang sangat genting.
Serumpun rumput yang digambarkan dalam lukisan menjadi simbol pegangan fisik dan emosional sebuah objek yang sangat sederhana dan sering kali diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dapat memberi rasa aman dan daya bertahan ketika tanah di bawah pijakan kaki mulai berguncang hebat.
Bagi Belandina, “Serumpun Pertahanan” berbicara secara mendalam tentang kerentanan fisik manusia, munculnya naluri dasar untuk bertahan hidup, serta harapan yang dapat ditemukan kembali dari hal-hal paling dekat di sekitar kita.
Memori Menara dan Bandara yang Melumpuh
Tak jauh dari karya Julio, terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan kondisi Bandara Udara Nabire karya Wiwit yang diberi judul “Tower yang Miring ke Kanan”. Wiwit merekam keadaan bandara pada saat gempa terjadi melalui imajinasi serta cerita dari teman kantornya. Kala itu, menara pengawas (tower) bandara mengalami retak yang lumayan parah di bagian struktur, sehingga posisi menara terlihat agak sedikit miring di bagian kanan atas.
Keadaan bangunan kantor dan fasilitas terminal di bandara lama mengalami kerusakan fisik yang sangat parah, dengan struktur yang retak-retak hingga kaca-kaca bangunan yang pecah berhamburan.
Akibat guncangan dahsyat tersebut, permukaan landasan pacu (runway) mengalami retak-retak hebat dan amblas di beberapa titik. Kendaraan di area Bandara Nabire, terutama pesawat udara dan kendaraan operasional darat, memang tidak dilaporkan mengalami kehancuran fisik akibat benturan, namun seluruh operasional penerbangan lumpuh total akibat kerusakan parah pada infrastruktur pendukungnya.
Asap Kehangatan dalam Tradisi Suku Mee
Di dekat lukisan bandara karya Wiwit, terdapat karya milik Jhon Anes Ukago yang diberi nama “Meetawa”, sebuah karya instalasi yang memanfaatkan bingkai rotan dan daun pandan hutan untuk membalut deretan foto. Di sudut instalasi, terdapat tulisan kecil yang menjelaskan makna mendalam dari karya ini.
Secara harafiah, meetawa terdiri dari dua gabungan kata, yaitu mee yang berarti manusia dan tawa yang berarti rokok, sehingga disebut meetawa.
Rokok tradisional ini dibuat dari dua bahan utama: pertama adalah kobouye atau papir pembungkus tembakau, dan yang kedua adalah tawa atau tembakau itu sendiri. Meskipun mengolaborasikan dua jenis tumbuhan yang berbeda, suku Mee mengenalnya dalam satu kesatuan sebutan, yaitu meetawa.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat suku Mee, meetawa memiliki multi fungsi sosial yang sangat erat, baik saat bertemu dengan suku lain maupun dalam hubungan antarsesama anggota suku.
Ketika berhadapan dengan suku lain, meetawa dijadikan sebagai alat interaksi sosial: saling memberi atau mengisap rokok bersama guna mempererat rasa kebersamaan sambil melakukan aktivitas lain, seperti saat barter hewan buruan.

Seorang pengunjung saat melihat karya Jhon Anes Ukago yang diberi nama “Meetawa”. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Sementara itu, di dalam internal klan suku bangsa Mee sendiri, mereka menggunakan meetawa sebagai bentuk penghormatan untuk menyambut tamu yang berkunjung ke rumah agar keakraban tetap terjaga, media komunikasi pertukaran kabar, hingga menjadi sumber pendapatan ekonomi keluarga.
Dalam karya instalasi ini, Jhon Anes Ukago berupaya memperlihatkan seluruh proses bagaimana meetawa (kobouye dan tawa) dibudidayakan dari tanah, dipetik, diisap bersama, hingga diolah menjadi nilai ekonomi (cuan) bagi keberlangsungan hidup sebagian warga di tengah gempuran peredaran rokok modern saat ini.
Jejak Logistik dan Sampah Kemasan yang Melayang
Di antara karya Belandina Yeimo, Wiwit, dan Jhon Anes Ukago, terdapat sebuah karya menarik milik Julio Christopher Bunnu yang tampak digantung di udara. Karya instalasi ini diberi judul “Yang Bergerak, Yang Tertinggal”, sebuah Instalasi Panel Plastik & Kolase Kemasan FMCG yang dihubungkan dengan Tali Nilon berukuran 80 cm x 80 cm dan 100 cm x 80 cm.
Menurut penjelasa tertulisanya, karya ini menyoroti pergerakan sebuah komoditas yang bergerak ribuan kilometer dari Jawa menuju pesisir Nabire dengan menumpangi kapal-kapal Pelni. Barang-barang ini menopang rantai pangan warga, melintasi transit darurat tongkang pasca-Gempa 2004, hingga akhirnya menjelma dalam ingatan kuliner yang dikenal sebagai “Menu Gempa”. Namun, ketika barang habis dikonsumsi, tidak ada kapal balik yang membawa pulang sisa kemasannya.
Dua pasang panel plastik ini dirangkai membentuk konstruksi tiga dimensi berskala volume peti kemas (intermodal container) yang melayang di udara.

Seorang pengunjung saat melihat karya menarik milik Julio Christopher Bunnu yang tampak digantung di udara. Karya instalasi ini diberi judul “Yang Bergerak, Yang Tertinggal”. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Melalui kolase kemasan produk di dalam cetakan huruf stencil lokal, karya ini mempertanyakan hubungan antara pergerakan logistik maritim, kerentanan wilayah di zona patahan, serta akumulasi sisa material yang tertinggal di tanah Papua. Sebagaimana pesan yang tersirat dalam karyanya: “Sebuah barang bergerak karena ada kapal. Kapal bersandar karena ada pelabuhan. Barang dikonsumsi dan meninggalkan sisa. Dan kemasan menjadi sisa yang tak pernah pulang.”
Menghubungkan Ulang Ingatan dan Cara Pandang Kota
Di balik megahnya deretan instalasi dan lukisan yang dipamerkan, terdapat gagasan kuratorial yang mendalam mengenai bagaimana seni rupa digunakan sebagai media untuk menghubungkan kembali memori kota Nabire dengan generasi mudanya.
Kurator Wallacea Biennale Nabire, Fauzan Al Ayyuby, dalam wawancara khusus pada Kamis (8/10/2026), menjelaskan secara panjang lebar filosofi penamaan pameran, proses residensi para seniman, hingga harapan besar yang ingin dicapai melalui gelaran seni ini.
Fauzan mengungkapkan bahwa judul pameran “Loyang Tanah Goyang” lahir dari sebuah kisah nyata ketahanan warga lokal saat Gempa Nabire 2004 silam yang berhasil direkam oleh tim kuratorial melalui wawancara mendalam.
“Ini namanya Wallacea Biennale, sebuah pameran yang diselenggarakan di tujuh kota dan salah satunya berada di Nabire. Di Nabire, kami mengangkat tema gempa dengan judul ‘Loyang Tanah Goyang’. Judul ini kami ambil dari metafora saat kami mewawancarai seorang ibu di belakang rumah sakit. Ibu tersebut merelakan hasil kebunnya untuk dinikmati oleh tetangga-tetangga di sekitarnya karena pada saat bencana terjadi, hanya dia yang memiliki persediaan bahan makanan. Jadi ketika gempa, dia tidak lagi menjual hasil kebunnya, melainkan mengajak warga mengungsi ke kebunnya untuk makan bersama dan bertahan hidup. Kisah itulah yang kami pinjam menjadi tema besar pameran ini,” ungkap Fauzan Al Ayyuby.
Lebih jauh, Fauzan membeberkan proses keterlibatan tujuh seniman yang berasal dari luar dan dalam Kota Nabire. Bagi para seniman yang berasal dari luar daerah seperti Jayapura, proses residensi menjadi pintu masuk untuk menyelami secara langsung kondisi geografis dan sejarah kelam gempa yang pernah melanda Nabire, yang kemudian dituangkan ke dalam bahasa visual yang beragam.
“Kami ingin menyambungkan mereka dengan kota ini melalui isu bencana. Dari sana lahirlah karya-karya mereka; ada yang membahas tentang kelor, riwayat keberadaan benda, hingga masalah logistik. Seluruh proses ini sebenarnya merupakan cara kami untuk menghubungkan kembali pengetahuan sejarah kota ini kepada anak-anak muda, sebab pada saat gempa terjadi, banyak anak muda yang belum lahir. Pameran ini menjadi ruang rekonstruksi ingatan bagi generasi muda agar mereka menyadari bahwa kotanya berdiri di atas jalur guncangan tanah. Kesadaran inilah yang membentuk pola hidup warga, misalnya mengapa saat ini masyarakat lebih banyak menggunakan gelas plastik daripada gelas kaca di rumah mereka akibat trauma gempa,” paparnya.
Penggunaan media seni rupa, terutama karya instalasi, disengaja oleh tim kuratorial karena dinilai paling ampuh dalam menyampaikan pengetahuan sejarah tanpa terkesan menggurui. Menurut Fauzan, karya seni instalasi memiliki daya pikat visual yang sangat dekat dengan preferensi anak muda masa kini, sehingga transfer pengetahuan kebencanaan dapat mengalir secara alami.
“Di pameran seni rupa ini, kami mengajak para seniman menyajikan karya instalasi dengan berbagai macam eksplorasi media. Misalnya, Qalmi menggunakan media sketsa yang dipadukan dengan instalasi berbentuk tenda, sedangkan Febri mengeksplorasi manfaat kelor lewat bentuk instalasi ilustrasi dan pagar. Kami mengupayakan media pameran ini dekat dengan preferensi anak muda agar pengetahuan sejarah dapat terhubung melalui medium visual yang mereka sukai,” jelas Fauzan.
Tidak sekadar merekam trauma masa lalu, keberadaan pameran di gedung berlantai dua ini juga memicu refleksi atas ketakutan masyarakat terhadap bangunan bertingkat usai bencana gempa. Fauzan menekankan bahwa pameran ini bertindak sebagai pengingat kritis di tengah gempuran pembangunan infrastruktur di Papua Tengah, agar pembangunan di masa depan senantiasa memperhitungkan karakter fisik dan kontur tanah setempat.
“Gagasan ini sebenarnya berawal dari rasa takut orang-orang yang pernah mengalami gempa terhadap bangunan berlantai dua atau gedung bertingkat. Kami mempelajari bahwa trauma itu muncul karena banyak bangunan rubuh saat gempa melanda. Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur di Papua Tengah saat ini, kami ingin pameran ini menjadi pengingat mengenai bentuk, rupa, serta kontur tanah yang mereka tempati. Harapan kami, pengetahuan kebencanaan ini dapat menjangkau generasi muda yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan di masa kini dan masa depan. Pengetahuan tentang gempa ini hendaknya tidak berhenti sebagai memori trauma belaka, melainkan bertransformasi menjadi cara berpikir baru dalam merancang bangunan dan menjalani kehidupan di kota ini,” pungkas Fauzan Al Ayyuby.
Pekarangan Rumah Sebagai Penyelamat Saat Bencana
Sebagai salah satu seniman asal Nabire yang terlibat langsung dalam pameran ini, Belandina Yeimo membagikan kisah dan pesan mendalam di balik karyanya yang menggambarkan suasana pilu namun penuh harapan sesaat setelah gempa dahsyat melanda kotanya.

Belandina Yeimo dan dua lukisannya yang berjudul Yang Tersisa, Menopang Kehidupan dan Serumpun Pertahanan. (Foto: kristin Rejang/Sasagupapua)
“Jadi ini gambaran tentang suasana setelah gempa. Setelah gempa ini terjadi, otomatis seluruh akses transportasi, perbelanjaan, dan segala sesuatu pastinya terhenti total. Nah, di dalam karya ini kenapa ada noken, sosok ibu, dan anak? Sosok ibu di sini memegang peranan yang sangat penting dalam keluarga. Ibu adalah orang yang paling khawatir akan isi piring keluarganya. Karena itulah saya menaruh figur ibu dan anak di sini,” kata Belandina Yeimo saat menuturkan pesan di balik lukisannya.
Belandina menjelaskan bahwa kehancuran fisik akibat gempa yang selaras dengan tema “Loyang Tanah Goyang” bukanlah akhir dari segalanya. Di tengah puing-puing bencana, hadir simbol harapan yang diwakili oleh keberadaan sang anak sebagai generasi penerus yang harus terus dihidupi dan dilindungi.
“Setelah semua hancur, otomatis selalu ada harapan. Harapan itu adalah anak kecil ini, dia adalah generasi yang harus dihidupi. Sehingga ibu ini merasa sangat khawatir dan berpikir, apa yang harus ia lakukan untuk menghidupi anaknya? Otomatis hal pertama yang bisa dilakukan adalah mencari apa saja yang masih ada di sekitar pekarangan rumah. Sungguh beruntung bagi orang-orang yang memiliki kebiasaan bercocok tanam di pekarangan rumah mereka,” ungkapnya.
Simbol noken yang dipeluk dan dijangkau oleh figur ibu dalam lukisannya mengandung filosofi mendalam yang berakar dari kearifan lokal suku Mee, yakni ajaran Owaadaa.
“Ibu ini sedang memegang noken yang ada di atas dan mencoba menggapainya. Noken ini berisi seluruh hasil kebun yang ada di sekitar pekarangan rumah, seperti pisang, nanas, umbi-umbian, hingga sayur-sayuran. Kenapa saya menggunakan noken? Noken ini memberi pesan tentang gagasan awal yang saya ambil dari Owaadaa. Dalam tradisi suku Mee, orang tua dulu selalu menanamkan kebiasaan bercocok tanam di pekarangan rumah. Saya rasa penting sekali bagi kita untuk kembali menanamkan kebiasaan ini. Jadi pada saat bencana datang dan akses terputus, apa yang akan kita ambil? Otomatis apa yang ada di pekarangan rumah. Di belakang karya ini ada cahaya kuning keemasan yang berbicara tentang pendaran harapan yang terus muncul,” jelas Belandina.
Melalui lukisan dan penjelasannya, Belandina menegaskan pesan utama yang ingin ia sampaikan kepada seluruh masyarakat Nabire dan para pengunjung pameran, bahwasanya penyelamat utama di kala krisis sering kali berasal dari hal-hal paling dekat yang kita rawat sehari-hari.
“Saya rasa kita perlu untuk melihat kembali sekitar pekarangan rumah kita. Karena jika bencana terjadi, satu-satunya hal yang pertama kali akan menyelamatkan kita adalah apa yang sudah kita jaga dan kita rawat di sekitar kita,” tegas Belandina Yeimo menyampaikan pesan kunci dari karyanya.
Penulis: Kristin Rejang


