SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Pemerintah Provinsi Papua Tengah sukses menggelar rangkaian kegiatan dalam rangka menyambut Hari Jadi Provinsi Papua Tengah ke-4 yang jatuh pada 25 Juli mendatang.
Salah satu agenda yang menyedot perhatian masyarakat adalah kegiatan nonton bareng (nobar) Final Piala Dunia yang berlangsung di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah (Bandara Lama Nabire) pada Minggu (19/7/2026) hingga Senin (20/7/2026).
Mengusung tema “Melalui Bola Gembira Kita Tingkatkan Ekonomi Rakyat Papua Tengah,” acara ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersukacita sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Kemeriahan nobar ini semakin lengkap dengan penampilan panggung dari para musisi lokal Papua, salah satunya Amoye Band dan grup musik Kanguru Akustik.
Vokalis Amoye Band, Aten Tebai, menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
Menurutnya, langkah pemerintah menyandingkan musisi lokal dengan momentum sorotan dunia seperti Piala Dunia merupakan bentuk dukungan nyata dalam membangun identitas musisi Papua.
“Pertama, apresiasi yang sebesar-besarnya untuk Pemerintah Provinsi Papua karena kegiatannya sangat positif sekali. Ada satu kebanggaan karena ini membangun identitas kami sebagai musisi lokal. Pemerintah berusaha menyandingkan musisi lokal dengan sorotan dunia, yakni Piala Dunia. Kita bisa menyatukannya dan membuktikan bahwa kita tidak kalah,” ujar Aten Tebai.
Aten menambahkan bahwa panggung besar seperti ini menjadi peluang emas bagi musisi daerah untuk menunjukkan talenta di hadapan ribuan pasang mata.
Ia juga berharap, musisi lokal tidak hanya ditempatkan sebagai pengisi acara selingan, melainkan diutamakan dalam setiap panggung-panggung besar yang diselenggarakan pemerintah.
Terkait dukungan, Aten mengajak masyarakat untuk memberikan apresiasi yang nyata saat musisi lokal tampil.
Menurutnya, hal sederhana seperti memberikan tepuk tangan, ikut bernyanyi bersama, hingga mendokumentasikan serta membagikan penampilan musisi ke media sosial sangat berarti untuk meningkatkan semangat para seniman.
Aten juga menaruh harapan agar pemerintah ke depan dapat memfasilitasi kebutuhan mendasar para musisi, seperti ketersediaan alat musik dan studio latihan yang memadai, sehingga generasi muda Papua dapat terus berkembang dan beregenerasi.
“Banyak anak-anak memiliki talenta, namun wadahnya yang kurang. Harapan kami, pemerintah bisa menyediakan fasilitas seperti alat musik dan tempat studio yang layak. Pengalaman kami dulu sampai harus meminjam alat di gereja dan dikejar-kejar pendeta, itu adalah proses. Kami ingin anak-anak muda saat ini, generasi baru, punya fasilitas untuk berlatih agar nanti ada generasi yang mahir bermain bas, saksofon, dan alat musik lainnya,” tutur Aten.
Lebih lanjut, Aten Tebai menegaskan peran krusial musisi dalam merajut harmoni di tengah masyarakat. Baginya, jika sepak bola mampu menyatukan berbagai negara di dunia, maka musik memiliki kekuatan untuk menyatukan hati masyarakat Papua. Melalui lirik dan lantunan musik yang memiliki “roh”, musisi dapat merangkul berbagai pendapat dan perbedaan idealisme menjadi satu kesatuan yang utuh.
Dalam kesempatan tersebut, Amoye Band juga membawakan lagu legendaris “Persipura” karya Black Brothers sebagai bentuk penghormatan. Pemilihan lagu ini bukan tanpa alasan; Persipura dianggap sebagai ikon sepak bola yang telah melekat di hati masyarakat Papua, sejajar dengan posisi grup musik legendaris Black Brothers di kancah seni.
“Film saja jika tidak ada backsound akan terasa kurang. Musik adalah pelengkap yang menyatukan. Persipura adalah ikon sepak bola di hati masyarakat Papua, begitu pun Black Brothers di dunia musik. Kami mengangkat lagu ini untuk memberikan semangat bagi tim-tim sepak bola di Papua seperti Persipani dan Persinab. Semangatnya harus dijaga, supaya mereka lebih maju dan memiliki nama besar di hati masyarakat Papua seperti halnya Persipura,” tutup Aten.
Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Roberta Muyapa dari Kanguru Akustik yang turut tampil memeriahkan acara. Meski kelompok musiknya tergolong baru, ia merasa bangga dapat dilibatkan dalam perayaan sebesar ini.
“Kanguru Akustik baru berjalan kurang lebih tujuh bulan ini, tapi dengan umur ini kami merasa bangga karena Pemprov dapat mengundang kami untuk terlibat langsung dalam acara euforia Piala Dunia dan menyambut hari lahir Papua Tengah,” ungkap Roberta.
Menurut Roberta, kegiatan berskala besar seperti ini sangat vital bagi seniman lokal. Ia berharap pemerintah terus menghadirkan panggung-panggung serupa agar musisi Papua memiliki ruang untuk berkarya.
“Iven-iven seperti ini adalah ajang para seniman musisi Papua dapat mengekspresikan karya-karya yang sudah ada dan dapat dinikmati di seluruh elemen masyarakat. Kerinduan kami panggung ini terus ada, dan dapat melahirkan musisi-musisi Papua yang baru lagi,” tambahnya.
Penulis: Kristin Rejang