SASAGUPAPUA.COM, Nabire – Gelaran Papua Reggae Festival (PRF) ke-XI siap menghentak Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Festival musik berskala regional ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, mulai Jumat (16/10/2026) hingga Sabtu (17/10/2026), dengan menghadirkan 36 band dan musisi dari berbagai daerah di Tanah Papua yang akan membawakan lagu berbalut bahasa daerah Papua.
Ketua Panitia PRF XI, Ema Dogomo, memastikan seluruh persiapan tempat dan teknis panggung telah rampung untuk menyambut pembukaan besok.
“Acara akan dilaksanakan besok. Persiapan kami, terkait persiapan panggung dan lain-lain ini semua sudah. Untuk peserta-peserta juga ada yang sudah datang dan untuk sebentar malam juga nanti ada yang datang tim rombongan besar,” ujar Ema Dogomo saat diwawancarai di Nabire, Kamis (15/10/2026).
Perjalanan para peserta menuju lokasi festival sejatinya tidak lepas dari tantangan penerbangan dan cuaca. Namun, Ema mengapresiasi semangat para musisi daerah yang tetap gigih menembus berbagai hambatan demi menyukseskan gelaran ini.
“Memang teman-teman yang dari beberapa kabupaten ini ada terkendala dengan pesawat dan cuaca yang ada. Tapi memang semangat teman-teman dari daerah ini juga membuat kami panitia ini menjadi semangat juga. Karena memang sekalipun ada kabut asap, ada halangan apa pun, mereka tetap berusaha sampai datang ke Papua Tengah di Nabire untuk melaksanakan event ini. Tapi untuk kami panitia, kami siap untuk melaksanakan event ini,” ungkap Ema.
Pada H-1 menjelang pembukaan, aktivitas di lokasi acara diwarnai dengan penataan check sound dan gladi resik untuk penampilan seremonial.
“Untuk H-1, banyak ada beberapa tim-tim juga yang sudah check sound untuk melakukan persiapan. Sementara dilakukan gladi resik juga terhadap beberapa penampilan-penampilan untuk yang seremonial juga kita sudah siapkan semua,” tambahnya.
Keunikan penampilan puluhan musisi yang membawakan lagu daerah ini juga digadang-gadang bakal memecahkan rekor nasional dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
“Hasil dari koordinasi kami untuk Rekor MURI ini, tim dari Rekor MURI Jakarta nanti besok direncanakan tiba di Papua Tengah di Nabire. Dan tim ini akan mengikuti kegiatan sama-sama dengan kami hingga selesai dan pada saat selesai semua kegiatan baru nanti dianugerahkan kepada kami untuk rekor MURI-nya,” kata Ema menjelaskan.
Adapun penganugerahan rekor tersebut menyasar kategori pertunjukan musik yang membawakan lagu reggae terbanyak. Penghargaan ini nantinya direncanakan untuk dipersembahkan kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah serta Komunitas Rasta Kribo (KORK).
“Untuk kategorinya ini memang dari Rekor MURI adalah pertunjukan musik membawakan lagu reggae terbanyak. Jadi memang untuk rekor MURI ini dikarenakan kami pelaksanaannya adalah dukungan dari Pemprov, sehingga untuk Rekor MURI ini rencananya akan kami berikan kepada pemerintah provinsi dan juga kepada komunitas KORK Papua,” jelasnya.
Selain panggung hiburan, panitia juga menaruh perhatian besar pada penataan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan memfokuskan tempat berjualan utama bagi para pedagang Orang Asli Papua (OAP).
“Iya, memang untuk kegiatan dari UMKM sendiri, dari event dari tahun ke tahun memang untuk pelaksanaan UMKM kita memfokuskan pada mama-mama yang pelaku UMKM yang Orang Asli Papua. Tapi untuk teman-teman dari pelaku UMKM dari Nusantara, silakan datang berjualan tapi dengan tempat yang mungkin agak jauh dari tempat jual mama-mama yang melaksanakan penjualan UMKM,” terang Ema.
Ema Dogomo mengimbau masyarakat Nabire maupun pengunjung dari luar daerah untuk bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan selama festival berlangsung. Ia menekankan bahwa festival ini murni wadah ekspresi seni dan kreativitas anak muda Papua.
“Besok kegiatan ini kita datang dengan menampilkan pertunjukan dari teman-teman musik dan pertunjukannya adalah murni kami seniman murni para musisi yang akan tampil. Bagi masyarakat yang mau datang menyaksikan, silakan. Dan kita menjaga ketertiban, kita punya kegiatan ini bersama-sama. Karena inilah ruang kami, bagaimana anak-anak muda Papua berkreasi dan membangun. Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang justru merugikan kami panitia dan juga masyarakat umum, sehingga ke depan-ke depannya ada event-event seperti begini kami juga bisa dipercaya untuk melaksanakan event. Jadi yang datang, mari kita jaga keamanan bersama. Keamanan bukan hanya tugas panitia, tetapi bagi setiap masyarakat Nabire atau Papua Tengah ataupun dari luar, kita sama-sama menjaga keamanan pada saat pelaksanaan event Papua Reggae Festival kesebelas ini,” pungkas Ema.