Site icon sasagupapua.com

Papua Reggae Festival XI Siap Menjadi Panggung Pembuktian Musisi Lokal Menuju Dunia

Ketua KORK Papua, Thedy Pekey, Ketua Panitia PRF ke-IX Emma Dogomo, Artis Reggae Papua, Dave Baransano. (Foto: Edwin Rumanasen/Sasagupapua)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah –  Kabupaten Nabire, jantung Provinsi Papua Tengah, bersiap menjadi pusat perhatian pecinta musik reggae se-Tanah Papua pada Oktober mendatang. Papua Reggae Festival (PRF) ke-11 dipastikan akan digelar di kota ini dengan misi besar: menegaskan kedaulatan musisi lokal di rumah sendiri dan membuka gerbang menuju panggung internasional.

Semangat Anak Daerah di Balik Layar PRF XI.

Dalam momen Peluncuran Papua Reggae Festival di Nabire, Jumat (27/3/2026), Ketua Panitia PRF XI, Emma Dogomo, menyatakan kesiapannya memimpin perhelatan besar ini didorong oleh rasa bangga sebagai anak asli Papua Tengah.

Kepercayaan ini bermula saat estafet tuan rumah diserahkan dari Papua Pegunungan kepada Papua Tengah. Tantangan tersebut dijawab dengan optimisme tinggi bahwa Nabire mampu menyelenggarakan festival yang jauh lebih meriah.

“Saya sebagai anak dari Papua Tengah sendiri, ketika event PRF ke-10 di Papua Pegunungan, kami ditanya apakah Papua Tengah siap? Di situ saya bilang kita siap! Kita anak Papua Tengah ada!” ujar Emma Dogomo dengan penuh semangat.

Emma menekankan festival ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan ruang pembuktian bagi puluhan band lokal yang selama ini kurang mendapatkan tempat di acara-acara pemerintah. Ia menyuarakan kegelisahannya terhadap tren mengundang artis dari luar Papua yang justru memakan biaya besar namun mematikan kreativitas anak daerah.

“Dari Papua Tengah kami ada 20 band yang sudah siap, anak-anaknya punya kemampuan. Jadi ketika pihak lain mau mengadakan event, panggillah anak-anak yang kita sudah berikan panggung ruang untuk tampil di situ. Jangan kita panggil dari luar terus, sehingga lagu-lagu kita terkenal dan anak-anak jadi semangat menciptakan karya,” tegas Emma.

Magnet Ekonomi dan Diplomasi Budaya Reggae

Senada dengan Emma, Ketua Komunitas Musisi Papua (KORK), Thedy Pekei, menjelaskan bahwa PRF telah bertransformasi menjadi event musik terbesar di Tanah Papua sejak pertama kali digelar tahun 2010. Untuk edisi ke-11 ini, diperkirakan lebih dari 40 grup band reggae dari Sorong hingga Merauke akan berkumpul di Nabire.

“Tujuan dari penyelenggaraan Papua Reggae Festival adalah ini event terbesar di Tanah Papua. Kami akan hadirkan seluruh grup reggae dari seluruh Tanah Papua. Estimasinya pada Oktober nanti sekitar tanggal 18–19, namun akan kami sesuaikan agar tidak mengganggu hari kerja pegawai,” jelas Thedy Pekei.

Selain aspek seni, Thedy menyoroti dampak ekonomi nyata yang dibawa oleh festival ini. Menurutnya, PRF adalah instrumen investasi pajak dan penggerak ekonomi modern bagi masyarakat lokal melalui perputaran uang di sektor jasa dan pariwisata selama dua hari penyelenggaraan.

“Kita sedang membangun sebuah ekonomi yang lebih modern buat orang Papua. Income pajak yang terbesar akan didapatkan pada bulan Oktober nanti, silakan lihat di Dispenda. Perputaran rupiah akan sangat besar di Kabupaten Nabire ini. Kami berharap dukungan semua pihak, karena hari ini kita sedang membina seniman Papua untuk go international,” tambahnya.

Jakarta Bukan Ukuran, Internasional Adalah Tujuan

Kritik tajam sekaligus motivasi besar datang dari musisi reggae kenamaan Papua, Dave Baransano. Baginya, PRF XI harus menjadi momentum bagi musisi Papua untuk berhenti berharap pada industri musik di Jakarta yang menurutnya masih memandang seniman Papua sebagai “manusia kelas dua”.

“Kalau ditanya harapan saya kepada teman-teman musisi, menyanyilah dengan lagu sendiri. Kita mau terkenal di Jakarta tidak akan sampai, lebih baik kita terkenal di luar negeri karena Jakarta punya sistem sendiri. Hari ini kita bikin event reggae di Papua, kita bisa undang artis dari Jakarta. Tapi dorang bikin event di Jakarta, dorang tidak pernah undang artis dari Papua,” ungkap Dave.

Dave yang telah melanglang buana ke berbagai festival musik di Eropa hingga Asia ini mendorong para musisi muda untuk melihat pasar global yang lebih terbuka terhadap keunikan identitas Papua. Ia sepakat dengan panitia bahwa ketergantungan pada artis luar hanya akan menutup pintu bagi talenta lokal untuk berkembang.

“Setelah Dave Baransano pergi ke luar negeri, Jakarta tidak ada ukuran bagi saya. Ukuran kita musisi Papua bukan Jakarta, tapi internasional! Kita bicara pemberdayaan masyarakat, tapi kita sendiri bikin salah karena terus menyumbang untuk mengundang artis luar sementara pintu untuk lokal tertutup. PRF ini berdiri karena cinta, bukan sekadar uang,” pungkas Dave.

Berikan Komentar
Exit mobile version